Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
ANOMALI


__ADS_3

Aku parkirkan "Thor" di pinggir jalan sebelum jembatan, kurang lebih tiga ratus meter dari rumahku. Aku memilih berjalan kaki melewati persawahan, karena aku berpikir mungkin saja rumahku saat ini sedang digunakan untuk ritual atau semacamnya oleh Mbah Kadir. Mengingat tiba-tiba saja kemarin malam keluargaku harus pindah ke toko setelah Bapak bertemu dengan Mbah Kadir. Pasti ada sesuatu. Makanya aku nggak mau suara "Thor" membuat pengintaianku malam ini berakhir dengan kegagalan.


Kulirik jam tangan, jam delapan kurang seperempat. Rembulan bersinar terang, membuat hijau nya persawahan terlihat begitu jelas. Semakin dekat dengan rumah, aku semakin berhati-hati dalam melangkah. Aku berjingkat-jingkat agar tidak ada suara yang terdengar dari setiap langkahku. Lampu rumah nampak menyala terang, namun pintu depan tertutup rapat. Tidak terlihat ada aktivitas apapun dari rumah ini. Tidak ada yang berubah, masih sama seperti saat tadi malam aku dan keluargaku pergi ke toko.


Aku memasuki halaman rumah, angin semilir terasa dingin menerpa tengkukku. Samar-samar terdengar suara orang bercakap-cakap di dalam rumah. Siapa? Aku menajamkan pendengaran dan penglihatanku. Samar-samar di balik jendela yang tertutup tirai, terlihat bayangan dua orang sedang berdiri berhadapan-hadapan.


" . . . kemis wage tolu . . . seneng . . .", suara seperti seorang perempuan.


"minggat o . . . ", suara seorang laki-laki, seperti suara Mbah Kadir.


Ada dua suara, seorang laki-laki dan perempuan, seperti sedang berdebat. Tak terdengar jelas apa yang mereka perdebatkan. Hanya sepotong-sepotong yang terdengar, dan aku nggak memahaminya. Aku perlu lebih dekat lagi. Meskipun ada sedikit rasa takut di benakku, namun aku harus memastikan siapa yang saat ini di rumahku, dan apa yang mereka bicarakan.

__ADS_1


Setelah kupikir-pikir, kenapa aku harus mengendap-ngendap di rumahku sendiri. Mereka yang sedang di dalam rumahku tanpa izin itu lah yang seharusnya merasa takut, kenapa aku takut untuk pulang ke rumahku sendiri. Brengsek, aku merasa jadi orang bodoh. Aku berdiri bersiap untuk melangkah mendekat ke rumah, menarik nafas panjang dan bersiap melabrak dua orang di dalam.


Baru saja kaki ku melangkah maju satu langkah, pundakku di cengkeram erat dari belakang. Siapa nih? Komplotan orang yang di dalam kah? Sial, aku gegabah sepertinya. Tapi kepalang tanggung, dengan luka lebam di wajah bekas hantaman Iwan, aku bersiap untuk gelud lagi malam ini.


Aku bergerak melepaskan diri dari cengkeraman tersebut, berbalik arah, dan pasang kuda-kuda siap menyerang. Tapi, kuda-kuda yang aku lakukan melemah seketika. Lututku seperti kehilangan urat-uratnya, lemas tak bertenaga. Apa yang aku lihat di depanku bukanlah musuh yang bisa aku pukul. Tengkukku terasa sangat dingin secara instan, namun keringat di dahi mulai menetes. Tubuhku mengalami apa yang disebut anomali. Karena yang dihadapanku sekarang jelas juga merupakan sebuah ke anomali an alam.


Lik Jo berdiri di depanku, menatapku dengan cekungan mata yang hitam dan dalam. Terlihat kulitnya yang pucat pasi dengan rambut yang nampak basah. Seutas tali terikat di lehernya. Tali yang digunakannya untuk gantung diri. Lik Jo si tukang pijit yang telah mati, kini ada dihadapanku. Lehernya yang patah terlihat membiru, tertekuk ke kanan. Kepalanya bergerak-gerak mencoba menegakkan lehernya kembali.


Terdengar ruas tulang leher saling beradu, ketika kepalanya bergerak. Aku merasa ngilu sendiri. Keberanian yang sudah aku persiapkan untuk menghadapi "manusia" ternyata menciut ketika berhadapan dengan dedemit. Aku mencubit pahaku sendiri, agar kaki ku ini tersentak untuk bergerak. Satu cubitan keras seperti menjadi pemantik untuk kaki ku segera bergerak. Aku berlari tunggang langgang. Saking paniknya aku berlari nggak tentu arah. Aku lompat ke sawah. Keputusan yang bodoh. Karena tanah sawah yang berlumpur membenamkan kakiku. Jangankan berlari, berjalan saja susah.


Kecipak Kecipak Kecipak

__ADS_1


Suara kaki ku melepaskan diri dari lumpur sawah. Aku ngos-ngosan, tenagaku terkuras, badanku penuh cipratan lumpur. Tanganku menyibak padi padi yang sudah cukup tinggi daunnya, terasa perih tergores kasarnya tepian batang dan daun padi. Aku menoleh ke belakang, terlihat Lik Jo berdiri mematung menghadap ke rumah, seperti tak peduli denganku yang berlari menjauh. Sepertinya makhluk itu nggak berniat mengejarku.


Namun aku salah, tiba- tiba kepala Lik Jo terputar, menghadap ke arahku. Sementara badannya masih menghadap ke arah rumah, sebuah senyuman nampak tersungging di bibirnya. Siaaalll, aku harus lari, ayo kaki, ayo, lebih cepat lagi lebih cepat lagiii. Aku berlari sambil terus menoleh ke belakang mengawasi Lik Jo.


Kepala "dedemit" Lik Jo yang terputar tadi, terlihat terputus dan jatuh ke tanah. Aku semakin ngeri, namun aku nggak mampu berlari dengan cepat, dadaku sesak. Oksigen mana oksigeenn? Apakah malam ini terlalu banyak karbondioksida di udara? Badan tanpa kepala Lik Jo terlihat membungkuk, tangannya meraba-raba tanah, mencari kepalanya. Tangan itu berhasil memegang kepala buntungnya, dan dengan satu gerakan melemparkan potongan kepala itu ke arahku.


Bruaakkk


Tepat, kepala dedemit itu, menghantam kepalaku. Aku tersungkur, jatuh terjerembab ke dalam lumpur. Mataku berkunang-kunang. Aku mulai hilang kesadaran. Samar-samar kulihat di sebelahku wajah Lik jo tersenyum dengan tali masih terikat di leher, dan perlahan, wajah itu terbenam dalam lumpur. Bersamaan dengan itu kesadaranku pun juga ikut terbenam.


 

__ADS_1


__ADS_2