
Irul menggandengku, mengajak aku turun kembali.
"Dasar kunyuk! Aku khawatir denganmu. Berhari hari tak nampak batang hidungmu di kampus. Ku telepon pun nggak mbok angkat. Nggak tahunya kamu lagi asyik-asyik an sama cewek. Brengsek!", Aku mengumpat sejadi jadinya mengingat betapa bodohnya aku mengkhawatirkan manusia satu ini. Si kunyuk Irul hanya cengar cengir.
"Duduk dulu duduk dulu. . .tenang tenang, selloowww", Irul menepuk nepuk sofa dan memintaku untuk duduk. Sekarang aku dan Irul berada di lantai satu. Sementara gadis yang bersama si kunyuk Irul tadi, dia tinggalkan duduk menonton tv di ruangan atas.
"Biii. . .buatkan jus jeruk untuk sahabatku satu ini", Irul memanggil Bibi.
"Baik Mas, maafin Bibi ya mas, tadi temennya langsung lari ke atas tanpa bisa Bibi cegah", terlihat raut wajah Bibi ketakutan, merasa bersalah. Aku jadi nggak enak hati sama Bibi.
"Iya Bii. . . nggak pa pa, santai saja", Irul terkekeh, Bibi segera mundur teratur menuju dapur.
"Aku nggak sudi minum minum an darimu Nyuk. Kamu pasti mau ngasih mantra dari Febi itu kan?", Aku menatap Irul, serius.
"Bro. . . soal itu bisa nggak, kamu setidaknya mencoba membuka hatimu untuk Febi", Irul balik menatapku.
"Hah? Memangnya aku kayak kamu? Tiap cewek tiap gadis kamu pacari ", Aku mulai jengkel.
"Kamu nggak ngerti betapa ngerinya urusan sama Febi. Dia udah gendeng broo", Irul berbisik.
"Asal kamu tahu . . .aku nggak berani ke kampus, karena aku menghindari Febi", irul masih setengah berbisik, dia serius kali ini.
"Kenapa kamu begitu takutnya sama Febi? Hah? Apa sih sebenarnya yang terjadi Nyuk?", Aku terus mencecar Irul dengan pertanyaan.
"Kamu belum tahu apa yang terjadi pada Iwan?", Irul balik bertanya padaku, mengerutkan keningnya.
"Iwan? Iwan. . . jadi gila. Dan itu juga yang hari ini membuatku berlari kemari. Karena aku khawatir denganmu, entah mengapa akhir akhir ini orang yang bermasalah denganku menjadi sial. Eh, darimana kamu tahu soal Iwan Rul?", Aku melotot, menyadari seharusnya Irul belum mengetahui kejadian Iwan mengamuk di pos satpam tadi.
"Itu semua ulah Febi Nyuk. Dia udah gendeng", Irul kembali berbisik.
"Hah?", Aku tak mampu berkomentar. Sebelumnya memang aku sudah menduga, namun hanya sebuah praduga tanpa dasar yang aku sendiri nggak mau mempercaiyanya.
"Kamu tahu, Febi begitu terobsesi padamu. Dia sudah nggak waras. Kupikir, ini semua bakal berakhir jika kamu mau mencoba bersamanya" Irul kembali menatapku, serius.
__ADS_1
"Ogah. Kamu memintaku untuk pacaran sama orang yang katamu nggak waras?", Aku menggeleng gelengkan kepalaku.
"Aku kasih tahu sama kamu. Aku sudah menyewa ada sekitar tiga orang sakti untuk memagari rumahku ini. Dan keluargaku sudah mengurus kepindahanku ke luar dari pulau jawa. Aku sebentar lagi pindah", Irul menghela nafasnya.
"Apa maksudmu nyuk? Jelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?", Aku nggak ngerti dengan apa maksud Irul.
Bibi datang membawa jus jeruk, seakan iklan saat kita menonton acara tv yang lagi seru serunya.
"Mas, ini minumnya", Kata Bibi ramah, meletakkan dua gelas jus jeruk kemudian kembali masuk ke dapur.
Irul menarik nafas dalam dalam.
"Sebenarnya, beberapa hari setelah aku menginap di rumahmu itu, aku bertemu Febi di kampus. Seperti biasa cewek itu terlihat seperti berbicara sendiri. Tiba tiba saja dia memanggilku. Mengatakan padaku dia bisa membantuku mendapatkan gadis manapun yang aku mau. Asalkan, aku mau membantunya mendapatkan kamu", Irul menghela nafas.
"Hah? Jadi kamu semacam menjualku Nyuk? Brengsek!" , Aku geram mendengar cerita Irul.
"Sabar dulu sabar. Awalnya ku kira kamu memang ada hati lah sama dia. Siang itu kamu kan nyari nyari Febi sampek ke ruang BEM itu. Terus beberapa hari setelahnya, Febi ngabari aku kalau kalian mau jalan jalan berdua. Aku disuruhnya mengambil foto. Dan memang kenyataannya kalian berboncengan mesra kok", Irul berkilah mencoba membela diri.
"Ya setelah itu tak pikir oke lah, aku siap mbantuin Febi. Kalian terlihat cocok juga kok. Makanya aku mau saja di suruh ngirim foto itu ke Hasan pake akun Sogo Girl", Irul mengambil jus di meja, lalu menenggaknya.
"Terus, kamu dapat imbalan bisa memikat cewek cewek yang kamu mau gitu?", Aku terus mendesak Irul untuk menceritakan semuanya.
"Ya, begitulah. Tapi aku terjebak. Aku terus menerus jadi pesuruh Febi", Irul menghabiskan jus jeruk di gelasnya, terlihat benar benar kehausan.
"Untuk bisa memikat cewek cewek yang aku mau, aku disuruh minum air yang berisi segumpal rambut Febi. Aku harus menelan semuanya ", Irul memperlihatkan ekspresi jijik.
"Gendeng", Aku bergumam sendiri.
"Ya, memang gendeng. Tapi setelahnya, cewek cewek cantik, bahkan primadonanya kampus pun bertekuk lutut padaku. Kamu nggak tahu kan, aku sudah berkencan dengan banyak gadis akhir akhir ini", Irul tersenyum.
"Tapi ternyata, hidup nggak se asoy itu nyuk. Ada yang harus kubayar untuk mendapatkan semua itu. Aku nggak boleh membantah apapun perintah Febi. Apapun itu. Jadi selama ini aku jadi jongosnya Febi. Aku semakin dekat bersahabat denganmu pun itu salah satu perintah Febi. Aku disuruhnya memata mataimu. Aku harus laporan padanya. Dan saat dia tahu kamu dihajar Iwan, dia marah, dia membalasnya nyuk. Dia meneror Iwan, mengirim teluh padanya. Hingga dia jadi sperti sekarang", Irul terlihat berkeringat.
"Aku pernah meminta pada Febi untuk membatalkan perjanjianku dengannya. Kamu tahu apa yang terjadi Nyuk? Aku batuk, darah dan helaian rambut keluar dari tenggorokanku. Akhirnya aku menyewa orang pintar untuk menyembuhkanku. Dan solusinya adalah aku harus pergi dari rumah ini, meninggalkan pulau jawa dengan syarat jangan lewat jalur laut. Semua sudah diatur, lusa aku akan terbang, pindahan. Perjanjian dengan Febi baru bisa dibatalkan", Irul menyandarkan badannya ke sofa.
__ADS_1
"Aku dilarang keluar rumah. Rumah ini dipagari agar teluh dan sebagainya nggak bisa masuk. Makanya aku nggak ke kampus", Irul mendongakkan kepalanya menatap langit-langit.
"Aku nggak tahu nyuk, kenapa Febi bisa jadi seperti itu. Aku harus menyewa setidaknya tiga orang pintar untuk melindungiku. Dia bukan Febi lagi Nyuk. Cewek itu sudah bukan menungsa lagi kayak e", Irul mengakhiri ceritanya.
"Ceritamu kayak khayalan saja Rul. Aku nggak yakin dengan apa yang kamu sampaikan", Aku mencoba berpikir logis, meskipun banyak hal di luar nalar yang telah aku lalui.
"Terserah kamu, percaya atau nggak. Mungkin hal ini nggak akan terjadi kalau kamu mau membuka hatimu untuknya Dan. Padahal Febi waktu itu bercerita dengan bangganya, kalian sudah berciuman", Irul melihatku sinis.
Sial. Aku nggak bisa membantah kalimat Irul kali ini. Karena memang kenyataannya demikian adanya.
"Rul, sekarang jawab aku. Apakah Febi juga yang mencelakai Erni?", Aku menatap Irul tajam
Irul terlihat memperbaiki posisi duduknya.
...* * *...
*Terimakasih untuk yang sudah membaca Rumah di tengah sawah
Nggak nyangka bisa sampai chapter 70 an, awalnya saya pikir akan tamat di chapter 50
Mohon maaf apabila frekuensi update yang nggak tentu
Mohon maaf apabila banyak kalimat yang masih belum bisa dimengerti
Atau mungkin cerita yang terkadang terasa absurd
Satu lagi, untuk temen temen saya yang kebetulan baca, i'm so sorry mengambil nama nama kalian untuk di pake di karakter karakter dalam cerita ini
Kritik, saran dan komentar tetap saya nantikan untuk perbaikan tulisan ataupun cerita cerita saya selanjutnya
Tak ada gading yang tak retak, tapi tulisan saya kebanyakan retaknya 😀😀😀
Matur nuwun*
__ADS_1