
Dering alarm menyadarkanku. Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Nyawaku belum sepenuhnya terkumpul. Aku sempat toleh kanan dan kiri, mengingat-ingat sekarang aku lagi dimana. Oh iya, baru sadar, aku kan menginap di rumah si Irul. Sang tuan rumah masih tidur pulas. Posisi tengkurap tapi bisa ngorok dengan sangat cetar, dasar manusia semprul.
Kuraih HP di atas meja, kulihat di layar ada lima panggilan tak terjawab. Kubuka dan kulihat, nama Nita disana. Ngapain nih anak, tumben-tumbenan telepon. Mungkinkah mau menceramahiku juga soal Febi? Mau ikut-ikutan Erni juga nih kayaknya. Mereka kan tiga serangkai sahabat bagai kedondong. Oh iya, mungkin Erni kemarin ke rumah Nita ya, kenapa aku nggak kepikiran dan langsung menuruti firasatku yang nggak jelas untuk datang ke kampus, tengah malam pula. Kutimbang-timbang, telepon balik Nita nggak ya? Ah, males, nanti saja deh. Mendingan aku mandi.
Fasilitas kamar mandi di rumah Irul berbeda tiga ratus enam puluh derajat jika dibandingkan dengan di rumahku. Shower, bathtub, serba mewah dan pastinya bikin betah berlama-lama di kamar mandi. Irul benar-benar anak sultan. Kunikmati pancuran air hangat, ditengah dinginnya udara pagi. Kalau saja ini di rumah sendiri, pasti aku bersenandung sekencang-kencangnya. Uoo Uooo . . .
Dok dok dok . . .
Suara pintu diketuk, membuyarkan kesenanganku.
"Dan, Dani", Suara Irul di antara bunyi pintu diketuk.
"Oek, ada apa?", Aku masih melanjutkan mandi nikmat ku (udik banget ya, nggak pernah tahu shower air anget nih)
__ADS_1
"Cepetan, gawat darurat ini!", Irul setengah berteriak.
"Halah, kebelet ye? Kan kamar mandi yang lain ada nyuk, rumahmu kayak hotel kok", Aku masih tidak menggubris panggilan Irul.
"Mbahmuu, penting ini! Kita harus segera ke kampus. Eh, ke rumah sakit. Ayookk!", Irul kali ini berteriak, sedikit membentak.
Aku menghentikan mandiku. Berpikir sejenak, apa yang Irul katakan? Ke kampus? Ke rumah sakit? Ngapain? Lagi, perasaanku nggak enak. Cepat-cepat kusambar handuk di gantungan baju. Membelitkannya ke bagian bawah tubuhku. Bergegas membuka pintu. Meminta penjelasan pada Irul apa yang sudah dikatakannya tadi.
"Nanti aku jelasin, pokoknya ayo cepet kita nyusul Nita ke rumah sakit", Irul menggandeng lenganku, mengajak bergegas. Adegan yang tidak enak jika dilihat orang lain. Aku yang hanya memakai "kemben" handuk, berlari digandeng Irul.
Irul bergegas memintaku memakai baju, sementara dirinya langsung mengenakan jaket dan menyambar kunci motornya. Nampak jelas dia sedang sangat terburu-buru. Selesai berpakaian aku langsung menyusul Irul yang sudah bersiap di atas motornya. Belum sempat dia menghidupkan motornya, kurebut kunci motornya.
"Apa sih Dan, cepetan sini kuncinya!", Irul sedikit membentak, ingin merebut kembali kunci motornya.
__ADS_1
"Eits, aku balikin kuncimu. Tapi jelasin dulu, ada apa di rumah sakit? Siapa yang sakit?", Aku melotot, menuntut penjelasan.
"Erni yang sakit. Tadi Nita telepon kamu, tapi nggak kamu angkat. Terus dia nelepon aku, ngasih tau aku, kalau Erni sedang kritis. Nita cuma ngomong gitu tok tadi, pokoknya kita harus cepet nyusul Nita ke Rumah Sakit sekarang", Irul merebut kunci motornya.
Aku hanya terbengong mendengar penjelasan Irul. Erni? Sakit? Kritis? Kenapa? Kok bisa? Dengan segudang pertanyaan yang muncul dibenakku, aku langsung naik di jok belakang motor Irul.
"Cepeettt! Ngebut Ruull!", Aku menepuk pundak Irul, kencang.
"Sabar! Makanya kan aku udah ngomong tadi, jelasin e nanti saja, budhal sek penting!", Irul memakai helmnya, tergesa-gesa.
"Nggak usah banyak ceramah, cepet gas nyuukk!", Aku mengguncang-guncangkan bahu Irul, tak sabar.
Saat ini aku sungguh belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Roda takdir sekali lagi berputar ke arah yang berbeda dari keinginanku. Aku mendongak melihat langit, mempertanyakan kejadian apa lagi yang siap menyambutku nanti???
__ADS_1