Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Babak Belur


__ADS_3

Aku langsung menubruk Iwan, dan memukulinya membabi buta. Cewek yang bersama Iwan menjerit histeris, sementara pengunjung warnet yang lain hanya menonton tanpa tahu harus berbuat apa. Iwan melindungi bagian wajahnya dari amukanku. Setelah beberapa saat dia berhasil mencengkeram leherku. Karena memang secara postur aku kalah jauh darinya, dengan cukup mudah dia mendorongku dengan tenaganya, dan berganti mengunciku di bawahnya. Beberapa pukulan telak menghantam wajahku. Dan kali ini aku benar-benar menjadi samsak baginya.


"Apa maumu brengsek!", Iwan mencengkeram kerah bajuku.


Aku kehabisan tenaga, nafasku tersengal sudah tak mampu lagi melawan. Hanya tatapan penuh kebencian yang bisa aku lakukan sekarang.


"Laki-laki brengsek kayak kamu, nggak pantes dapetin Erni", suaraku bergetar, kemarahanku belum mereda, tapi tenagaku sudah tak bersisa.


"Kenapa saat dia terbaring di rumah sakit, kamu malah sama cewek lain! Jangkr*k!", Aku mengumpat sejadi-jadinya, karena hanya itu yang bisa kulakukan sekarang.


"Ohh. . .jadi begitu c*k. Kamu suka sama Erni? Hah?", Iwan menatapku, tersenyum sinis.


"Asal kamu tahu ya, si Erni itu nggak jelas kapan bangunnya. Nggak tahu juga nanti kalau sudah bangun bisa pulih apa enggak. Dia jatuh dari lantai tiga c*k, tulangnya remuk. Kamu mau sama cewek yang kayak gitu? Hah? Noh ambil, ikhlas aku! Aku bisa dapat cewek yang lebih Oke dari pujaan hatimu itu brengsek!", Iwan mencengkeram kerah bajuku, dan menghantamkanku ke lantai.


Iwan berdiri, menepuk nepuk baju nya yang sedikit kotor berdebu. Kemudian dia pergi berlalu bersama ceweknya, meninggalkanku yang masih terbaring di lantai. Aku belum sanggup beranjak dari tempat pergumulan tadi. Setelah Iwan pergi barulah datang penjaga warnet, bak petugas keamanan di film-film yang selalu hadir ketika tokoh utama sudah mengalahkan musuhnya. Penjaga warnet membantu aku untuk berdiri.


"Nggak po po mas?", tanya mas mas penjaga warnet tersebut. Aku hanya tersenyum. Nggak po po gundul mu, wong jelas babak belur kayak gini, pakek nanya, begitu batinku.

__ADS_1


"Mas, besok-besok lek berantem, gelud, jangan di sini ya, di lapangan sono yang luas. Untung nggak ngerusak alat-alat atau komputer warnet", Mas mas penjaga warnet mulai ngomel ketika melihatku sudah sanggup berdiri sendiri.


Aku membayar tarif sewa komputer, dan keluar dari warnet masih dalam kondisi babak belur. Kulit di bagian kanan rahangku robek dan mengeluarkan darah. Cukup membuat ku meringis kesakitan. Aku duduk di bawah pohon trembesi sebelah utara parkiran kampus. Tempatnya sejuk dan lumayan sepi. Bajuku terlihat sangat kotor, berdebu dan acak-acak an. Aku beberapa kali meludah, menghilangkan bau dan rasa amis, anyir di mulutku karena gusiku berdarah.


"Dani?", sebuah suara memanggilku, aku menoleh.


Ternyata Febi, terlihat kaget dengan kondisiku yang sedang babak belur ini.


"Kamu kenapa Dan?", Febi mendekat. Dia menatapku terlihat berkaca-kaca. Sementara aku kesulitan membuka mata kiri ku, terasa bengkak se kepalan tangan.


Ingin rasanya membentaknya, memarahinya, menumpahkan kekesalanku padanya. Tapi, kali ini aku memilih diam. Beberapa bagian badanku terasa nyeri. Melihatku yang diam saja Febi mengambil HP nya.


Gadis dihadapanku ini sebenernya sangat baik, begitu peduli padaku, bahkan selalu ada buatku. Namun, gadis ini juga yang membuat Erni menjauhiku. Teringat pula dengan akun penyebar foto gosip itu. Benar kah dugaanku pemilik akun sogo girl itu adalah Febi? Bagaimana cara dia mengambil foto kami yang sedang berboncengan?


Beberapa menit berikutnya, Hasan dan Irul terlihat berlari tergopoh-gopoh menghampiriku.


"Hyuh, ini kenapa ini? Kok benjut kayak gini wajahmu Dan?", Hasan bertanya, namun aku masih enggan untuk berbicara.

__ADS_1


"Juurrr, ajuurr wajahmu nyuukk. Hyuh, lek kayak gini perlu di perban nih seluruh wajahmu ini. Nanti pas perban di buka, wajahmu berubah kayak herjunot ali", celutuk Irul heboh.


"Mbok kiro operasi plastik", Hasan menoyor kepala Irul.


"Kalian bisa serius nggak? Ini gimana ini?", Febi terlihat jengkel.


"Iya iyaa. . .Fee, tenang. . .gini aja, ayok kita bawa ke klinik ", Irul memberi ide.


"Nggak usah nyuk. Antar aku ke radio atau ke rumahmu saja", Aku segera menolak ide Irul, suaraku lirih, tenggorokanku terasa sakit.


Irul dan Hasan terlihat beradu pandang.


"Yok nek gitu, pake motorku. Kita bonceng bertiga. Biar kamu dipegangi Hasan di belakang", Irul memutar badan, dan berlari mengambil motornya. Hasan membantuku untuk berdiri berjalan menyusul Irul.


"Hati-hati San, pegang i Dani yang bener", Febi masih terlihat panik dan gusar.


"Iyo iyoo Feeeeeeee", jawab Hasan panjang, kelihatannya dia sedikit jengkel. Aku tersenyum melihatnya.

__ADS_1


Akhirnya aku, Irul dan Hasan bolos jam kuliah hari ini. Kami bertiga meluncur ke rumah Irul. Seperti cabe-cabean bonceng bertiga. Aku nggak mau ke klinik, aku nggak ada duit dan aku juga nggak mau ketahuan Bapak dan Ibuk kalau habis berantem. Biarlah, nanti cukup kompres pakai air es saja.


__ADS_2