
"Fee??", Aku memanggil Febi, pelan.
Febi menghela nafas, menoleh padaku.
"Terimakasih, atas semua perhatianmu, terimakasih telah jujur padaku, terimakasih telah menyukaiku", Aku mengatakan apa yang ada di kepalaku. Aku memandang Febi lekat, terlihat bola matanya yang kecoklatan sedikit bergetar.
"Aku tahu Daann, dari awal aku tahu kamu suka nya sama Erni", Febi menghela nafas. "Pada waktu kita pulang dari rumah Lik Wo, aku sempat bertanya padamu tentang perasaanmu pada Erni kan? Aku waktu itu udah ngrasa kamu mau nya sama Erni. Kemarin di telepon aku sekali lagi bertanya padamu perasaanmu pada Erni, dan ternyata kemarin kamu menjawabnya dengan jelas. It's OK Dann, aku ngerti", Febi menunduk.
Melihat Febi seperti ini, aku benar-benar tak tega. Bagaimana mungkin aku mengecewakan orang yang selama ini baik dan tulus padaku? Aku pegang dagu Febi agar dia memandangku. Aku nggak mau melihatnya tertunduk seperti saat ini.
"Fee, maafin aku. . .jujur aku masih menyukai Erni, tapi aku tahu sekarang Erni sudah bersama yang lain, sementara kamu . . .selalu ada untukku . . .", Aku sedikit ragu untuk melanjutkan kata-kataku.
"Aku. . .mungkin akan mencoba membuka hatiku untukmu, hanya itu yang bisa kukatakan padamu saat ini", Aku akhirnya mengatakannya.
"Itu sudah lebih dari cukup bagiku Dann", mata Febi terlihat berbinar. "Akan kubuat kamu melupakan Erni dengan caraku, karena aku sungguh suka kamu". Febi memegang tanganku di dagunya, kembali mendaratkan ciumannya di bibirku. Edan, aku kaget merasa "diserang" dua kali hari ini.
Kali ini, aku mendorong lembut bahu Febi.
"Lik Wo mana Fee?", tanyaku mengalihkan fokus dan suasana yang membara. Aku takut jika keadaan tadi berlanjut, bisa berbahaya untuk kita berdua.
"Tadi katanya kalau udah masuk wilayah desa sini, bakalan telepon. Tapi kok ya lama, nendi ya", Febi memandangi HP nya.
__ADS_1
"Lhah, gawat dong lek nyasar", kulirik jam di dinding, jarum pendek sudah melewati angka sebelas.
"Ya ditunggu wae Dan, bentar lagi coba aku telepon", Febi terlihat tenang.
"Oiya, mau minum apa? Belum sempat tak tawari lho tamu kehormatan ini", Aku mencoba bercanda.
"Nggak usah Daann, ngomong- ngomong ibuk mertua kemana sih?", Febi tersenyum, manis.
"Hah? mertua?", aku garuk-garuk bagian belakang kepalaku yang tidak gatal.
"Ibuk tadi sama adikku, mungkin ngajak dolan. Di rumah gampang bosen tuh bocah".
Oke, sudah cukup perasaan galau dan romansa nggak jelas ini, pikirku. Ada hal yang lebih penting yang harus dilakukan. Aku memandang Febi. Menimbang-menimbang perlukah menceritakan tentang mimpiku kepadanya? Ah, apa salahnya? Lagian gadis ini juga punya indera herlambang (eh, indra keenam) yang cukup tajam. Apa aku lupa dengan kemampuan gadis ini? Aku mulai pikun karena menjadi manusia pengejar cinta akhir-akhir ini.
"Feee, aku mau cerita . . .", Febi menoleh padaku, mengangguk mengerti. Akhirnya, aku menceritakan kejadian bagaimana aku bisa kecelakaan tempo hari. Kemudian cerita tentang mimpiku yang terasa sangat nyata, yang cukup menggangguku hingga saat ini. Febi mendengarkan, manggut-manggut, antusias.
" Mungkin mimpimu itu, sebuah petunjuk Dan, tentang rumahmu ini", Febi nampak serius. "Tapi, kamu tahu . .hari ini rumahmu terasa nyaman bagiku. Beda dengan waktu kita kerja kelompok dulu. Saat ini aku tidak merasakan keganjilan apapun dari rumah ini. Aku dapat memastikan hanya ada kita berdua di rumah ini sekarang", Febi memandang langit-langit rumah.
"Begitu ya, syukur lah. . .", Aku bernafas lega.
"Emmm, coba tak telepon Lik Wo ya", Febi mengalihkan pembicaraan, mengambil HP nya, dan menelepon. Hening beberapa saat, Lik Wo tidak menjawab.
__ADS_1
"Kok nggak diangkat ya?", Febi bergumam sendiri, sambil tetap mencoba menghubungi Lik Wo dari HP nya.
"Gini aja Dan, aku tak pulang dulu ya, siapa tahu Lik Wo ke rumahku karena bingung nyari alamat sini, nanti aku kabarin kamu", Febi beranjak dari duduknya.
"Ok Fee, misal Lik Wo nggak iso hari ini, besok-besok juga gak masalah kok", jawabku meng iya kan.
"Salam buat ibu mertua yaaa. . .", Febi tersenyum, mengayunkan lengan tanganku manja. Dadaku berdesir. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan dan senyuman. Ku antar gadis ini sampai teras depan rumah. Dia melambaikan tangan dan pergi berlalu meninggalkanku yang masih duduk mematung.
Bisakah aku membuka hati untuk bidadari yang lain?
Bidadari yang selalu ada dan tulus untukku.
Atau haruskah aku tetap mengejarmu Erni?
Meski aku tahu, kamu telah bersama pangeranmu.
Sulit bagiku untuk tidak galau saat ini.
Matahari terasa panas menyengat tepat di atas kepala, pukul dua belas siang.
_ _ _ _
__ADS_1