
Namaku Febi Resti Kinanti.
Aku bangun dari tidurku, tersadar aku sudah berada di kampus. Apa yang terjadi? Apa mungkin aku tidur sambil berjalan? Kepalaku terasa berat. Aku kesulitan mengingat apa yang sudah terjadi. Yang jelas dihadapanku kini ada Dani yang sedang makan bakso bersamaku. Apa ini ulah Narsih?
Dani mentraktirku makan bakso sebagai rasa terimakasih telah mengantarnya ke rumah Lik Wo. Aku seneng banget, bisa makan berdua sama Dani. Aku merasa perlu untuk berterimakasih pada Narsih nanti. Aku yakin ini semua karena dirinya.
Saat pulang, sepanjang jalan aku tak henti hentinya bersenandung. Aku bahagia hari ini. Rencanaku meminta Irul memfotoku berboncengan dengan Dani terbukti sukses besar. Semua orang menduga aku punya hubungan khusus dengan Dani. Ah, hatiku berbunga bunga. Semoga berawal dari gosip dan praduga, aku bisa beneran jadian sama Dani.
Sampai di rumah, ternyata Narsih tidak ada di kamarku. Entah dia pergi kemana. Sebuah telepon menggetarkan HP ku, telepon dari Erni.
"Hallo Fee, assalamualaikum," Erni mengucap salam terlebih dahulu.
"Waalaikum salam Er, hai ada apa nih? Jangan nanyain tugas sosiologi, aku belum ngerjain," Aku langsung nyerocos tanpa permisi.
"Ah, engg, nggak sih. Nggak penting juga sih. Cuma pengen ngobrol saja," Erni terdengar kebingungan.
"Ada apa sih?," Aku yang nggak ngerti mendesak minta penjelasan.
"Soal ini, aku penasaran saja. Apa bener kamu jadian sama Dani? Kayak yang di gosipin temen temen," Erni terdengar gugup dan suaranya lirih.
Aku akhirnya mengerti. Erni juga menaruh hati pada Dani. Ada rasa sedih dan marah berkecamuk di batinku. Kuremas remas sprei kasurku.
__ADS_1
"Feee?," Erni memanggil ketika aku diam saja.
"Ah, iya. Soal itu . . . gimana ya. Bener sih, aku memang lagi deket sama Dani. . . jangan diganggu lhoh ya," Aku tertawa, aku membohongi diriku sendiri dan Erni.
"Ah, nggak lah. Aku malah seneng dengernya," Erni cepat cepat menimpali perkataanku. Kami tertawa bersama. Tawa yang sama sama palsu. Setelah itu percakapan beralih ke pembahasan tugas dan mata kuliah, dan beberapa saat berikutnya telepon kita akhiri.
Aku terduduk di sudut kasur. Entah kenapa ada kemarahan di hatiku. Rasa suka pada Dani semakin menjadi jadi, mengarah ke obsesi yang berlebihan. Aku merasa ada yang tak beres dengan diriku. Aku mengantuk. Rasanya nyaman jika aku memejamkan mata ini.
Aku tertidur, terasa sangat lama. Mimpi demi mimpi kulewati. Mimpi yang terasa nyata. Aku bisa melihat diriku sedang berada di kampus, berjalan jalan, belajar, dan beraktivitas seperti biasa. Kalau ini nyata dan yang kulihat itu adalah diriku. Berarti saat ini aku ini apa? Atau aku ini sedang dimana? Pikiranku mulai terasa kacau.
Dering HP menyadarkanku. Aku sedang duduk di teras depan rumah pagi ini. Nita menelepon. Aku masih sedikit bingung, aku merasa seperti baru kembali dari lamunan panjang.
"Halloo Fee," Nita menyapaku.
"Dani kecelakaan tadi malam. Ayok kita jenguk dia ke Rumah Sakit," Nita menjawab, jawaban yang membuatku terkaget.
Aku segera mengiyakan, dan bergegas, bersiap siap menuju ke Rumah sakit.
Sampai di Rumah Sakit, terlihat Dani terbaring lemah. Aku tak tega melihatnya seperti itu. Dia terlihat mencoba untuk ceria, namun tubuhnya yang penuh luka dan lecet membuat hatiku terasa sakit.
Sepulang dari Rumah Sakit dengan penuh rasa kesedihan dan kekhawatiran aku merebahkan badanku dan memejamkan mata. Lagi, aku seperti sedang bermimpi, melihatku yang sedang berjalan jalan, sedang makan, beberapa kali diriku terlihat tersenyum di cermin, senyum yang aneh. Aku seperti terpisah dari ragaku.
__ADS_1
Terus menerus aku menjadi penonton dari aktivitas dan kehidupan sehari hariku. Siang itu diriku terlihat ke rumah Dani. Ngobrol berdua dengan Dani. Dan dengan berani diriku . . . mencium Dani. Apa itu? Jelas itu bukan aku. Aku mulai mencoba berteriak teriak, namun suaraku tak mau keluar sama sekali.
Diriku berpindah, di sebuah jalan. Siapa yang sedang kutunggu? Hah? Ternyata Lik Wo yang datang. Dan apa yang terjadi? Diriku mengacungkan jari telunjuk tiba tiba Lik Wo terangkat dan jatuh ke jurang. Diriku tertawa terkekeh melengking. Aku kali ini sadar dengan apa yang terjadi. Ragaku telah diambil alih. Narsih? Ya Narsih telah menjebakku.
Aku terus menerus menjadi penonton tanpa bisa berbuat apapun. Bahkan aku yang awalnya bisa melihat ragaku dari dekat kian hari terasa makin menjauh. Aku melihat Erni yang terdiam di bawah tangga lantai 1 kampus setelah bertengkar dengan Dani. Dan terlihat Narsih yang memakai ragaku mendekat. Terlihat memeluk Erni. Erni tiba tiba lemas, Narsih memanggulnya dengan ringan dan menguncinya di gudang. Narsih membuang motor Erni ke jurang. Apa yang mau dilakukannya? Malam malam Narsih kembali ke kampus, membuat para security tertidur dan memindahkan security ke salah satu ruangan di dalam kampus dengan begitu ringan.
Narsih terlihat melayang layang memanggul Erni di lantai 3. Aku mulai khawatir, apa yang dilakukan Narsih sudah kelewat batas. Biar bagaimanapun Erni adalah sahabatku. Kulihat di depan kampus ada Dani dan Irul. Mereka melongok ke pos jaga, tak ada security disana. Aku mencoba meneriaki Dani, untuk menerobos masuk ke kampus. Aku tak bisa bersuara.
Apa yang harus kulakukan? Aku mencoba sekuat tenaga, memaksakan kesadaranku kembali. Aku harus kembali ke tubuhku, tubuh itu milikku. Perlahan lahan kesadaranku pulih. Aku menurunkan tubuh Erni dari pundakku. Aku mencoba menelepon Dani, tak diangkat. Kucoba beberapa kali, akhirnya teleponku diangkat. Namun ketika hendak bersuara, leherku dicekik dari belakang. Erni terbangun dengan mata yang memutih semua. Sial, Narsih masuk ke tubuh Erni. Mencekikku kuat kuat, dengan tawa yang aneh keluar dari mulutnya dan berhasil membuatku pingsan.
Setelah itu aku semakin terasa menjauh dari ragaku sendiri. Aku tak bisa lagi melihat ragaku yang di ambil Narsih. Aku tak tahu lagi apa yang dilakukannya. Aku seperti jiwa yang terombang ambing, semakin lama aku mulai lupa. Siapa diriku? Siapa namaku? Aku hanya mengingat satu nama, Dani . . .
Tiba tiba aku dipanggul beberapa orang dalam keranda hitam, tanpa bisa memberontak. Aku terbujur kaku. Hanya mataku saja yang bisa berkedip dan bergerak gerak. Aku ketakutan. Aku seperti hendak dikuburkan di suatu tempat. Tapi aku nggak tahu dimana itu. Aku hendak menangis, namun tak ada air mata yang keluar. Hingga akhirnya tanah basah menimbunku. Kini hanya ada kegelapan.
Kegelapan yang menakutkan dan menyakitkan. Kegelapan yang mengurungku, memenjarakan aku.
Bruugghh. Terdengar suara. Suara apa itu?
Bruugghh. Seperti suara benda menghantam sesuatu.
Bruugghh
__ADS_1
Dan sebuah tangan tiba tiba muncul dari luar lubang tanah. Menarikku dengan kasar keluar dari timbunan tanah. Seorang Bapak bapak yang tidak kukenali menarikku. Mengajakku berjalan mengikutinya. Dan pada akhirnya sampailah aku di rumah Nenek nenek dengan puluhan ekor kucing di dalamnya.
Nenek itu bernama Mbah Ginah . . .