Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Si kunyuk dan bujang berhati batu


__ADS_3

Hari Senin 04 April pagi.


Aku ingat hari ini hari ulang tahun Febi. Aku juga ingat dia mengundangku makan-makan di Oslo steak lewat pesan singkat yang dia kirimkan beberapa hari yang lalu. Namun, yang paling membuat tanggal ini istimewa adalah akun Sogo Girl mencantumkan tanggal ini sebagai tanggal lahirnya di bio eF be nya. Akun yang menjadi penyebab asal muasal Erni menjauhiku.


Aku mencurigai Febi yang memiliki akun ini, meskipun aku belum mempunyai bukti akan hal itu. Tapi ada keraguan dalam kecurigaanku, kalau memang Febi yang mengirimkan foto itu ke Hasan, terus siapa yang memfoto nya?


Drrttt Drttt Drtttt


HP ku yang tergeletak di atas etalase toko bergetar. Aku pagi ini hanya bermalas-malasan di emperan toko. Hari ini nggak ada jam kuliah dan nggak ada jadwal siaran juga. Kuambil dan kulihat HP, di layar terlihat nama kontak "si kunyuk" yang menelepon. Ngapain nih Irul pagi-pagi udah ganggu orang ngelamun.


"Hallo nyuk, ada apa?", Aku langsung nyerocos begitu tombol berlambang telepon warna hijau aku pencet.


"Kangen nyuukkk", suara Irul, terdengar dibuat-buat manja.


"Iiihh. . .jijiikk, huwweekkk zooorrr ", Aku begidik, jijik.


"Ha . . . ha . . . ha. . .", terdengar suara tawa si kunyuk Irul terbahak-bahak.


"Diundang Febi makan-makan nggak?", Irul bertanya padaku.


"Iya, tapi mbuh lah nanti, aku ngikut apa enggak", Aku menjawab datar.


"Lhah, tumben . . .biasanya perkara makan enak gratisan paling cepet kamu", suara Irul terdengar meledek.


"Lagi males ketemu orang yang nraktir nyukk. . . lagian aku nanti ada planning lain", Aku tidak terlalu menanggapi gurauan Irul.


"Serius amiiitt hadeh, mau kemana sih? Boleh ngikut?", Irul merengek.


"Boleh aja sih, tapi ada syaratnya . . ."

__ADS_1


"Apa sih?", Irul terdengar penasaran.


"Syaratnya kamu diem, jangan banyak tanya, nanti tak jelasin", Aku melanjutkan kalimatku penuh penekanan.


"Hah? Oke deh", Irul meng iyakan, kemudian aku menutup telepon.


Aku memang ada rencana lain hari ini. Sudah lima hari aku dan keluargaku tinggal di toko. Nggak jelas kapan kita akan kembali ke rumah. Aku dan Ibuk nggak punya cukup nyali untuk bertanya atau memprotes keputusan Bapak. Siang ini aku berencana kembali ke rumah. Aku harus menyelidiki siapa dan ada tujuan apa orang-orang yang berada di dalam rumahku malam itu. Kalau Irul pengen ikut malah kebetulan kan, ada temennya, aku nggak sendirian. Meskipun siang hari aku masih tetap saja merasa takut teringat Lik Jo yang melemparkan kepalanya kepadaku. Hiii . . .Aku kembali bergidik ngeri.


"Ngapain kamu Dan?", Ibuk tiba-tiba saja berada di belakangku, membuyarkan lamunanku.


"Eh Ibuk, anu. . .ini, cari wangsit", Aku mringis.


"Hmmm, mentang-mentang cucu ne dukun kondang, pagi-pagi cari wangsit", Ibuk geleng-geleng kepala dan melangkah pergi, membiarkanku yang asyik melamun.


Apa yang disampaikan Ibuk bener juga sih, Mbah Kadir dukun kondang. Aku yakin, Mbahku itu adalah kunci dari semua keanehan-keanehan yang menimpa diriku. Tapi bagaimana caranya bisa ngobrol enak dengan Mbah mbah temperamen satu itu? Bagiku baik Mbah Kadir maupun Bapak adalah orang dengan jenis yang sama. Susah diajak ngomong.


* * *


Sesampainya di Istana juragan kunyuk melempar buah Khoirul Anam alias Irul, aku menjelaskan rencanaku siang ini. Aku juga menceritakan pengalaman dilempar kepala buntung oleh dedemit Lik Jo.


"Haseemm, ngeri nyuk, iku seriusan kayak gitu?", Irul masih setengah tidak percaya dengan ceritaku.


"Sumpah suwer, aku nggak bohong, berani samber gledek terus jadi gundala deh kalau aku bohong", Aku meyakinkan Irul.


"Hiii, makin aneh saja tuh rumah. Tinggalin saja kenapa sih? Beli rumah baru kek apa gitu", Irul terlihat berusaha memberi saran. Aku menghela nafas.


"Renyah banget ya, mbok kira uang e keluargaku sebanyak keluargamu?", Aku menoyor kepala Irul, sedikit jengkel.


"Yaudah, tinggal di toko saja lah. Mosok pengen kembali ke rumah yang kayak gitu. Jauh pula dari tetangga, sumpah ngeri aku coy", Irul bergidik, mendekat-dekat padaku.

__ADS_1


"Nyuk, kamu sadar nggak sih, aku sudah tinggal di sana sembilan belas tahun lebih, enak dan nyaman-nyaman saja. Terus kenapa tiba-tiba ujuk-ujuk sekarang kejadian aneh silih berganti kayak gini? Pasti ada sesuatu, instingku mengatakan demikian", Aku mendorong Irul agar tidak nempel-nempel padaku.


"Teruuss?", Irul nyengir.


"Ya pokoknya aku harus cari tahu, aku kudu mendapatkan jawaban, kenapa jadi kayak gini, bagaimanapun caranya", Aku berkata meyakinkan.


"Yaudin, eh yaudah, nanti tak temeni, tapi setelah itu kita ikut acara ne Febi yak", Irul berkedip-kedip padaku.


"Ngapain sih, ngebet banget pengen ikut acarane Febi?", Aku masih enggan berhubungan dengan Febi pada dasarnya.


"Katanya temen-temen e Febi anak BK banyak yang datang. Cakep-cakep coy", Irul cengengesan.


"Dasar buaya berbulu kunyuk", Aku benar-benar malas bertemu Febi tapi sulit juga untuk tidak meng iyakan permintaan sahabatku satu ini.


"Emang jam berapa sih acaranya Febi?", Akhirnya aku mengalah, akan aku turuti ajakan si Irul.


"Hoalah nyuk, meskipun kamu kecewa sama dia, marah sama dia, tapi mbok ya eling, dia itu temen kita lho. Dia melakukan semua itu kan juga karena dia naksir sama kamu wahai bujang berhati batuu", Irul menepuk-nepuk bahuku.


"Kalau dia SMS mbok ya dibales, telepon ya diangkat. Jadinya bisa tahu kalau ada temennya yang ngadain acara itu jam berapa, gitu lho", Irul meneruskan ceramahnya.


"Kok jadi nyalahin aku nyuk. Febi lho yang salah, kamu itu ngedukung aku nggak sih?", Aku mulai jengkel.


"Ya ndukung kamu sih, aku ngerti Febi salah. Tapi kan setiap orang pasti punya salah. Coba kalau ternyata aku yang berbuat salah padamu, apa kamu nggak akan mengampuniku nyuk?", Irul mengangkat kedua alis matanya.


"Emang kamu salah apa ke aku nyuk?", Aku balas menyipitkan mataku.


"Au ah, ayok berangkat, acaranya Febi jam empat sore di Oslo steak", Irul mengalihkan pandangannya. Mungkin dia sudah males berdebat denganku, atau mungkin memang dia mempunyai kesalahan yang disembunyikan dariku.


Siang hari dibulan april benar-benar terik. Tak ada sisa setetes pun air yang jatuh ke permukaan bumi. Aku dan Irul bersiap menantang panasnya udara siang ini, menuju ke desa karang kecamatan kencana. Siapa yang di rumahku malam itu? Setidaknya aku harus memastikan adakah sesuatu yang berbeda dari rumahku ketika kami tinggalkan lima hari ini. Kamis wage malem jumat kliwon tolu, seperti yang dikatakan pak Ndori si petugas SPBU, daerah kencana banyak digunakan sebagai tempat ritual, mungkinkah salah satunya rumahku? Saat ini prasangka itu lah yang menurutku paling dekat dengan kebenaran.

__ADS_1


__ADS_2