Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Ulang tahun Febi


__ADS_3

Aku duduk di emperan mushola SPBU tempat Pak Ndori bekerja, menunggu Irul yang sedang ke toilet. Setelah bergegas pergi dari rumahku yang penuh sesajen tadi, Aku dan Irul berencana langsung meluncur ke Oslo steak untuk memenuhi undangan Febi. Namun setelah masuk area kota, si kunyuk Irul minta untuk berhenti di SPBU. Kebelet pup katanya. Mungkin saking takutnya menginjak sesajen tadi hingga perutnya mules.


Aku merasakan amarahku kepada Bapak dan Mbah Kadir meluap-luap. Mengapa mereka bersekongkol untuk melakukan hal-hal semacam itu? Ritual apa yang Mbah Kadir lakukan? Jangan-jangan, selama ini keluargaku melakukan pesugihan. Jangan-jangan Lik Diran juga terlibat, bukankah Lik Diran sangat kaya raya untuk ukuran petani di desa? Namun, jika Bapak melakukan pesugihan kenapa kehidupan keluargaku biasa-biasa saja? Aahhh, aku nggak faham. Aku harus menanyakan ke Bapak nanti, harus!


"Nak, nggak baik melamun kayak gitu", Sapa seseorang di sebelahku, ramah. Aku cukup kaget, karena nggak merasakan ada kehadiran seseorang, dan dia adalah Pak Ndori.


"Eh eh, pak Ndori. . .", Aku sedikit tergagap.


"Nglamunin apa sih Nak? Kasihan kamu mana masih muda tapi kok kayak punya beban, mikirin dunia. . .he he he", Pak Ndori terkekeh.


"Nggak pak, lagi banyak tugas kuliah saja kok", Aku mencari-cari alasan, nggak mungkin juga kan cerita ke orang asing, rumahku ada sesajen nya.


"Yah, namanya orang itu pasti punya beban pikiran masing-masing. Mungkin ketika kita punya masalah kita merasa paling tidak beruntung hidup di dunia, dan kita merasa seperti sendirian menanggungnya. Padahal sih sebenarnya kita nggak sendiri, aku, kamu, semuanya punya masalah masing-masing. Hari ini bisa jadi kita mendapat ujian dari masalah-masalah yang ada, tapi bisa saja masalah itu menjadi berkah dan hikmah di esok hari. Karena esok hari merupakan sebuah misteri, yang penting kita sudah berusaha sebaik mungkin untuk menjalani hari ini. Semangatlah Nak, semangat semangat", Pak Ndori menepuk-nepuk pundakku.


Aku terdiam, mencerna apa yang Pak Ndori katakan. Sebuah nasehat yang bijak dari seorang bapak-bapak yang baru aku kenal. Nasehat yang tidak pernah terucap oleh bapakku sendiri.


"Heh? Ngapain bengong? Kesambet?", Sebuah tepukan keras di bahu, si kunyuk Irul pelakunya.


"Sakit nyuukk", Aku mengelus-elus bahuku, terasa panas.


"Nih lagi ngobrol sama Pak Ndo. . .", Kalimatku terhenti, karena ketika aku menoleh, Pak Ndori sudah tidak ada di sampingku.


"Hah? Ngobrol sama siapa?", Irul celingak celinguk, memang nggak ada orang lain selain diriku.


"Tadi, ada Bapak-bapak petugas SPBU kenalanku, mungkin dia nglayanin konsumen lagi", Aku menjelaskan pada Irul yang masih celingukan.


"Udaahh, ayok pulang. . .eh, ke Oslo steak", Aku mengajak Irul bergegas.


Irul garuk-garuk kepala, kemudian menurutiku, mengekor di belakangku. Kami akhirnya meluncur ke Oslo steak, meski aku masih malas ketemu Febi, namun aku terlanjur menyetujui ajakan Irul tadi.

__ADS_1


...* * *...


Sampai di parkiran Oslo steak, sudah ada Nita, Hasan dan beberapa teman sekelas lainnya. Kelihatannya tidak semua datang atau tidak semua yang diundang. Ada juga anak-anak yang nggak kukenali, kelihatannya anak BK dan beberapa dari jurusan lain.


"Njiirr, cakep nya si Ayuk", Irul antusias, melihat Ayuk, salah satu cewek primadona di prodi BK temennya si Febi.


"Ilerr mu nyukk, di lap sono pakek tissue", Aku mendorong-dorong bahu Irul, agar Irul segera berpaling. Saat ini Irul terlihat seperti kucing melihat ikan tongkol.


"Hyualah Rulll, jangan malu-maluin ta laahh. . .", Nita mendekati kami, ikut-ikutan mendorong-dorong Irul mengajaknya segera masuk ke tempat makan.


"Kayaknya acarane gedhe ya, banyak yang diundang, lagi banyak duit nih anak juragan rengginan", Hasan bergumam, ikut bergabung denganku, Irul dan Nita.


"Rasanya nggak pas ya, temen kita Erni masih belum bangun di Rumah Sakit, Febi malah ngadain acara rame-rame kayak gini", Nita bergumam, terlihat sedih.


"Iya, kamu bener", Aku setuju dengan Nita. Biar bagaimanapun Erni saat ini sedang berjuang dalam sakitnya, sebagai teman dekatnya, Febi nggak pas rasanya bersuka cita dengan cara seperti ini.


"Heh. . .kalian itu jangan ngerusak suasana doong, kasian Febi nanti. Aku yakin kok Febi juga sedih ngeliat Erni sekarang. Tapi ya gimana lagi, memang hari ini ulang tahunnya kok. Dan sah sah saja merayakan pertambahan usia . . .", Irul terdengar sewot, membela Febi.


"Erni temen kita, Febi juga temen kita. Ya tugas kita mendoakan kesembuhan Erni, dan tugas kita juga untuk ikut merasa bahagia untuk Febi. Jadi temen itu yang adil dong", lagi, Irul nyerocos nggak jelas.


"Kita?? Lu aja kalii. . .", Aku masih membantah.


"Suuudaaaaaaahhh. . .ayooo masuuukkkkk, steak e keburu dingin di dalem", Hasan menengahi debat kusir ini. Menggandeng aku dan Irul untuk masuk ke dalam. Erni mengekor di urutan paling belakang.


Ternyata Febi sudah di dalam, duduk di salah satu kursi, dengan meja yang sangat panjang di depannya. Melihat kami datang Febi langsung berlari lari kecil menyambut.


"Terimakasih ya sudah datang", Febi tersenyum terlihat bahagia. Kali ini dia memakai kaos pink dengan celana jeans berwarna krem, bibirnya memakai lipstik dengan warna senada dengan kaosnya, cocok. Eh, kenapa aku jadi memperhatikannya begini sih.


"Selamat ulang tahun yang ke dua puluh ya Feee. . .sweet 20", Nita memeluk Febi.

__ADS_1


"Selamat ya Fee", Irul dan Hasan kompak mengucapkan selamat. Aku diam saja.


"Iyaa, yok duduk yok, terus langsung pesen aja ya", Febi mempersilakan kami duduk. Hasan, Irul, dan Nita segera mengambil tempat duduk, meninggalkanku berdua dengan Febi tetap berdiri di dekat pintu.


"Emmm, Dan terimakasih ya sudah datang", Febi berkata lirih, tangannya memegang lenganku, lembut.


"Iya", Aku menjawab singkat.


"Daann, maafin aku ya, kalau aku ada salah sama kamu", Febi menatapku, aku menatapnya sekilas, dan mengalihkan pandanganku.


"Iya", lagi, aku menjawab pendek, nggak mau memperpanjang percakapan.


"Duduk yok, pokoknya aku seneng banget kamu udah datang, aku mau ke depan dulu, itu nemuin temen-temen", Febi memintaku untuk segera duduk, dengan setengah berlari dia keluar dan menghambur ke teman-temannya yang lain.


Aku menyeret langkahku, duduk di kursi bersama yang lain. Bolehkah kita bersenang-senang seperti ini, disaat salah satu sahabat kita berjuang untuk hidupnya, kesembuhannya? Ataukah Febi nggak menganggap Erni sebagai sahabatnya? Entahlah, aku nggak cukup pintar untuk menilai kadar pertemanan, apalagi pertemanan cewek.


"Noh pesen apa?", Irul menyodorkan daftar menu padaku.


"Sego pecel nyuk", jawabku datar.


"Mbahmuuu. . .mbok pikir ini kantin e Mak Emi deket kampus", Irul jengkel dengab jawabanku yang ngasal.


"San, kamu tahu, akun Sogo Girl yang ngirimin foto ke kamu waktu itu, di bio nya mencantumkan tanggal lahir 4 april, hari ini", aku berkata pada Hasan yang ada di depanku setengah berbisik. Tiba-tiba aku teringat akun Sogo Girl.


"Hah? Yang bener? Jadi, Sogo Girl si Febi gitu maksudmu?", Hasan terpekik.


"Ssstt! Jangan keras-keras!", aku meletakkan telunjukku di depan mulut. Hasan refleks menutup mulutnya.


"Apaan sih? Akun apaan?", Nita yang dengar, ikut nimbrung. Sementara Irul sibuk membolak balik daftar menu.

__ADS_1


Aku hendak bercerita kepada Nita. Namun belum sempat aku membuka mulut, Febi dan teman-teman yang lain keburu masuk dan bergabung dengan kami. Suasana menjadi sangat riuh. Dan yang langsung terlihat paling antusias untuk caper saat ini adalah si Kunyuk Irul. Dia begitu semangat mencoba melucu dihadapan gadis-gadis prodi lain. Dasar si Kunyuk. Sementara aku merasa sepi sendiri di tengah keramaian ini.


 


__ADS_2