Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Hancurnya Rumah di tengah sawah


__ADS_3

Febi melayang mendekatiku. Aku setengah tidak percaya dengan penglihatanku sendiri. Manusia tak mungkin bisa bergerak melayang tanpa menapak bumi. Gila! Febi yang memang sudah menjadi manusia ajaib atau aku yang sudah nggak waras.


Aku mundur beberapa langkah. Febi menapakkan kaki nya di tanah dengan perlahan. Dia berada di depanku berjarak tak lebih dari satu meter. Rambutnya yang lurus tergerai hitam mengkilap tertimpa sinar rembulan. Dia mendekat dan mengulurkan tangannya.


"Jangan takut Dani. Ikutlah denganku," Febi atau Narsih lebih tepatnya masih mengulurkan tangannya.


Aku menggenggam erat sirih yang ada di tangan kiriku. Mungkin ini saatnya. Dengan cepat kulemparkan sirih itu, tepat mengenai badan Febi. Menimbulkan reaksi yang membuatku kaget. Febi seperti terdorong mundur. Melayang dan ambruk di teras rumah.


Febi jatuh tertelungkup di teras rumah. Tidak bergerak sama sekali. Bayangan orang orang hitam di ruang tamu terlihat berebut mengintip dari kaca jendela. Aku masih bingung dengan yang terjadi, aku nggak tahu apa yang mesti kulakukan.


Sedikit ragu, aku mendekati tubuh Febi yang ambruk. Tak ada gerakan sama sekali.


"Fe- Feee," Aku mencoba memanggil Febi, pelan.


Aku mengulurkan tanganku, hendak menyentuh dan mencoba membangunkannya. Namun, tiba tiba tangan Febi terlebih dahulu menangkap lenganku. Aku tersentak kaget. Febi mencoba bangun dengan setengah menarik lenganku.


"Dani . . .," Febi memanggilku, menatapku. Wajahnya terlihat separuh karena tertutup oleh rambutnya yang acak acak an.


"Dan, ini aku Febi," Febi mengguncang guncangkan lenganku.


"Hah?," Aku masih belum percaya, mungkinkah efek dari sirih Mbah Ginah itu mampu mengembalikan jiwa Febi kembali pada tubuhnya?


"Kalau kamu memang benar Febi, kamu pasti tahu dimana kita pertama kali bertemu," Aku menguji Febi, karena memang aku belum yakin. Jangan jangan Narsih sedang bersandiwara, menipuku.


"Di Bank di jalan Thamrin, waktu bayar biaya daftar ulang masuk kuliah," Febi menjawab cepat.


Jawaban yang membuatku yakin, sosok di depanku memang Febi. Temanku sudah kembali.


"Ah, syukurlah . . .," Aku terduduk, menghela nafas. Ada rasa lega di hatiku.


Bayangan bayangan hitam di dalam rumah terlihat menggedor gedor kaca jendela. Aku tidak menggubrisnya.


"Daann. . .ini hanya sementara, aku harus cepat," Febi kembali mengguncang guncangkan lenganku.


"Apa maksudmu?," Aku bertanya tidak mengerti.


"Mantra Mbah Ginah pada gulungan sirih itu hanya bersifat sementara. Aku nggak bisa terlalu lama menguasai kesadaranku. Mungkin sebentar lagi Narsih akan kembali Dan," Febi terlihat panik.

__ADS_1


"Hah? Ini tubuhmu sendiri Fee. Kami harus melawan agar Narsih tidak bisa kembali lagi," Aku menggenggam erat tangan Febi, berusaha meyakinkannya.


"Nggak Dan, sekarang ini aku lah jiwa yang tersesat. Tubuh ini sudah menjadi wadah Narsih. Tubuh ini sepenuhnya milik Narsih," Febi terlihat menangis.


"Terus apa yang harus kita lakukan?," Aku bertanya pada Febi, perasaan lega yang kurasakan tadi kembali berubah menjadi kekhawatiran.


"Bukankah Mbah Ginah memberimu dua benda? Yang satu gulungan kinang sirih, mana yang satunya?," Febi mengusap air matanya, menatapku tajam.


"Maksudmu keris ini?," Aku mengambil sebungkus kain putih kecil di saku celana belakang. Febi mengangguk yakin.


"Berikan benda itu padaku," Febi memberi perintah.


"Untuk apa Fee? Apa fungsi keris ini?," Aku kembali bertanya, suasana di dalam ruang tamu semakin gaduh dan riuh. Bayangan bayangan hitam terlihat semakin liar menggedor gedor kaca jendela.


"Keris ini untuk memusnahkan Narsih Dan. Hanya aku yang bisa melakukannya. Berikan padaku, percaya padaku," Febi menatapku. Tatapan yang entah kenapa tersirat kesedihan di dalamnya.


Tidak ada pilihan lain. Sesuai petunjuk Mbah Ginah, Febi yang akan memberitahuku apa yang harus dilakukan. Febi membuka pembungkus kain putih, keris kecil berwarna emas itu bersinar mengkilap diterpa sinar rembulan.


Aarrggghhhhhhh


Nampak tangan tangan berjubel di pintu masuk rumah. Bayangan bayangan hitam itu, berteriak, menggeram tidak karuan.


Kaca jendela pecah, kalah oleh dorongan kuat tangan tangan iblis itu.


Jedeeeerrr


Lampu ruang tamu dan teras rumah meledak bersamaan. Pecahan bohlam melesat kesana kemari. Rumah berubah menjadi gelap gulita. Kini, satu satunya penerangan hanyalah sinar rembulan.


"Danniii. Mundurlah jauh jauh dariku!," Febi membentakku. Aku yang masih bingung dengan apa yang terjadi hanya terbengong bengong heran. Hingga akhirnya Febi mendorongku kasar.


Buugghh.


Aku jatuh terjengkang di tanah pelataran rumah. Aauuuww, aku meringis kesakitan. Aku memandang Febi meminta penjelasan.


"Narsih hendak kembali. Menjauhlah dariku! Kumohon!," Febi berjalan ke arah pintu masuk rumah. Tangan tangan 'iblis' di pintu bergerak gerak semakin liar. Seakan hendak mencengkeram Febi.


"Daniii . . .," Febi menoleh padaku. Aku masih terduduk di tanah.

__ADS_1


"Aku selalu menyukaimu . . .," Febi terlihat tersenyum dan menangis secara bersamaan.


Detik berikutnya, terlihat Febi mengayunkan tangan kanannya yang menggenggam keris. Dia menghujamkan keris itu tanpa ragu keperutnya sendiri.


Aku tak mampu berkedip melihat adegan itu di depan mataku.


"Febiii," Aku berteriak tertahan. Sementara Febi yang bersimbah darah berjalan terseok seok masuk ke dalam rumah tanpa menoleh.


Suara motor terdengar mendekat. Beberapa orang turun dari motor dan langsung menghambur ke arahku. Lik Diran dan para pekerjanya telah sampai membawa obor dan kentongan.


Febi masuk ke dalam rumah, ditelan kegelapan. Beberapa tangan terlihat mencengkeramnya. Sementara tangan tangan lain nampak menerobos keluar. Orang orang berpakaian hitam, terlihat keluar dari dalam rumah. Berlari dan menjerit jerit tak karuan seperti hendak menuju ke arahku.


"Bakkaaarrrrrrr!," Lik Diran berteriak memberi perintah.


Sedikit terkaget, para pekerja Lik Diran langsung berdiri mengambil obor dan melemparkannya ke dalam rumah.


Buuughh . . . Bwoosshhh


Bagaikan api masuk ke dalam tangki minyak. Rumah langsung terbakar dengan hebatnya.


Waaarrgggh Waarrghhh Waarrgghhhh


Terdengar suara suara seperti orang menjerit dan menggeram. Tangan tangan iblis dan orang berpakaian hitam hitam tadi lenyap ditelan kobaran api.


Cahaya dari kobaran api terlihat merah kekuningan, terangnya mengalahkan cahaya rembulan yang berpendar. Aku tak mampu berkata kata. Aku berdiri tertegun di sebelah Lik Diran.


Febi . . . Bagaimana dengan Febi? Kobaran api begitu dahsyat, angin yang berhembus dari persawahan menambah ke ganasan dari si jago merah. Tak terlihat sosok Febi yang tadi berada di ambang pintu masuk rumah.


Kletek kletek kletek


Bunyi jendela, pintu, kursi, plavon yang terbakar. Menciptakan aroma hangus dan asap hitam yang membubung langit. Lebih dari dua jam aku, Lik Diran dan para pekerja Lik Diran berdiri mematung melihat kobaran api.


Malam semakin larut, dan tepat tengah malam api baru benar benar padam. Menyisakan abu yang beterbangan disana sini. Hanya tembok bagian depan saja yang nampak masih kokoh dengan warna yang menghitam. Sementara bagian rumah yang lain benar benar roboh, hangus tak bersisa.


Aku segera berlari ke bekas ruang tamu yang telah terbakar. Di susul Lik Diran dan lainnya, kami mencoba mencari Febi, atau setidaknya jasadnya. Namun ternyata nihil. Tidak ada apapun. Tidak ada bekas tanda tanda manusia di sana. Febi menghilang bersama keris dari Mbah Ginah.


Aku berdiri di tengah tengah bekas rumah, menatap langit. Aku merasa permintaan Bapak untuk merobohkan rumah telah dikabulkan oleh takdir dengan cara yang tak terduga.

__ADS_1


~ ~ ~


__ADS_2