Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Ikan Nila di kolam


__ADS_3

Karena kejadian yang menimpa Erni, akhirnya diumumkan lewat pesan berantai, kampus ditutup selama satu hari ini. Aku, Irul, dan Nita tidak beranjak dari Rumah Sakit. Kedua orangtua Erni terlihat sangat terpukul dengan kejadian ini. Mereka berdua terlihat menangis menunggu di depan ruang operasi. Beberapa jam kemudian lampu indikator ruang operasi padam, menandakan operasi telah berakhir. Dokter keluar dari ruang operasi, orangtua Erni segera menghambur mendekat. Begitupun aku, Irul dan Nita ikut melangkah mendekat.


"Dokter, gimana anak kami?", Bundanya Erni terlihat bertanya ke dokter, masih tersedu.


"Nyawa anak bapak dan ibu tertolong, tapi kondisi nya masih belum stabil. Mungkin perlu waktu untuk membuatnya tersadar. Bapak dan Ibuk harap bersabar. Perbanyak do'a",jawab dokter itu bijak.


Jawaban yang membuat kami mampu bernafas lega. Orangtua Erni terlihat saling memeluk dan tangis mereka pecah. Aku mendongak, terucap syukur di hatiku, sekaligus mencegah agar air mataku tidak ikut terjatuh. Aku mencolek siku Irul, memberinya kode mengajaknya pergi.


"Kemana?", tanya Irul setengah berbisik.


"Nyari udara segar", aku pun juga menjawabnya dengan berbisik.


Irul mengangguk setuju. Aku dan Irul akhirnya beringsut meninggalkan Nita dan orangtua Erni. Aku masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Erni, bidadariku, mengalami kejadian naas seperti ini. Apa yang sebenarnya terjadi? Terlalu banyak pertanyaan dibenakku, yang tak menemukan jawaban. Huuhhh, aku bener-bener butuh udara segar, agar dada ini tak lagi terasa sesak.


Ketika aku dan Irul berjalan di lorong Rumah Sakit, kami berpapasan dengan Febi. Terlihat dia tergesa-gesa setengah berlari. Melihatku, Febi menghentikan langkahnya.


"Dan?", Febi memanggilku.


"Apa?", Aku menghentikan langkahku. Aku dan Irul kini tepat berhadap-hadapan dengan Febi. Sungguh aku masih enggan berbicara dengan gadis ini.


"Gimana keadaan Erni?", Febi terlihat menggigit bagian bawah bibirnya.

__ADS_1


"Dia selamat. Tapi belum sadarkan diri", Aku menepuk lengan Irul, mengajaknya untuk segera pergi dari tempat ini.


"Dan. . . ", Febi menggenggam lenganku, menatapku.


"Aku mau keluar cari angin, kamu cepat tengok Erni sana. Temenin Nita", Aku berbicara tanpa menatapnya.


"Maafkan aku, aku. . .aku", suara Febi bergetar, terbata-bata.


Aku melepaskan tangan Febi dari lenganku. Segera mengajak Irul untuk pergi berlalu. Irul menurut, tanpa berkomentar apapun.


"Dani, kamu akan menyesal!", Febi setengah membentakku, dan berjalan berlawanan arah denganku.


Sesampainya di parkiran, aku berhenti sejenak. Duduk di bawah pohon ketapang yang rindang. Beberapa daunnya berguguran jatuh di kolam ikan di sebelah aku duduk. Kolam kecil yang cukup terawat dengan beberapa ikan nila merah terlihat menyembul ke permukaan. Aku menghela nafas. Irul menyusul, duduk di sebelahku.


"Segitu keselnya kah kamu ke Febi?", tanya Irul, yang masih belum mengerti pokok permasalahanku dengan Febi.


"Aku kecewa padanya", Aku menjawab pendek, masih melihat beberapa ikan yang mengambil oksigen di permukaan.


"Kamu durung mau cerita sama aku Dan?", Irul menepuk bahuku.


Aku menghela nafas, dengan sedikit enggan kuceritakan pada Irul, kenapa aku bisa se kecewa itu pada Febi. Bagiku Febi menjadi penghalang untukku bisa bersama Erni. Bagaimana tidak? Ternyata Febi lah yang menyuruh Erni untuk menjauhiku. Febi mengatakan kalau aku sudah jadian sama dia. Irul hanya manggut-manggut mendengarkan.

__ADS_1


"Enak ya jadi kamu, disukai cewek-cewek cantik", Irul bergumam, seakan berbicara sendiri.


"Enak gundulmu! Perasaan yang playboy kamu deh nyuk, gonta ganti cewek aja", Aku bersungut sungut.


"Aku baru ini lho suka sama cewek, eeh . . .gara-gara Febi jadinya gagal kisah cinta pertamaku, apess", Aku geleng-geleng kepala.


"Ya sikat aja tuh Febi. Cewek cantik kayak gitu kok ditolak, bodoh luuu", Irul menoyor pundakku.


"Emang e kamu . . . main sikat, ini soal hati nyuk", Aku sewot kali ini.


"Lhah, yakin kamu nggak ada hati sama Febi? Awas lho nanti nyesel", Irul menatapku tajam.


"Au ah, daripada bahas ini mending kita banyak banyak berdoa agar Erni cepet sadar, sembuh seperti sediakala. Masalah Febi, aku masih belum bisa berdamai dengan rasa kecewaku", Aku berdiri, ikan nila di kolam nampak sembunyi terkaget dengan gerakanku yang tiba-tiba.


"Terus, kita mau kemana nih sekarang?", Irul bertanya, ikut berdiri.


"Aku mau pulang dulu", jawabku, yang disetujui oleh Irul, segera kami beranjak pergi.


Matahari cukup terik kali ini. Irul cukup ngebut membawa motornya, namun aku nggak terlalu peduli, meski banyak motor lain yang membunyikan klakson nya karena cara Irul berkendara. Pikiranku mengawang jauh. Erni, semoga kamu cepat sembuh.


 

__ADS_1


__ADS_2