Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Malam kelabu, Pagi membiru


__ADS_3

Aku menunggangi Thor berkeliling kota sampai tengah malam. Aku akhirnya berhenti setelah Thor tersendat kehabisan bensin tepat di depan alun-alun kota. Ku parkirkan Thor di tepi alun-alun yang terasa dingin malam ini. Aku duduk di salah satu kursi besi di sudut alun-alun. Terlihat masih cukup ramai orang berlalu lalang, masih cukup banyak warung angkringan yang buka. Beberapa muda mudi terlihat pula sedang bersama pasangannya. Tengah malam di pusat kota ternyata lebih ramai dari tengah hari di desaku.


Aku jadi teringat Erni. Apa kabar dia hari ini? Disaat seperti ini, orang yang pertama kali ku rindukan adalah dirinya. Aku jadi semakin yakin akan perasaanku padanya. Aku mendongak menatap langit. Bintang terlihat bersinar terang, namun kemudian terlihat memudar tertutup air di pelupuk mataku. Aku tak kuasa menahan tangis. Betapa malangnya aku, orang yang aku sayangi terbaring di Rumah Sakit dengan beberapa tulang yang remuk. Pertengkaranku dengan Bapak, dan keputusanku untuk pergi meninggalkan keluargaku. Betapa roda takdir sedang menggilasku menuju titik terbawah.


Teringat nasehat Pak Ndori, setiap orang pasti punya masalah, kita tak pernah sendirian. Tapi nyatanya kini, aku sendirian, berteman sepi dan sunyi. Adakah yang peduli? Febi? Irul? Mereka tak lebih dari teman karena berkepentingan. Aku muak, aku menundukkan wajahku, menangis sejadi-jadinya. Jika ada yang bertanya gimana rasanya putus asa, maka datanglah padaku, akan ku jelaskan saat ini.


Puas menangis, aku berjalan gontai menuju tengah alun-alun. Sinar lampu terlihat paling terang di sana. Aku duduk di bawah sorot lampu yang menerpa tubuhku, membentuk sebuah bayangan memanjang. Aku tersenyum kecut. Ternyata saat ini hanya bayangan yang menjadi temanku. Kurebahkan badanku di tempat ini juga, aku lelah, aku mengantuk, aku mau tidur.


...* * *...


"Hei, hei. . .bangun. Heii. . .kamu nggak pa pa kan?"


Suara seseorang membangunkanku, mengguncang-guncangkan tubuhku. Aku sedikit tersentak dan segera bangun. Melihat kanan dan kiri, aku di tengah alun-alun. Di hadapanku seorang cewek, mungkin seusia denganku, memakai setelan baju olahraga.


"Maaf, kamu nggak pa pa?", tanya cewek itu, kelihatannya dia selesai jogging.


"Sekarang jam berapa?", Kepalaku terasa berat.


"Jam setengah 6 pagi", jawab cewek itu setelah melihat jam tangannya.


Aku segera berdiri dan tanpa permisi segera pergi dari tempat itu, meski cara jalanku sempoyongan karena sedikit pusing. Cewek itu memandangku dengan tatapan heran. Mungkin aku dikira pemuda yang habis mabok. Nyatanya aku hanyalah pemuda yang habis menangis semalaman.


Setelah membeli bensin eceran, aku memacu motorku. Aku menuju ke Rumah Sakit, aku rindu pada Erni. Sampai di Rumah Sakit aku menuju ke ruang ICU tempat dimana Erni sedang berbaring. Meski tidak bisa menjenguknya secara langsung, tidak bisa melihatnya secara langsung, setidaknya aku bisa mengharapkan dan mendoakan kesembuhannya dari dekat.


Aku duduk di kursi yang menghadap ke ruangan Erni dirawat. Kedua tanganku saling menggenggam erat, dan ku tundukkan kepalaku. Aku berdoa dari hatiku yang terdalam, semoga bidadariku segera sembuh, segera pulih seperti sedia kala.

__ADS_1


Drrtt Drrtt Drrtttt


HP ku bergetar hebat. Kulihat nomor yang tidak dikenal menelepon. Siapa?


"Hallo, . . .", Suara seorang cowok, setelah telepon ku angkat.


"Hallo, maaf ini siapa?", Aku bertanya, karena memang bukan nomor yang kukenal.


"Ini. . .Dani kan? Ini aku. . .", beberapa saat hening.


"Ini aku. . .Iwan", ternyata penelepon adalah Iwan. Aku tertegun sesaat. Ada apa lagi ini?


"Aku. . .minta maaf atas kejadian yang lalu. Bisa kita ketemu hari ini? Kumohon. . .", terdengar suara Iwan memelas.


Tak ada angin, tak ada hujan. Iwan tiba-tiba meminta maaf dan meminta bertemu. Kok bisa? Kenapa?


"Hah? Ada apa nih?", Aku penasaran.


"Kumohon Dan, nanti aku bakal jelasin kalau kita udah ketemu", Iwan memohon mohon padaku.


"Eh, ah. . . Baiklah . . .", Aku menjawab ragu.


"Kamu mau kita ketemu dimana? Jam berapa? Aku akan ngikut. Pokoknya tenang saja. Dimanapun itu jam berapapun itu aku bersedia. Dan aku yang bakalan nraktir kamu", Iwan terdengar antusias. Aneh.


"Emm, aku ada kuliah pagi. Mungkin habis zuhur. Mungkin kita bisa ketemu di Tella Caffe, deket studio radio Pesona FM", Aku memilih tempat yang deket studio dan banyak yang kukenali di sana. Karena aku masih sedikit khawatir kalau ternyata dia mengajakku ketemu untuk menghajarku lagi. Rasanya aku nggak ada tenaga untuk melawannya saat ini. Kondisi normal saja aku babak belur, apalagi kondisiku yang kacau balau seperti sekarang ini, pasti jadi perkedel kentang.

__ADS_1


"Okey. . . aku akan menunggumu di Tella Caffe jam satu siang. Terimakasih Dan. . .terimakasih", Iwan berterimakasih kemudian menutup teleponnya. Aku menggaruk garuk kepalaku yang tidak gatal.


Jam tujuh pagi.


Aku menggendong ransel besarku, menuju ke radio. Aku harus bebersih dan menyimpan barangku di loker. Dan juga sepertinya aku perlu meminta izin kepada kabag siar untuk sementara tinggal di studio.


Sampai di studio ada Mas Henri sedang mengoceh ria, mengudara di program pagi. Lagu-lagu energik mengiringinya. Musik selalu bisa membuat mood ku membaik. Makanya aku betah sekali bekerja di radio. Kalau orang lain untuk menyalurkan hobi nya harus ngeluarin duit, kalau aku menyalurkan hobi ku malah dapat bayaran karena hobi ku mendengarkan musik di radio.


~Selamat pagi


Kicau burung bernyanyi dan kini ku siap tuk jalani hari ini


Kini bergegaslah siapkan dirimu untuk memulai menjalani hari ini ~


Sepenggal lirik lagu, nyaman menyapa telinga. Sedikit mengobati hatiku yang masih terasa mangkel. Aku ikut bernyanyi sambil menata baju ganti, parfum, dan beberapa barangku di dalam loker.


"Lhoh, banyak banget barangmu. Pindahan?", Mas Henri ternyata sudah nongol di belakangku. Melihatku yang sedang sibuk menata barang.


"Eh iya mas, soalnya berasa capek, jauuhh dari rumah. Jadi mending numpang tinggal di sini aja dulu", Aku beralasan.


"Aneh kamu itu. Bukannya dulu kamu pernah cerita, nggak betah lama-lama jauh dari rumah. Ini malah boyongan kesini", Mas Henri geleng-geleng kepala, mengambil air minum di dispenser kemudian masuk kembali ke ruang siar. Aku lega Mas Henri nggak mengintrogasiku lebih lanjut. Aku melanjutkan beberes, dan bersiap untuk mandi.


Drrt Drtt Drttt


HP kembali bergetar. Kali ini SMS dari Ibuk masuk, menanyakan aku sedang dimana, sudah sarapan atau belum. Ibuk yang perhatian dan selalu khawatir denganku. Beda dengan Bapak, bahkan ketika aku pergi seperti sekarang ini pun, dia nggak pernah tanya gimana kabarku. Pipi kananku tiba-tiba berdenyut kembali. Bekas tamparan yang menyakitkan meresap sampai ke hati.

__ADS_1


Aku balas pesan Ibuk untuk jangan terlalu mengkhawatirkanku. Aku sudah dewasa, dan memiliki uang yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Setelah membalas pesan Ibuk aku bergegas untuk mandi. Bersiap untuk kuliah hari ini. Aku harus tetap menyelesaikan kuliahku, demi diriku sendiri dan Ibuk.


 


__ADS_2