Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Bapak sakit (2)


__ADS_3

Pagi tiba.


Bapak sudah mendapatkan kamar dan suntikan infus. Suhu tubuhnya pun sudah turun. Semalaman aku dan Lik Diran tidak tidur sama sekali setelah sampai di Rumah Sakit. Aku menguap beberapa kali, sementara Lik Diran terlihat tertidur sambil duduk bersedekap di depan tempat tidur Bapak. Kelihatannya Lik Diran sudah nggak mampu menahan kantuknya.


"Hooaaahhmmmm", Aku menguap dan menggeliat. Beranjak dari dudukku.


Aku mau membeli minuman agar lebih segar. Aku keluar kamar. Menyusuri lorong Rumah Sakit menuju kantin. Saat ini sudah jam setengah delapan pagi. Kantin sudah ramai dipenuhi penunggu pasien yang sedang mencari pengganjal perut. Namun aku tidak lapar, aku hanya butuh minuman saja. Aku menuju pojok kantin, mengambil minuman berdosa, eh bersoda di display cooler. Kemudian membayarnya di mbak mbak kasir.


Aku duduk di bangku taman kecil depan kantin. Matahari pagi menghangatkan aku, minuman soda menyegarkan tenggorokanku. Kantukku sedikit terobati. Kuhabiskan minumanku hingga tetes terakhir, kemudian segera berdiri dari dudukku. Aku ingin menjenguk Erni. Bapak dan Erni dirawat di Rumah Sakit yang sama, Rumah Sakit Umum Daerah.


Aku berjalan menuju ruangan Erni dirawat. Ternyata di depan ruangan ada Bapaknya Erni dan Hasan. Mereka terlihat asyik mengobrol. Melihat kedatanganku Hasan langsung menyambut dengan senyuman.


"Dani, sek pagi kok udah nyampek sini?", Hasan bertanya. Aku hanya tersenyum saja.


"Nak Dani, apa kabar?", Tanya Bapak Erni dengan ramah. Kulihat sekilas, senyum Bapak Erni terasa senyum sendu yang penuh kesedihan. Wajar saja sih, anaknya belum sadar juga padahal sudah beberapa minggu dirawat.


"Alhamdulillah Pak, kabar baik", jawabku lirih.


"Duduk sini broo", Hasan memintaku duduk di kursi sebelahnya, aku menurut.


"Kok jam segini udah di sini kamu?", Hasan mengulangi pertanyaannya.


"Yah, tadi malam Bapakku sakit, dirawat di Rumah Sakit sini juga", Aku menjelaskan, menghela nafas. Terasa berat.


"Lhah, iya to? Sakit apa?", Hasan kaget dengan pernyataanku.


"Panas, kayak e kecapek an", Aku menjawab asal saja, karena memang belum tahu Bapak sakit apa, hasil pemeriksaan belum keluar. Bapak Erni menyimak tanpa berkomentar.


"Semalem nginep sini San?", Aku balik bertanya pada Hasan.


"Enggak, aku juga baru datang. Ngantar maem sama baju gantinya Pak Lik", Hasan menunjukkan tas berisi beberapa baju ganti.


"Bulik e Hasan, Ibuk Erni kan harus tetep masuk kerja Nak, dia kan pegawai negeri. Kalau Bapak kan kerjanya jualan. Sementara nggak jualan dulu, nungguin Erni. Kalau ada butuh butuh ya minta tolong Hasan tak suruh anterin gitu", Bapaknya Erni membuka suara ikut menjelaskan. Aku manggut manggut.


Drrtt Drrtt Drttt


HP ku bergetar, telepon dari Lik Diran.

__ADS_1


"Hallo Lik, wonten dhawuh (ada apa)?", Aku mengangkat telepon, beranjak dari dudukku.


"Kakang sudah bangun. Kamu dimana? Cepet kesini", Lik Diran memberi perintah.


"Iya Lik", Aku mengiyakan, kemudian Lik Diran menutup teleponnya.


"Saya permisi dulu ya Pak, San. Saya tak balik ke kamar Bapak. Alhamdulillah kata Pak Lik Bapak sudah sadar", Aku berpamitan pada Bapaknya Erni dan Hasan.


"Alhamdulillah. . . Iya Nak. Semoga Bapak njenengan segera sembuh", Bapaknya Erni tersenyum mendoakan.


"Amiiinn . . .", Aku dan Hasan meng amin i bersama sama.


"Aku ikut bro, njenguk babemu", Hasan berdiri, mengikutiku. Aku mengangguk dan segera berjalan (setengah berlari) menuju tempat Bapak di rawat.


Sampai di ruangan tempat Bapak di rawat aku melihat Bapak sedang dibantu Lik Diran untuk minum. Terlihat Bapak masih pucat dan lemah.


"Pak?", Aku memanggil Bapak, pelan. Bapak menoleh ke arahku, dan tersenyum.


"Gimana keadaan Bapak?", Aku mendekat, mengelus elus lengan Bapak. Hasan bersalaman dengan Lik Diran di belakangku.


"Udah manggil perawat Lik?", Aku beralih bertanya pada Lik Diran.


"Sudah, katanya nanti kesini. Bentar lagi hasil pemeriksaan juga keluar", Lik Diran duduk lesehan dengan Hasan di samping tempat tidur Bapak.


"Kamu udah makan Le?", Bapak kembali tersenyum, bertanya padaku. Pertanyaan yang seakan menghujam hatiku. Dalam keadaan sakit pun Bapak masih memperhatikanku. Selama ini kupikir Bapak adalah orang yang dingin, dan tak perhatian padaku. Ternyata anggapanku salah besar.


"Sudah Pakk", Aku tersenyum menjawab, meskipun harus terpaksa berbohong. Karena kenyataannya aku belum makan dan belum juga tidur. Aku nggak mau Bapak mengkhawatirkan aku.


Drrtt Drrtt Drrttt


HP ku bergetar, kali ini telepon dari Ibuk.


"Hallo. . .assalamualaikum Buk?", Aku mengucap salam terlebih dahulu.


"Waalaikumsalam. . . Nak, piye Bapak?", Ibuk bertanya, nada suaranya terdengar gusar.


"Udah baikan kok Buk", Aku menenangkan Ibuk.

__ADS_1


"Syukurlah, . Ibuk bentar lagi nyusul kesana ya. Biar diantar pekerjane Lik Diran, pake motormu. Nanti kan motornya mau kamu pakai kuliah", perkataan Ibuk menyadarkanku, aku ada jadwal kuliah hari ini.


"Lha adik gimana Buk?", Aku bertanya, teringat comelnya si adik kecilku.


"Adikmu ceria wae kok. Dia seneng sama Bu Minah. Bu Minah juga sanggup momong adikmu sementara ini", Ibuk menjelaskan.


"Pokoknya kamu kuliah saja nanti. Lik Diran ya biar pulang dulu, nanti ibuk yang jagain Bapak di situ", Ibuk melanjutkan.


Aku terdiam. Memang keluarga terdekat satu satunya saat ini hanyalah Lik Diran. Untung Lik Diran punya pekerja yang siap sedia membantu. Ibuk adalah seorang yatim piatu sejak kecil, dan tidak memiliki saudara kandung. Satu satunya yang bisa dimintai tolong dalam keadaan seperti ini hanyalah Lik Diran dan para pekerjanya.


"Iya Buk", Aku akhirnya menyetujui apa yang Ibuk sampaikan. Ibuk menutup teleponnya.


Terdengar beberapa langkah kaki mendekat. Dokter dan perawat terlihat masuk ruangan. Lik Diran dan Hasan berdiri dari duduk lesehannya. Aku mundur beberapa langkah, untuk memberi dokter dan perawat ruang untuk memeriksa Bapak. Setelah beberapa saat memeriksa dokter berdehem dan menoleh padaku.


"Keluarga pasien?", tanya pak dokter muda di depanku.


"I- iya dok. Saya anaknya", Aku menjawab, refleks sambil mengangkat tangan. Sadar akan ke konyolanku segera kuturunkan tanganku.


"Bapaknya kecapek an saja. Pokoknya sebisa mungkin perbanyak istirahat. Makannya yang halus halus dulu ya", Pak Dokter berkata kalem dan menenangkan. Kemudian Pak dokter dan perawat beranjak pergi.


"Terimakasih Pak dokter", Aku sedikit terlambat mengucapkan terimakasih.


"Banyakin istirahat Kang. Kalau bisa tidur ya, pokok tidur saja lah", Lik Diran menasehati Bapak ketika dokter dan perawat sudah keluar dari kamar.


"Iya", Bapak menjawab singkat.


"Mau makan pak?", Aku bertanya pada Bapak, melihat jatah makan dari Rumah Sakit berada di atas meja, belum tersentuh.


"Nanti saja lah, nunggu Ibukmu", jawab Bapak.


"Hoalah, lah. . . yo kok manja, pake nunggu minta disuapin bojone to lah lah", Lik Diran terkekeh. Aku ikut menahan tawa, sementara Bapak hanya diam saja.


"Pak? Ngomong-ngomong, siapa Narsih?", Aku bertanya, teringat ketika Bapak meracau waktu suhu badannya sedang tinggi tadi malam.


...*Bersambung...


Mohon maaf update sedikit sedikit.🙇*

__ADS_1


__ADS_2