Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Menginap di rumah Lik Diran


__ADS_3

Aku, Bapak, Ibuk serta adik sampai di rumah Lik Diran. Meskipun belum terlalu larut, pintu rumah Lik Diran terlihat tertutup rapat. Ketika mendengar suara motor datang, Lik Diran membuka pintunya dan melihat keluar. Penasaran dengan siapa tamunya malam-malam begini.


"Lho. . .Kang, kok rombongan kesini semua?", Lik Diran terlihat bingung melihat kedatangan kami. Tidak ada salah satu dari kami yang menjawab pertanyaan Lik Diran. Baik aku, Bapak dan Ibuk masih mengatur nafas.


"Lik, kok sini nggak mati lampu?", Aku bertanya melihat lampu rumah Lik Diran menyala dengan nge jreng nya.


"Hah? Mati lampu? Nggak tuh", Lik Diran menunjuk lampu yang ada di teras rumah, menyala terang.


Aku bertukar pandang dengan Bapak. Jadi yang terjadi di rumah tadi adalah gempa lokal dan mati lampu lokal. Lokal hanya di rumah itu saja maksudnya.


"Mbah Kung ada?", Bapak bertanya kepada Lik Diran setelah beberapa saat.


"Mbah Kung sehabis maghrib tadi pergi ke bukit manik-manik. Tadi cuma ngomong kalau besok pagi baru pulang", Lik Diran menjelaskan.


"Udah sepuh lho Ran, kok mbok biarkan saja. Mbok ya diminta di rumah saja lho", Bapak menggerutu pada Lik Diran, terlihat khawatir.


"Lha gimana lho Kang, kayak nggak tahu Bapakmu wae. Nggak bisa di kasih tahu, yang ada malah mbentak i aku", Lik Diran membela diri.


"Oh iya, mari semua masuk. Jangan di luar saja. Udara sedang dingin", Lik Diran menyadari tamunya masih saja berdiri di depan pintu.


"Pak, gimana nih? Obat e adik ketinggalan di rumah", Ibuk tiba-tiba saja setengah berteriak, menyadari obat dari dokter untuk adik lupa tidak dibawa.


"Besok saja Buk diambil. Sekarang kita masuk dulu yuk, kasihan adik di luar dingin", Bapak menenangkan Ibuk.


Akhirnya kami masuk rumah Lik Diran, berlindung dari dinginnya udara malam ini.

__ADS_1


"Ran, Mbak yu mu biar tidur di kamar cilikanku mbiyen (kamar masa kecil dulu) ya, untuk sementara", Bapak berkata pada Lik Diran, sedikit memohon.


"Iya Kang, monggo wong ya kosong kok. Ada 2 kamar di rumah ini yang kosong nggak kepake", Lik Diran menyetujui. Ibuk kemudian langsung berjalan menuju ke kamar yang dimaksud masih dengan menggendong adik.


"Kang ada apa sih sebener e?", Lik Diran bertanya pada Bapak setelah Ibuk masuk kamar. Sementara aku duduk selonjoran di kursi kayu panjang tidak terlalu jauh dari dua kakak beradik yang sedang ngobrol itu.


"Rumahku aneh Ran, tadi tiba-tiba lemari kayak di tubruk sesuatu, terus banyak barang jatuh berhamburan. Ada suara di genteng seperti di lempari kerikil, terakhir lampu tiba-tiba padam", Bapak menjelaskan Lik Diran menyimak dengan serius.


"Makanya malam ini biarkan kami nginep sini ya", Bapak memohon pada Lik Diran.


"Iya Kang. Nek kayak gitu, mungkin Mbah Kung yang punya solusi. Semoga besok Mbah Kung sudah kembali", Lik Diran mengijinkan kami menginap malam ini.


"Pak, Bapak tadi nggak ngelihat yang ada di jendela to?", Aku bertanya, menyela percakapan Bapak dan Lik Diran. Dari cerita Bapak, nggak menyinggung soal perempuan yang menempelkan tangan dan wajahnya di kaca jendela.


"Emang ada apa di jendela Dan?", Bapak bertanya padaku, Lik Diran juga terlihat penasaran.


"Ng Nggak ada sih Pak. Aku koyok lihat orang tadi di dalam rumah. Berarti salah lihat saja", Aku beralasan.


"Lha wong gelap gulita gitu kok. Nggak kelihatan apa-apa", Bapak berkata sungguh-sungguh.


"Eh Lik, memang e ngapain Mbah Kung ke bukit manik-manik malam hari begini?", Aku bertanya, mengalihkan pembicaraan.


"Ah, kamu itu selalu pengen tahuu aja. Mbah Kung mu itu memang sering menyendiri ke bukit manik-manik. Semacam semedi mungkin", Lik Diran menjelaskan, aku manggut manggut.


"Ngomong-ngomong maafin Pak Lik tadi siang yo, tanganmu tak remes sampek merah. Aku kaget, kamu se berani itu bertanya dan melawan Mbah Kung. Bapakmu dan Pak likmu ini nggak berani lho kayak gitu ke Mbah Kung", Lik Diran tersenyum malu-malu.

__ADS_1


"Iya Lik nggak pa pa. Soale aku sudah ngrasa jengkel sama para orang tua. Kenapa sih orang yang lebih tua, selalu saja menganggapku seperti anak-anak? Setiap aku tanya semua jawabnya sama. Ini urusan orang tua nggak usah ikut-ikut an. Bukankah dalam keluarga pengambilan keputusan itu seharusnya bersama sama. Anak yang belum dewasa pun seharusnya diberi tahu apa yang sudah orangtua rencanakan atau putuskan", Aku kembali merasa jengkel mengingat kejadian kemarin kemarin. Bapak diam saja.


"Kang, anakmu kok puinter omong. Pantes kalau jadi penyiar yo ", Lik Diran terkekeh. Terdengar seperti ejekan bagiku.


"Ran, apa keluargaku pindah rumah saja yo?", Bapak tiba tiba bertanya, Aku dan Lik Diran cukup kaget dengan pertanyaan itu.


"Sek sebentar Kang. Jangan berpikir macem macem dulu. Coba tanya Mbah Kung besok. Aku nggak bisa ngasih saran apapun, soale aku ya nggak ngerti", Lik Diran mencoba mengingatkan Bapak agar tidak terburu buru mengambil sebuah keputusan. Aku hanya diam saja, di satu sisi aku setuju dengan apa yang dikatakan Lik Diran namun di sisi lain bagi diriku sendiri rumah itu memang sudah tidak layak dihuni manusia.


"Sekarang lebih baik, kita istirahat Kang. Opo mau tak buatin minum? Jahe anget? Kopi?", Lik Diran menawari aku dan Bapak minuman.


"Nggak usah Lik", Aku menolak karena memang nggak terlalu suka minum yang manis manis di malam hari. Sebenarnya sih aku sedikit lapar, karena malam ini belum sempat makan. Ah, teringat bakso dari Bapak tadi kutinggalkan di dapur rumah.


"Ran, mbok ya kamu itu nyari pasangan lagi. Nikah lagi. Biar keluarga ada yang ngurus, ada yang bisa nyuguhin minum buat tamu. Ngurus Mbah Kung juga", Bapak tiba-tiba saja melontarkan kalimat yang menurutku sensitif untuk dibahas.


Lik Diran memang seorang duda. Lik Diran pernah menikah, dan isterinya dulu meninggal dunia pada waktu hamil tua. Aku tidak begitu ingat, karena waktu itu aku masih kecil.


"Entahlah Kang. Sulit mencari pasangan yang bisa sesuai kriteria Mbah Kung", Lik Diran menjawab, lirih.


"Lhah? Memangnya untuk jadi mantu nya Mbah Kung Kadir harus memenuhi kriteria dulu to? Memangnya apa kriterianya Lik?", Aku lagi-lagi memotong pembicaraan, penasaran.


"Halah, ribet pokok e Dan. Aku ya enggak begitu faham. Tanyakan saja besok ke Mbah Kung mu", Lik Diran beranjak, berpindah duduk ke depan tv.


"Jadi, Ibuk dulu lolos kriteria dong", Aku masih penasaran.


"Bukan kriteria yang aneh aneh. Sudah tak jelasin to, Mbah Kung mu itu orang yang berpegang teguh pada patokan jaman dulu. Jadi kalau mau cari pasangan pun, ada itung-itungan harinya ", Bapak menjelaskan.

__ADS_1


"Sudah, kamu cepet tidur sana. Masih ada satu kamar kosong. Bapak tak di sofa sini saja", Bapak merebahkan badannya di sofa.


Malam ini, aku dan keluargaku menginap di rumah Lik Diran. Rumah besar nan luas. Rumah petani kaya, petani paling sukses di desa Karang. Terdengar suara burung perkutut di kejauhan, menemani aku menghabiskan malam ini, membolak balikkan badan di dipan karena mata susah untuk terpejam.


__ADS_2