Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Penjelasan Febi


__ADS_3

Namaku Febi Resti Kinanti.


Aku sudah lama menyukai teman satu kelasku di kampus. Namanya Dani Bawana. Dia cowok yang cukup ganteng dan nggak neko neko. Dia nggak terlalu suka nongkrong, nggak ngerokok, pokoknya tipe cowok rumahan banget. Dia kuliah sambil kerja part time sebagai penyiar radio. Seringkali aku senyum senyum sendiri mendengar suaranya yang sedang mengudara di radio. Meskipun anaknya terasa sedikit ndeso tapi setiap kali bertegur sapa dengannya dadaku selalu berdebar.


Pagi ini aku bersiap untuk pergi ke rumahnya, mau ngerjain tugas kelompok. Sebenarnya aku nggak satu kelompok dengannya, namun kebetulan dua sahabatku yaitu Nita dan Erni satu kelompok sama Dani. Jadi, aku ngikut sekalian deh kesana. Agak iri sih, kenapa Nita sama Erni yang beruntung satu kelompok sama Dani, kenapa bukan aku?


Aku berkunjung ke rumah Dani berlima bersama teman temanku. Ada Nita, Erni, juga Hasan dan si kunyuk Irul. Sampai di rumah Dani aku seneng banget, bisa kenalan sama Ibuknya yang ramah, baik dan cantik. Dan seperti mahasiswa pada umumnya, ketika ngerjain tugas kelompok yang terjadi adalah 75 persen ngobrol 25 persen kerja.


Di tengah obrolan, tiba tiba aku berasa pengen ke kamar mandi. Udara dingin di rumah Dani yang membuat perutku bereaksi. Erni pun minta ikut ke ke kamar mandi. Baru beberapa detik di dalam kamar mandi, pintu sudah digedor gedor dengan luar biasa, Erni terasa nggak sabaran. Namun ternyata ketika aku selesai dan bertanya kenapa dia menggedor gedor pintu, Erni menyangkalnya. Dia merasa nggak pernah menggedor gedor pintu kamar mandi.


Setelah itu aku kembali melanjutkan obrolan di ruang tamu. Sesekali aku memperhatikan Dani. Satu hal lagi yang membuatku sangat menyukainya adalah senyumnya yang begitu manis. Ketika dia tersenyum seakan dunia ikut tersenyum padaku. Aku nggak tahu apakah dia sudah punya orang yang disuka atau belum.


Tiba tiba saja aku merasakan hawa panas pada rumah ini. Terasa mengganggu, dan mengintimidasi. Beberapa kali aku merasa seperti ada orang yang mengintip dan mengawasi. Aku memang sedari kecil punya kemampuan untuk melihat dan berkomunikasi dengan makhluk makhluk dunia lain. Tapi baru kali ini aku merasakan yang seperti ini. Ada aura kesedihan, dan dendam yang begitu besar, membuat dadaku terasa sesak.


Sore harinya aku, Nita dan Erni pamit pulang. Sementara duo onar Hasan dan kunyuk Irul katanya mau nginep di rumah Dani. Aku berpamitan pada Ibuknya Dani, kemudian segera menarik gas motorku. Aku pengen cepet cepet pulang dan mandi. Nggak nyaman banget rasanya, entahlah badanku terasa gerah dan lengket, padahal kenyataannya udara sangat dingin.


Hampir satu jam perjalanan, aku akhirnya sampai di rumah. Kepalaku sedikit pusing. Aku langsung menuju kamar mandi. Bapak dan Ibuk terlihat sibuk menggoreng dan meniriskan rengginan, kegiatan wajib mereka sehari hari.


Setelah mandi badanku terasa lebih segar. Aku tiduran saja di dalam kamar. Membuka novel yang kemarin kupinjam dari perpustakaan. Samar samar tercium aroma wangi bunga, harum sih namun lama lama terasa menusuk, aroma wangi yang membuat sesak nafas. Aku segera bangun dan berlari ke pintu, hendak mencari udara segar.

__ADS_1


Saat pintu kubuka, aku tersentak kaget. Dihadapanku berdiri sosok perempuan berambut panjang menjuntai, dengan baju berenda berwarna putih kecokelatan. Wajahnya pucat pasi, dan terlihat basah seperti habis kehujanan. Sosok itu terlihat cantik dan kalem.


Sosok itu berjalan pelan pelan masuk kamar melewatiku. Kemudian duduk di sudut kasur dengan anggun nya. Aku bersedekap dan bersandar pada pintu memperhatikannya. Meskipun tadi cukup kaget, aku sudah terbiasa melihat penampakan seperti ini. Sosok itu hanya menatapku, tatapan yang terasa penuh dengan kesedihan.


"Siapa kamu?," Aku bertanya sambil menutup pintu kamar.


"Namaku Narsih," jawabnya pendek. Ternyata namanya Narsih.


"Mau apa kamu kesini?," Aku bertanya lagi, masih menyandarkan badanku pada daun pintu.


"Aku mau membantumu . . .," jawab Narsih pelan.


"Membantumu mendapatkan Dani," Jawab Narsih cepat dan singkat.


"Hah?," Aku kaget kali ini. Kenapa hantu ini tahu soal Dani?


"Aku tahu kamu suka sama Dani. Aku yang tadi nggedor nggedor pintu pas kamu di kamar mandi. Aku daritadi pengen ngobrol sama kamu," Narsih kali ini tidak irit bicara.


"Oh, jadi kamu penunggu rumahnya Dani. Terus, apa tujuanmu hingga menawarkan bantuan seperti itu padaku? Jauh jauh datang kemari pula," Aku merasa curiga pada hantu ini.

__ADS_1


"Ah, aku nggak ada niatan apapun. Aku hanya ingin membantumu. Aku juga menyukai anak itu dan aku juga suka padamu," Narsih berbicara sambil menunduk, suaranya hampir tak terdengar sama sekali. Aku terdiam beberapa saat.


"Baiklah, aku percaya padamu. Terus apa yang harus kulakukan?," Aku berpikir sejenak dan menerima bantuan Narsih. Nggak ada salahnya kan?


"Ijinkan aku mengikutimu. Membantumu setiap hari. Akan kuberitahu kamu mantra mantra pemikat," Narsih kali ini menatapku. Aku mengangguk setuju, terlihat Narsih tersenyum. Entah kenapa senyum itu terasa mengerikan. Tapi aku mengabaikannya. Aku merasa sudah biasa, mereka terkadang memang terlihat menakutkan.


Hari berikutnya Narsih selalu ada menemaniku. Di rumah, kampus, ruang BEM, kemanapun aku pergi Narsih selalu mengekor di belakangku. Dan hanya aku yang sadar dan tahu keberadaannya. Narsih mengajari aku macam macam mantra, yang katanya bisa membuka aura, bisa membuatku lebih menarik, luwes dan masih banyak lagi yang lainnya.


Aku merasa Narsih 'teman' yang baik buatku. Dan dari dia juga lah aku tahu kalau ternyata Dani diam diam suka pada sahabatku sendiri yaitu Erni. Atas sarannya juga aku 'merekrut' Irul menjadi anak buahku dengan bayaran memberinya mantra pemikat gadis gadis kampus.


Hari itu aku seneng banget bisa jalan berdua dengan Dani, ke rumah Lik Wo. Di rumah Lik Wo aku sempat minta tolong untuk memberikan pageran pengasihan pada Dani, agar Dani mulai membuka hatinya untukku. Lik Wo setuju setelah melihatku memelas.


Diperjalanan pulang dari rumah Lik Wo, aku memberanikan diri menanyakan perasaan Dani terhadap Erni. Meskipun Dani nggak menjawab, aku tahu dari gelagatnya, kalau memang dia benar benar menyukai Erni. Hatiku terasa perih, kenapa harus Erni Dan? Kenapa bukan aku yang mendapatkan hatimu? Kenapa kamu nggak peka kalau cewek yang sedang kamu bonceng ini begitu menyukaimu? Aku hampir menangis di pundak Dani kala itu.


Sampai di rumah, aku merebahkan badanku di kasur, aku menangis mendekap guling. Menyakitkan memang, ketika perasaan kita nggak mendapat balasan. Apalagi ini cinta pertamaku. Narsih duduk di sebelahku, mengelus elus rambutku. Tangannya yang dingin, pucat dan tercium bau bunga kamboja membelaiku lembut. Aku terisak.


"Aku takkan membiarkanmu bersedih seperti ini. Akan kubantu. Terima kehadiranku dalam dirimu. Kamu cukup melihat saja, dan perasaanmu akan terbalaskan. Pejamkan matamu Nak . . .," Narsih berbisik di telingaku. Bibirnya sedingin es ketika menyentuh daun telingaku.


Dalam keputus asaan, aku mengangguk, kemudian aku tertidur. Tidur yang lelap dan . . . panjang . . .

__ADS_1


Narsih tersenyum . . .


__ADS_2