Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Pindah??


__ADS_3

Tepat pukul sebelas, HP ku bergetar. SMS masuk, dari Bapak. Bapak sudah sampai di terminal dan minta untuk dijemput. Aku beranjak dari tempat dudukku, Sementara Hasan tertidur dengan posisi duduk, bunyi dengkuran cukup keras terdengar dari mulutnya. Dasar aneh, nggak Irul nggak Hasan, punya temen nggak beres semua.


"Hei hei!", Aku menepuk nepuk bahu Hasan.


"Hmmm?", Hasan masih ogah-ogah an untuk membuka matanya.


"Aku balik dulu ya, sampaikan sama Bapak Ibuk e Erni", Aku berpamitan pada Hasan yang masih sibuk mengucek- ngucek matanya.


"Nanti kalau ada perkembangan dari Erni tolong SMS aku broh", Aku melangkah pergi. Hasan hanya mengangguk-ngangguk saja.


Aku segera meluncur menuju ke terminal bus, nggak mau membuat Bapak menunggu terlalu lama. Hari ini cuaca cukup menyengat, mungkin musim penghujan segera berakhir. Memasuki area terminal, aku mencari-cari dimana Bapak menunggu. Banyak sekali orang lalu lalang, pedagang, tukang ojek, pengamen, dan beberapa orang yang sama sepertiku mencari anggota keluarganya yang baru datang. Aku menemukan Bapak terlihat sedang berbincang-bincang dengan salah satu pedagang di pojok terminal. Melihatku datang, Bapak melambai-lambaikan tangannya.


"Anaknya ini ya Pak?", tanya si pedagang pada Bapak.

__ADS_1


"Iya Pak, monggo saya pulang dulu", Bapak berpamitan dengan pedagang tersebut. Dan naik di jok belakang si "Thor". Kami meluncur pulang, udara semakin terasa panas saja.


Di atas motor tak banyak yang kami obrolkan. Aku hanya menyampaikan kalau Mbah Kadir tadi malam marah-marah nggak jelas. Meminta Bapak ke rumahnya hari ini. Harus hari ini.


"Pak, sebenarnya ada apa sih? Bapak menyimpan rahasia dari aku dan Ibuk?", Aku memberanikan diri bertanya, karena memang rasa penasaranku begitu bergejolak. Bapak hanya diam saja, tak menjawab sepatah kata pun.


"Pak? Bapak tahu nggak sebelum adik kemarin nangis kejer, aku sempet lihat perempuan dan anak kecil di teras rumah. Dan sebenarnya aku beberapa kali merasakan ke anehan lho di rumah", Aku masih mencoba meminta penjelasan Bapak.


"Itu urusan Bapak. Kamu tugasmu, belajar. Fokus kuliah. Ntar lulus kuliah jadi PNS, biar bikin Bapak dan Ibuk bangga. Udah itu aja.", Bapak menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang nggak nyambung. Tapi aku nggak berani menyanggahnya, aku menghentikan obrolan yang nggak ada titik temu ini.


"Pak? Sebenarnya, ada apa kok mbah Kung minta Bapak ke rumah hari ini? Apa yang kamu sembunyikan dariku Pak?", Ibuk bertanya pada Bapak, mengekor di belakang Bapak.


"Bojo baru pulang jangan ditanyai neko neko. Siapin minum apa makan gitu lho. Ngerti nggak ini aku lagi capek. Lagian ojo ikut-ikut ngurusin urusan laki. Tugasmu cukup membesarkan anak-anak", Jawaban Bapak kali ini membuat aku geram. Bagaimana bisa Bapak punya pemikiran seperti itu? Ibuk hanya mengangguk terdiam.

__ADS_1


* * *


Jam satu siang setelah mandi dan makan, Bapak bergegas ke rumah Mbah Kadir, menunggangi si "Thor". Aku sempat meminta untuk ikut, tapi Bapak hanya diam nggak menggubris permintaanku. Aku dan Ibuk hanya mampu menunggu. Tanpa tahu apa yang sedang dilakukan Mbah Kadir dan Bapak. Apa yang mereka sembunyikan dari keluarga ini? Ibuk terlihat menangis. Wajar menurutku Ibuk sakit hati dengan perkataan Bapak tadi. Entahlah, Bapak sedikit berubah hari ini, seperti bukan Bapak yang biasanya.


* * *


Menjelang maghrib, suara pick up memasuki halaman rumah. Aku, Ibuk dan Adik melihat ke teras depan. Ternyata ada Lik Diran dan Bapak di dalam pick up. Sementara si "Thor" nangkring di bak belakang pick up. Bapak keluar dari dalam pick up, berjalan tergesa-gesa mengajak kami masuk ke rumah.


"Kalian semua, ayo berkemas. Untuk sementara kita nginep di toko", Bapak melangkah masuk kamar, meninggalkan aku dan Ibuk yang nggak ngerti dengan apa yang sedang terjadi, namun kami nggak mampu bertanya ataupun membantahnya.


Bukan jawaban yang aku dapatkan hari ini, melainkan satu lagi pertanyaan bertambah. Kenapa kita harus pindah?


Ada apa lagi ini???

__ADS_1


- - -


__ADS_2