Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Aku, kamu dan trotoar


__ADS_3

Pagi hujan rintik-rintik. Kabut yang cukup tebal, seakan menjadi selimut bangunan rumahku. Sudah seminggu semenjak kecelakaan Lik Wo, belum ada tanda-tanda beliau akan siuman. Ya, Lik Wo masih dalam kondisi koma di rumah sakit. Beberapa kali aku menjenguknya. Istri Lik Wo tidak pernah menyapaku saat kami bertemu. Mungkin istri Lik Wo menyalahkan aku atas tragedi yang telah menimpa Lik Wo. Aku pun merasa ini semua juga gara-gara aku. Seandainya saja aku nggak meminta bantuan Lik Wo, mungkin saja hal ini nggak akan terjadi.


Aku menatap langit-langit kamar, merenungkan apa langkahku selanjutnya. Haruskah aku mendiskusikan apa yang aku alami dengan Ibuk? Aku merasa aneh, kami sekeluarga tinggal di sini bareng, tapi hanya aku yang mengalami kejadian-kejadian aneh. Mungkinkah bukan rumah ini yang bermasalah, melainkan diriku? Ataukah hanya aku yang tidak disukai oleh mereka yang tak kasat mata? Kepalaku gatal memikirkannya.


Aku berjalan gontai keluar kamar, males. Angin berhembus pelan menerpa wajahku. Dingin dan seger rasanya. Samar-samar tercium aroma bunga, makin lama makin menusuk hidung aromanya. Aku begidik, ngeri. Bulu kudukku meremang, pertanda ada yang nggak beres. Secepat kilat aku kembali masuk ke dalam kamar. Aku duduk di sudut kasur dengan perasaan was was. Ah, sial, kenapa selalu aku yang diganggu di rumah ini? Bapak, Ibuk bahkan adik kecilku seakan nggak pernah merasakan apa-apa.


HP di meja bergetar, aku beringsut dari kasur. Ada satu pesan masuk, cukup kaget aku melihat nama Erni di layar HP polyponic ku.


-Dan, kamu lagi ada jam siar nggak?-


Begitu isi pesan dari Erni setelah kubuka.


-Ada apa nih? Tumben- balasku bertanya.


Ting . . . terkirim .


Beberapa detik kemudian HP bergetar kembali.


-Motorku mogok, di dekat studio mu, bengkel cukup jauh, bisa minta tolong nggak?-


-OK, kamu tunggu di situ ya- Segera kubalas pesan Erni, sambil menyambar jaket, sudah tidak kupedulikan lagi aroma-aroma an yang tadi sempat menggangguku. Aku bergegas keluar rumah, membelah kabut yang masih tersisa tipis-tipis.

__ADS_1


Dengan kecepatan yang lumayan tinggi, lima belas menit aku sudah memasuki kawasan jalan mayjend sungkono, area studio radio. Aku memperlambat laju motorku sambil menajamkan penglihatanku. Ah, Erni terlihat duduk di trotoar, memakai celana jeans dan kaos warna orange lengan panjang. Aku mendekat, menepikan motorku di sebelahnya.


"Hai, gimana-gimana?" aku tersenyum (semanis mungkin) menyapanya.


" Nggak tahu nih Dan, tiba-tiba kayak nyendat gitu, udah cukup jauh aku tadi ndorong, gak nemu bengkel", jawab Erni sambil mengelap keningnya dengan tissue, aku tersenyum melihatnya.


"Ah, mungkin lampu sein nya nih yang bermasalah", Aku nyelutuk mencoba mengajaknya becanda.


"Gitu toh? Emang ngaruh?", Erni bertanya dengan wajah polosnya.


Aku terkekeh, ternyata cewek ini bener-bener nggak faham mesin motor.


"Hah? Jadi, ini tadi kamu dari rumah?", Aku mengangguk kali ini.


"Haduh, maaf ya Dan, jadi ngrepotin kamu", Erni terlihat menyesal.


"Nggak po po Er, aku malah seneng kok", Aku menatapnya dengan tersenyum. Erni memalingkan pandangannya dariku.


"Aku beneran seneng, akhirnya ada waktu ngobrol sama kamu", Entah darimana nyali ku muncul kali ini, kalimat itu meluncur dengan lancar dari mulutku.


"Hah? Maksudnya?", Erni mengernyitkan dahi, entah dia beneran nggak ngerti atau pura-pura saja. Aku menarik nafas cukup dalam.

__ADS_1


"Jadi, aku ngerasa kita jadi jauh akhir-akhir ini", Aku ngomong sambil memeriksa kondisi motor Erni.


"Aku tahu, kamu sekarang udah punya cowok, tapi beneran deh, kita jarang ngobrol, jarang saling sapa, nggak kayak dulu lagi", Aku menghela nafas. Erni terdiam, bibirnya tertutup rapat.


"Dan satu hal Er, yang perlu kamu tahu. . .aku . . . nggak ada hubungan apa-apa dengan Febi", Aku melanjutkan kalimatku dengan sedikit ragu. Jujur, aku akhir-akhir ini mulai merasa punya "rasa" pada Febi, namun memang benar, meskipun sudah banyak yang terjadi, termasuk ciuman itu, namun aku dan Febi sampai saat ini, tidak atau mungkin belum memiliki hubungan yang lebih dari seorang teman.


"Dan. . .untuk apa kamu membahas hal ini sekarang?", Erni melihatku, bola matanya terlihat sedikit bergetar.


"Jujur, aku . . ."


"Eh, Dan, gimana motorku?", Erni memotong ucapanku dengan cepat.


"Er, aku suka sama kamu, mau sama kamu, dari dulu. . .sampai sekarang", Aku mengatakannya, nafasku memburu. Meskipun Erni mencoba memotong ucapanku, mengalihkan pembicaraan ini, aku sudah membulatkan tekad untuk mengatakannya.


"Dan . . .aku, udah ada Iwan", jawab Erni, terlihat dia menggigit bibir bawahnya.


"Ya, aku tahu Er, aku juga nggak ada niat untuk mengganggu kalian. Aku, aku hanya pengen kamu tahu dengan jelas, bagaimana perasaanku padamu. Aku tahu kamu akan menolakku. Aku hanya pengen ini menjadi jelas, kalaupun tidak menjadi cowokmu, setidaknya aku tetap bisa menjadi temanmu Er, jadi. . .plis jangan jauhi aku", Aku menatapnya dalam. Suasana hening dan canggung.


Suara deru motor lalu lalang mungkin terdengar ramai dan bising. Namun di telinga dua insan yang sedang di atas trotoar ini, hanya ada keheningan. Kesunyian yang panjang.


 

__ADS_1


__ADS_2