Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Pengkhianat sebenarnya


__ADS_3

Acara makan-makan berakhir semarak bagi semua orang, kecuali diriku. Aku sedari tadi hanya mengiris-iris daging steak tanpa menyuapkannya ke mulut. Irul yang heboh mencoba mendapatkan hati salah satu gadis BK, sedari awal hingga akhir terus menerus melucu nan garing, yang membuatku cukup muak. Febi yang mengambil duduk di dekatku, mencoba mengajakku ngobrol tapi aku selalu menjawab singkat dan dingin. Aku memang ingin memperjelas pada Febi, bahwa aku tidak ingin membuka hatiku untuknya.


"Terimakasih sudah datang dan terimakasih atas doa doa terbaiknya untukku. Juga, mari kita berdoa sejenak untuk sahabat ku Erni, yang saat ini sedang di rumah sakit. Semoga cepet sembuh, cepet bangun dan segera pulih seperti sedia kala", Febi berkata sambil berdiri, menutup acaranya dengan mendoakan Erni. Ya, ternyata dia masih ingat Erni, sahabatnya yang sedang sakit.


Satu persatu teman-teman Febi mulai beranjak pamit. Dan akhirnya menyisakan 5 orang yang masih berada di tempat duduknya, belum beranjak kemanapun. Ada Hasan, Irul, Nita, Febi dan tentu saja aku, yang sebenarnya pengen banget untuk segera pulang.


"Ayok nyuk, segera balik", Aku mengajak Irul untuk segera pulang, karena kita barengan.


"Bentar dulu lah, tak habisin dulu es batu di gelasku", Irul mengunyah beberapa kotak es batu, melihatnya saja gigiku terasa ngilu.


"Hei Dan, akun apa sih yang kamu bicarakan sama Hasan tadi?", Nita tiba-tiba saja bertanya padaku. Aku dan Hasan terkaget dan saling bertukar pandang. Nggak seharusnya membahas akun Sogo Girl dihadapan tersangkanya langsung, si Febi.


"Ah itu . . .akun cewek-cewek yang pake foto profil cantik ternyata pas ketemu beda sama di foto", Hasan segera menjawab pertanyaan Nita. Jawaban yang good job.


"Bukannya kamu suka sama Erni to Dan? Ngapain lihat-lihat akun cewek? Wah kamu jangan-jangan sama saja kayak Iwan", Nita bersungut-sungut.


"Uhuukk uhukk uhuukkk", Irul tersedak, bukan dibuat-buat, dia kelihatan kesakitan.


"Kalem nyuukk kaleemmm", aku menepuk nepuk punggung Irul.


"Nggak lah Nit, aku sukanya cuma sama Erni, aku cuma iseng aja pas kemarin ditunjukan foto-foto itu sama Irul", Aku berkata penuh penekanan, soal perasaanku pada Erni. Kulihat Febi diam saja.


"Kok jadi aakuu. . .uhukk", Irul protes.


"Udaahh, diam saja kamu. Kunyah juga nih es batu punyaku", Aku menyodorkan gelasku pada Irul.

__ADS_1


"Heeii gaes, aku balik duluan ya, kalian santai-santai saja di sini. Aku ada urusan", Febi tiba-tiba saja berpamitan, entah apa yang dipikirkannya.


"Oh, Oke. . .hati-hati di jalan Fee", Nita yang menyahut, sementara 3 cowok di hadapannya, hanya diam saja. Febi mengangguk dan segera pergi berlalu meninggalkan kita berempat.


"Yaudah deh, aku juga mau balik, ngapain juga berlama-lama sama bujang-bujang masa depan nggak jelas", Nita hendak beranjak dari kursinya.


"Sek, sebentar Nit, ada yang mau aku ceritain", Aku mencegah Nita pergi. Nita menaikkan salah satu alis matanya.


Akhirnya aku menceritakan pada Nita tentang akun Sogo Girl, yang telah mengirimkan fotoku berboncengan dengan Febi ke Hasan. Asal muasal kesalahpahaman antara aku dan Erni. Hingga akhirnya Erni menjauh dariku dan bersama Iwan. Akun Sogo Girl mencantumkan tanggal lahir di bio nya yaitu 04 April 1991, tanggal lahir yang sama dengan Febi. Nita manggut-manggut mengerti.


"Aku nggak sadar sih, sebegitu suka nya ya Febi ke orang macam kamu?", Nita terkekeh.


"Bukan itu masalahnya. Aku nggak suka dibohongi. Aku nggak suka ditipu", Aku berkata sungguh-sungguh.


"Dan intinya, kamu suka nya sama Erni kan?", Nita mengangkat kedua alisnya. Aku mengangguk.


"Dari tadi kunyuk satu itu toileettt wae", Aku menggerutu. Namun, aku jadi sedikit khawatir melihatnya. Jangan-jangan memang bermasalah perut si Irul.


"Coba tak susul dulu ya si kunyuk. Kalian tunggu di sini", Aku beranjak dari dudukku.


"Iddiihhh, perhatian beneerrr", Hasan nyengir, mengejek.


"Gitu-gitu dia itu temen paling te o pe lhoh. Selalu ada pas kubutuhin, uhhuuii he he he", Aku terkekeh sendiri. Hasan dan Nita mengacungkan jempol dan ikut tertawa.


Aku bergegas menuju toilet. Aku memang khawatir, kalau-kalau dia kena semacam sawan (penyakit) karena menginjak sesajen pas di rumah tadi.

__ADS_1


Ternyata di toilet kosong tidak ada siapapun. Tidak ada tanda-tanda si Irul berada di toilet. Aneh, mungkinkah ada toilet lain, aku mencoba mencari di sisi lain Oslo steak. Tak kutemukan batang hidung manusia satu itu di dalam ruangan Oslo Steak. Akhirnya, aku mencoba keluar ruangan. Aku semakin khawatir saja, kalau-kalau dia menghilang diculik lelembut misalnya.


Beberapa saat mondar mandir di teras Oslo steak, akhirnya kutemukan Irul sedang berdiri di dekat parkiran. Tapi, dia nggak sendirian. Dia terlihat sedang mengobrol dengan seseorang. Dan ternyata dia sedang bersama . . .Febi.


Aku merasa penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan. Aku mendekat melalui sisi lain, kebetulan di sebelah kiri mereka berjajar mobil-mobil terparkir. Aku menyelinap mendekat di balik mobil sebelah mereka berdiri. Aku mengintip dan menguping pembicaraan mereka.


"Katamu, kamu bisa membuat Dani lebih dekat denganku, mana?", Febi terlihat marah.


"Ya aku kan cuma janji untuk ngajak Dani bisa datang kesini Fee, mana kutahu dia tetep dingin ke kamu", Irul terlihat ketakutan.


"Dia masih saja terus berharap bisa sama Erni. Ingat ya Rul, kalau sampai Dani nggak jadi sama aku, kamu tahu akibatnya untukmu kan?!", Febi memelototi Irul.


"Tapi Fee, aku sudah melakukan semua yang kamu minta, mem foto kalian, mengirim foto kalian ke Hasan. Semua sudah kulakukan dengan sempurna, sesuai permintaanmu", Irul memelas.


"Aku nggak mau tahu! Kamu harus membuat Dani dekat denganku!", Febi benar-benar melotot, wajahnya terlihat menyeramkan, tidak seperti Febi yang kukenal selama ini. Irul hanya tertunduk tidak berani menatapnya.


"Bagaimanapun caranya, larutkan ini ke minuman Dani. Pastikan dia meminumnya!", Febi memberikan sebuah benda terbungkus kain putih lusuh dan kumal, entah apa isinya.


"Ba. . .Baik Fee", Irul tergagap.


"Kalau sampai ini gagal, kamu atau salah satu keluargamu akan kubuat menderita!", Febi terdengar membentak. Dan entah bagaimana Irul terlihat jatuh tersungkur. Pandanganku terbatas, tidak begitu jelas apa yang sudah terjadi.


Febi terlihat pergi meninggalkan Irul. Sementara Irul masih sempoyongan mencoba untuk berdiri kembali. Aku harus segera kembali masuk ke Oslo steak jangan sampai keduluan Irul, begitu pikirku. Dengan satu gerakan cepat tanpa bersuara, aku memutar badan, dan segera berlari kembali masuk ke dalam Oslo steak.


Aku masih bingung dan tak percaya dengan apa yang baru saja kusaksikan. Ternyata yang selama ini menjadi duri dalam daging adalah sahabatku sendiri. Pantas saja selama ini Irul selalu membela Febi. Sebegitu tunduknya Irul pada Febi. Apa yang sudah Febi lakukan pada Irul hingga dia begitu ketakutan?

__ADS_1


 


__ADS_2