
Aku menyambut Bapak dan Ibuk ke teras depan rumah. Aku mencoba bersikap seperti biasa, seolah tidak ada keanehan apapun. Meskipun kenyataannya baru saja aku senam jantung diteror oleh Mbak mbak berambut panjang.
"Kenapa kamu Lee. . .kok pucet gitu?", Ibuk bertanya padaku. Selalu saja Ibuk bisa tahu detil detil se kecil apapun dari raut wajahku.
"Ah, ini Buk baru lihat film horor di tv", Aku menjawab, berbohong.
"Gimana adik Buk? Apa kata dokter?", Aku bertanya, melihat adik yang kini tertidur di gendongan Ibuk.
"Nggak pa pa, mungkin kecapek an aja. Kan baru pindahan, mungkin capek di perjalanan", Ibuk menjawab, berjalan masuk ke dalam rumah.
Bapak menyusul di belakang Ibuk. Menyodorkan padaku kantong plastik yang isinya bakso. Aku nggak berselera sama sekali. Bagaimana mungkin bisa makan enak jika hal hal seram menghantui. Anehnya sampai detik ini hanya aku yang selalu mendapat teror dari rumah ini.
"Dan, nonton tv suarane kok koyok bledeg (liat tv kok kenceng banget suaranya)", Ibuk mengambil remote dan mengecilkan suara tv. Aku hanya senyum senyum saja.
Ibuk langsung masuk kamar bersama adik. Bapak duduk di ruang tamu setelah menggantung jaketnya di dalam lemari sebelah tv. Aku ke dapur, meletakkan plastik berisi bakso di meja.
"Kok nggak di maem Dan baksonya?", Bapak bertanya padaku, melihat aku belum berniat memakan bakso yang merupakan salah satu makanan favoritku.
"Ah, nanti saja Pak, aku masih kenyang", Aku beralasan. Aku segera masuk kamar, enggan untuk duduk di depan tv. Masih terbayang sosok berambut panjang tadi.
Di dalam kamar, aku hanya duduk termenung. Nggak tahu harus ngapain, mau tidur juga nggak ngantuk. Aku teringat punya komik yang aku pinjam dari Irul beberapa minggu yang lalu. Komik yang belum sempat kukembalikan. Sulit untuk mengembalikannya saat ini karena hubunganku dengan Irul sedang tidak baik.
Drrtt Drrtt Drrrttt
HP ku bergetar, sebuah SMS masuk.
~Dani, kamu sedang apa? Bls~
SMS dari Febi. Aku meletakkan HP ku kembali. Aku nggak berniat membalas SMS nya. Aku nggak ngerti kenapa cewek itu terasa seperti semakin terobsesi padaku. Padahal aku dulu merasa bisa berteman baik dengannya. Namun kenapa perubahan yang terjadi padanya seperti tiba-tiba dan instan. Seingatku Febi menjadi aneh (sebenarnya dari awal kenal, anaknya sudah aneh sih) setelah dia berkunjung dari sini.
Drrttt Drrtt Drttt
Kali ini sebuah telepon masuk. Nomor yang nggak kukenal. Siapa lagi nih? Aku mengangkat telepon dan menempelkan di telingaku.
"Hallo . . .", sebuah suara, ibu-ibu sepertinya.
__ADS_1
"Hallo, mohon maaf ini siapa?", Aku bertanya terlebih dahulu.
"Ini nak Dani kan?", suara perempuan yang agak familiar bagiku.
"Iya, ngapunten (maaf) ini siapa?", Aku bertanya sekali lagi.
"Ini saya Nak, Bu Sumini. . . Bu Sumini nya Lik Wo", Ternyata suara ini adalah suara Bu Sumini.
"Nggeh Bu Sumini, gimana kabar Ibu dan Lik Wo?", Aku yang teringat Lik Wo segera menanyakan kondisinya.
"Semua sehat, semua baik, Lik Wo juga sudah semakin membaik. Sudah pulih ", Bu Sumini terdengar sumringah.
"Syukurlah", Aku bernafas lega.
"Ngomong-ngomong ada apa nih bu? Eh, dapat nomer saya darimana Bu?", Aku bertanya menyelidik, meskipun aku tahu jawabannya.
"Ya waktu Lik Wo mau ke rumahmu itu, Lik Wo minta nomormu pada Febi", jawaban Bu Sumini sudah kuduga.
"Ini Nak. Kalau pas senggang, ada waktu berkunjunglah kemari. Lik Wo mau menyampaikan sesuatu katanya", Bu Sumini berbicara terdengar serius.
"Ah iya Bu, maafkan saya belum sempat menengok kesana", Aku sedikit malu menyadari bahwa aku lupa belum menjenguk Lik Wo.
"Nggeh bu, baik. Saya pasti akan berkunjung. Saya janji", Aku menjawab bersungguh-sungguh.
Setelahnya Bu Sumini menutup teleponnya. Aku menjadi merasa sungkan. Orang yang berusaha membantu aku waktu itu, hingga mengalami kecelakaan, aku belum pernah meluangkan waktuku untuk menengoknya. Padahal mau dikatakan sibuk pun enggak juga sih. Dasar, keterlaluan.
Aku meletakkan HP ku di meja, dan mengambil komik yang ada di laci. Komik dengan cerita seru yang hampir tamat, serial Taruno. Meskipun komik ini sudah kubaca, karena nggak ada kerjaan apapun, aku memutuskan untuk membacanya kembali. Baru ku buka halaman pertama, tiba tiba . . .
Huwaaaaaa . . .
Adikku menangis kencang di kamarnya.
Jdeerrr. . . Praanggg
Di susul suara benda seperti tertabrak sesuatu.
__ADS_1
"Paakkkk?", Suara Ibuk setengah berteriak memanggil Bapak di tengah keriuhan ini.
Aku melempar komik di tanganku dan melompat keluar kamar. Terlihat Bapak tergopo gopoh berlari ke kamar mencari Ibuk. Aku melihat lemari sebelah tv sedikit bergetar, sementara barang-barang yang terletak di atas lemari berhamburan ke lantai. Sebuah vas bunga terlihat pecah di depan tv yang masih menyala tanpa penonton sedari tadi.
"Daniii. . .ayo kita ke Mbah Kung Kadir", Ajak Bapak sambil menggamit lengan Ibuk. Sementara adik masih menangis di dekapan Ibuk. Siaall, ada apa lagi ini . . .
"Ada apa ini Pak?", Aku bertanya, mengedarkan pandangan, masih belum mengerti dengan situasi saat ini.
"Nggak tahu Lee, ujuk ujuk (tiba-tiba) ono gempa", Ibuk menjawab sambil menata kain gendongan Adik.
"Gempa apa? Nggak ada apa apa lho. . .", Aku masih celingak celinguk.
"Makanya ayok kita semua ke rumah Mbah Kung. Ada yang nggak beres", Bapak setengah membentak kepadaku.
Krutuk krutuk krutuk . . .
Terdengar suara genteng seperti dihujani batu kerikil. Aku, Bapak dan Ibuk kompak mendongak bersama sama. Kami saling bertukar pandang. Kemudian aku segera masuk kamar cepat cepat mengambil kunci motor.
"Ayok Pak Buk, Ayok kita ke rumah Mbah Kung", leherku mulai terasa dingin, merinding. Sinyal bahaya dari tubuhku, ada yang nggak beres.
"Ayok Buk", Bapak menggandeng Ibuk. Aku berlari terlebih dahulu ke luar rumah. Bapak dan Ibuk di belakangku.
"Pak, pintunya dikunci dulu. Tv belum dimatikan", Ibuk menghentikan langkahnya.
"Nggak usah!", Bapak terdengar membentak.
Aku pun heran sama Ibuk, bisa bisa nya kepikiran kunci pintu dan tv disaat seperti ini. Aduh Buk. . . ayolah yang penting kita lari dulu. Aku gemes sendiri.
Kusambar Thor yang masih di halaman rumah, sementara Bapak bergegas mengambil motor astrea nya di samping rumah.
Peetttt
Mati lampu. Gelap gulita. Tak ada penerangan apapun. Bahkan langitpun tak bersahabat. Bintang dan bulan tertutup oleh awan. Sempurna sudah kita sekeluarga ditelan kegelapan. Segera kuhidupkan Thor. Bapak juga sudah menyalakan tunggangannya. Ibuk sudah duduk di jok belakang motor Bapak dengan menggendong adik.
Saat lampu Thor kunyalakan, tepat mengarah ke dalam rumah. Sosok perempuan berambut panjang mengintip dari dalam rumah melalui jendela depan. Wajah dan kedua tangannya ditempelkan di kaca. Nampak cukup jelas, wajahnya yang pusat pasi menatapku.
__ADS_1
"Bapaaaakkkkk. . .Ayooooooooo", Aku berteriak sekencang kencangnya.
_ _ _