
"Dan, ada satu hal yang perlu kamu tahu", Erni terlihat menghela nafasnya pelan.
"Apa?", aku penasaran.
"Aku memang menjauh darimu. Tapi itu bukan karena Iwan", sekali lagi Erni menghela nafas. Terlihat dia ragu untuk meneruskan kalimatnya.
"Febi yang memintaku untuk menjauhimu", Erni mengatakannya sambil menatapku.
Beberapa saat aku terdiam. Aku sedikit tidak yakin dengan perkataan Erni.
"Tapi, untuk apa Febi mengatakan itu padamu Er?", Aku bertanya untuk meyakinkan diriku.
"Mungkin dia benar-benar menyukaimu Dan. Pada waktu itu dia mengajakku ke kafe jones. Dia mengatakan padaku untuk menjauhimu, karena kalian sudah jadian. Dia tahu, waktu itu aku. . .aku menyukaimu", Erni berkata lirih. Sebuah kalimat yang bagaikan sambaran petir disiang bolong untukku. Jadi, selama ini Erni suka padaku, sama seperti aku yang juga menaruh hati padanya?
"Tapi, itu cerita yang sudah berlalu Dan. Sekarang aku sudah ada Iwan. Meskipun ternyata kamu nggak ada hubungan apapun dengan Febi, aku mungkin nggak bisa terlalu dekat lagi denganmu, kamu mengerti kan Dan?", Erni menatapku, aku hanya mengangguk.
Saat ini perasaanku campur aduk, sesaat yang lalu seperti di lambungkan tinggi, dan sesaat kemudian sudah terhempas terjatuh. Lututku rasanya lemas tak kuat lagi menyangga tubuh, namun aku mencoba menguasai diriku. Aku nggak mau terlihat cupu di depan Erni. Aku mencoba tersenyum menatap Erni.
"Motormu kayak e busi ne deh Er", Aku kali ini mengalihkan pembicaraan, Erni hanya diam saja.
__ADS_1
Aku mengambil busi cadangan yang sudah aku siapkan tadi di dalam tasku. Beberapa saat kemudian motor Erni sudah menyala lagi. Aku tersenyum puas, serasa sudah jadi montir andalan.
"Dah beres nih", Aku menepuk nepuk jok motor Erni.
Erni mendekat kearahku.
"Diem dulu deh", kata Erni, sambil mengelap pipi kiriku memakai tissue.
"Kotor nih", Erni menunjukkan tissue yang menghitam berdebu.
Aku tersenyum, tersipu. Sungguh detak jantungku berdegup kencang kali ini.
"Iya", jawabku singkat.
"Soal yang tadi, aku harap kamu jangan sampai marah ke Febi, kelihatannya dia benar-benar tulus mau sama kamu. Dia cewek baik Dan. Aku yakin kamu bakal seneng kalau sama dia", Erni memegang lenganku.
"Entahlah Er, aku masih nenyukaimu, dan bisa ku simpulkan saat ini, bahwa Febi lah yang membuatku jadi jauh sama kamu, nggak bisa sama kamu", Aku menatap Erni, menepuk pungung tangannya yang menggegam lenganku.
"Nggak Dan, bukan salah Febi. Mungkin memang bukan takdir kita, jangan salahkan Febi karena usahanya untuk mendapatkanmu", Erni terlihat bersungguh-sunggub dengan ucapannya.
__ADS_1
"Oke, aku mengerti", Aku mengakhiri perdebatan ini, meskipun di sudut hatiku ada rasa kecewa kepada Febi.
"Habis ini mau nendi ki?", Tanyaku pada Erni yang sudah nangkring di motornya.
"Mau ngerjain tugas Sosiologi di rumah Nita, sekali lagi tengkiyu banget ya Dan", Erni memakai helm nya yang berwarna kuning mencolok.
"Aku duluan ya, kapan-kapan ku traktir deh", Erni menghidupkan motornya, kemudian mengangkat jempolnya kearahku.
"Iyess, ngati ati di jalan ", sahutku, melepas Erni yang sudah melambai-lambai memacu motornya.
Aku terduduk di pinggir trotoar. Masih males beranjak dari tempat ini, meskipun matahari sudah semakin terasa terik dan menyengat.
Drrttt . . .Drttt . . .Drtttt
Hp bergetar, ada telepon. Mungkinkan Erni? Motornya mogok lagi kah?
Kulihat layar HP, ternyata Febi tertulis di sana. Sial, aku lagi males ngomong sama dia. Ku letakkan HP di trotoar sebelah tempatku duduk. Kubiarkan saja getaran HP terus meraung raung berulang kali. Kunikmati sengatan sang surya di ubun-ubunku, panasnya meresap ke dalam hatiku.
__ADS_1