Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Bukit manik manik


__ADS_3

Motor 2 tak Pak Manto meraung raung melewati jalan menanjak ke arah selatan dari rumah Lik Diran. Jalanan semen sepanjang kurang lebih 4 kilometer telah kami lalui. Jalanan berubah menjadi jalanan tanah liat dengan kemiringan yang luar biasa. Beberapa kali ban belakang motor Pak Manto mengalami slip, hingga aku harus turun dan mendorongnya. Baju semua orang dalam rombongan sudah penuh dengan lumpur, lempung, debu dan kerikil halus. Entahlah, apakah bajuku nanti masih bisa dicuci atau tidak.


Akhirnya rombongan berhenti di tanah lapang di kaki bukit. Cahaya matahari bersinar dengan cetar kali ini. Terasa hangat dan menyegarkan. Aku turun dari motor, memperhatikan sekitar. Banyak sekali gelagah, rumput liar dan tanaman perdu yang nampak rimbun.


"Mulai sini, sampai atas sana tanahnya milik Mbah Kung semua Dan," Lik Diran menunjuk puncak bukit di depanku.


"Luas ya Lik," Aku manggut manggut kagum.


"Yah begitulah. Nanti kita bakal melewati pohon pohon durian milik Mbah Kung. Sayangnya ini lagi nggak musim berbuah," Lik Diran menjelaskan.


"Monggo mas, Pak. Kita jalan. Hati hati jalannya cukup licin, habis hujan soalnya," Pak Manto mengajak Aku dan Lik Diran melanjutkan perjalanan.


Perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki. Kali ini rombongan harus melalui jalan setapak di tengah perkebunan durian, manggis dan buah buahan lainnya. Sinar matahari tak mampu menembus area perkebunan. Karena memang pepohonan disini sudah sangat besar. Salah satu pohon durian terlihat memiliki ukuran jumbo, mungkin saja umur pohon ini lebih tua dariku.


"Lik, lha Mbah Kung kalau kesini jalan kaki ya? Sendirian gitu, malam malam?," Aku bertanya sambil melangkah mengikuti para pekerja Lik Diran yang berjalan di depanku.


"Iya," Lik Diran menjawab singkat.


"Lha biasanya tempat semedi nya dimana?," Aku mulai merasa engap dan ngos ngos an.


"Ya kurang lebih satu kilo meter dari sini," Suara Lik Diran terdengar tersengal. Sama sepertiku, kelihatannya Lik Diran mulai merasa capek dan ngos ngos an.

__ADS_1


Aku ternganga mendengar jawaban Lik Diran. Mbah Kung Kadir dengan usia se tua itu, berjalan kaki dari rumah sampai atas bukit dengan jarak tempuh yang jika di total lebih dari 5 kilo meter dengan kondisi jalan yang sulit seperti ini. Dan bagaimana mungkin dia bisa berjalan di malam hari? Ini di luar pemahaman dan logikaku. Sudah berulang kali Kakek satu itu membuatku takjub keheranan.


"Ayok Dan, ojo bengong wae," Lik Diran memanggilku, saat melihatku yang terbengong bengong. Aku tersadar dan segera menyusul, orang orang sudah cukup jauh di atas sana.


Jalan semakin menanjak saja. Bahkan terasa seakan sedang memanjat pohon. Ketika melangkah, lutut bergesekan menyentuh dada. Kemiringan mungkin di atas empat puluh lima derajat. Lik Diran terlihat kesulitan mengatur nafas.


"Hei hei, Bapak bapak . . . istirahat dulu ya . . .huh," Lik Diran berhenti dan duduk di batu besar bawah pohon rambutan. Akhirnya rombongan berhenti sejenak.


Suara burung terdengar bersahutan sahutan dan bergema di kejauhan. Suara yang indah. Seandainya semua makhluk hidup dibiarkan berada di habitatnya termasuk para burung tidak terkurung dalam sangkar, mungkin keindahan dan kemerduan kicauannya dapat kita nikmati secara alami seperti yang kurasakan saat ini.


Aku mengambil botol air minum di tas slempang kecilku. Meneguknya, dan ternyata terasa manis. Manis khas gula aren. Pasti Ibuk tadi yang mengisi botol air minumku dengan gula aren. Memang di daerah sini gula aren terkenal berkhasiat sebagai penambah tenaga.


"Ayok Bapak bapak, kita lanjut lagi," Lik Diran memberi instruksi.


Rombongan secara teratur berjalan pelan pelan mengikuti perintah tuannya. Terbesit dalam benakku, gimana nanti cara kita turun? Dengan kondisi jalan yang curam dan licin seperti ini.


Setelah beberapa saat, akhirnya rombongan sampai di puncak bukit manik manik. Ternyata puncak bukit merupakan tanah lapang yang luas dengan rumput liar pendek pendek. Ada 4 batu hitam besar di setiap sudut bukit. Dan tepat di tengah tengah tanah lapang ini terdapat sebuah gubuk terbuat dari kayu jati ber atap jerami dengan sebuah dipan yang juga terbuat dari kayu jati yang diukir indah. Di sebelahnya terdapat pohon besar, pohon bunga kantil. Rombongan mendekati gubuk tersebut. Terlihat baju Mbah Kung Kadir tergeletak disana. Baju motif garis garis ke bawah. Sebuah nampan berisi bunga bungaan yang sudah mengering nampak juga di dekat baju Mbah Kung Kadir.


"Ini tempat semedi Mbah Kung ya Lik?," Aku bertanya pada Lik Diran.


"Iya," Lik Diran celingak celinguk, mencari sosok Mbah Kung Kadir.

__ADS_1


"Mbah Kuunggg," Lik Diran membentuk corong dengan kedua tangannya. Dan meletakkan di depan mulutnya, kemudian berteriak memanggil Mbah Kung Kadir.


"Mbah Kungg . . .," para pekerja Lik Diran kompak mengikuti apa yang dilakukan majikannya. Mereka berpencar sambil terus memanggil manggil Mbah Kung. Sementara aku sedikit merasa khawatir, kalau ternyata terjadi hal buruk pada Mbah Kung. Jatuh misalnya, hal itu bisa saja terjadi mengingat lokasi yang seperti ini.


Aku beranjak, mencoba ikut mencari Mbah Kung Kadir. Namun betapa kagetnya aku, di depanku terlihat gadis yang selama ini kurindukan. Aku setengah tidak percaya dengan apa yang kulihat. Aku mencubit pahaku dan terasa sakit. Ini bukan mimpi.


Erni terlihat berdiri di sebelah batu besar di salah satu sudut bukit ini. Dia terlihat murung, menatapku. Wajah itu, wajah yang kurindukan. Erni terlihat melambai lambai ke arahku. Tanpa pikir panjang aku berlari mendekat padanya. Sebenarnya ada sedikit keraguan di hatiku, namun aku menepisnya. Terlihat jelas dan nyata dia adalah Erni. Dia mengenakan pakaian yang sama saat terakhir kali aku bertemu dengannya di bawah tangga parkiran kampus.


Erni terlihat melangkah menjauh, dia terlihat menapaki jalan yang kulalui tadi. Mungkinkah dia mengajakku turun untuk pulang? Setengah berlari aku mengikutinya.


"Er . . . Erni. . .," Aku mencoba memanggilnya, Erni hanya berjarak beberapa meter di depanku. Namun dia nggak menjawab, menoleh pun tidak.


Erni terlihat cekatan menuruni jalan setapak yang cukup licin. Sementara aku, beberapa kali tersandung dan hampir terjatuh.


"Ngapain kamu disini Er? Hei, kamu marah sama aku? Heii, tunggu aku . . .," Aku sekali lagi mencoba memanggilnya. Namun dia tak menggubris, malah jarakku dengannya terlihat semakin jauh.


Akhirnya aku menghentikan langkahku. Aku mulai sadar, bahwa yang di depanku bukanlah Erni. Bagaimana mungkin orang yang baru bangun dari koma tiba tiba bisa sampai di perbukitan seperti ini? Bulu kudukku berdiri. Aku setengah berjinjit berbalik badan hendak kembali ke tempat rombongan di atas bukit tadi.


"Dan . . . ," sebuah suara yang terdengar lirih memanggilku. Suara yang sama persis dengan suara Erni. Aku terpaksa menoleh. Sosok tadi terlihat mematung beberapa meter di depanku dengan posisi membelakangiku.


"Kalau kamu mau tahu yang sebenarnya, ikutlah denganku Dan," Sosok itu berbicara tanpa menoleh padaku. Kemudian dia terlihat kembali berjalan.

__ADS_1


Aku berpikir sejenak dan akhirnya memutuskan hal bodoh yang mungkin saja sebuah tindakan tepat. Aku mengikuti sosok itu.


__ADS_2