
Aku menghela nafas. Menyandarkan badanku di kursi ruang tamu rumah Lik Diran. Aku sangat kaget membaca apa yang telah dituliskan Lik Wo dalam suratnya. Sama sekali tidak kuduga Febi akan melakukan hal semacam itu.
Langit semburat merah, siang akan segera berganti malam.
"Dan, mbok cepet mandi. Udah hampir malam lho ini", Ibuk menegurku, aku sedari tadi memang hanya duduk malas malasan.
"Capek Bukk", Aku mengeluh.
"Makane itu lek capek, cepet mandi nanti kan jadi hilang capek e, seger lagi", Ibuk kembali menasehatiku, nasehat yang tidak bisa dibantah.
Aku berdiri, melangkah gontai hendak mengambil handuk di tempat jemuran samping rumah. Lik Diran datang dari rumah belakang, terlihat lesu membawa satu piring nasi dan lauk pauk.
"Lhoh, kok utuh Lik?", tanya Ibuk pada Lik Diran saat melihat nasi yang masih utuh, padahal itu adalah makanan untuk Mbah Kadir yang telah disiapkan untuk siang tadi.
"Nggak mau mbak yuu. . .Mbah Kung nggak mau buka pintu nggak mau makan. Padahal wes sepuh, aku malah khawatir dengan kesehatannya", Lik Diran membawa nasi yang tak disentuh Mbah Kadir itu ke depan. Lek Diran memberikannya pada ayam jago miliknya.
"Ada apa sih Buk?", Aku yang nggak ngerti duduk perkaranya bertanya, penasaran.
"Itu Mbah Kung mu, kata Paklik mau puasa pati geni. Nggak makan nggak minum sampek besok. Paklikmu khawatir, kan Mbah Kung sudah sepuh, seharusnya jaga kesehatan, maem yang gizi gizi gitu lho", Ibuk menjelaskan.
"Oooo", Aku manggut manggut.
"Heh, cepet dang mandi kono lho", Ibuk sedikit membentakku. Aku buru- buru lari. Kalau perempuan paling sabar sedunia ini sudah jengkel, nanti ceramahnya bisa sepanjang episode sinetron. Aku nggak mau hal itu terjadi.
Sehabis mandi, aku duduk di depan tv bareng adikku yang cantik tapi dengan bedak yang cemong. Aku heran kenapa sih orangtua suka sekali ngasih bedak ke anak balita nya dengan bentuk yang belepotan? Apakah ini sebuah tradisi? Heran.
__ADS_1
"Buk, Bapak kemana sih?", Aku bertanya pada Ibuk, ketika Ibuk datang dari dapur membawa nasi dan sayur sop untuk adik. Memang sore ini aku belum melihat Bapak.
"Bapakmu siang tadi ke toko. Soale kemarin ada yang pesen kain banyak, katanya mau diambil besok jadi ya ini tadi nyiapin, motong motong gitu", Ibuk menerangkan.
"Nggak pulang berarti malam ini?", Aku kembali bertanya, memencet tombol remote tv mencari program makan makan.
"Nggak. Mungkin pulang e besok. Kenapa sih nanyain Bapak terus? Tumben. A . . . a . . .aa . . .", Ibuk bertanya sambil menyuapkan nasi pada mulut mungil nan kecil adik.
"Ya enggak ada apa apa Buk. Tak pikir mau nekat pulang ke rumah kita. Ngomong ngomong siapa tadi yang ngambil baju ganti dan barang barang kita Buk?", Aku bertanya lagi, teringat di dalam kamar "sementara" ku, sudah penuh dengan baju dan barang barang milikku.
"Lik Diran tadi boyongan. Bawa pick up. Sama tak minta ngunci pintu rumah juga", Ibuk kembali menyuapkan nasi ke mulut adikku.
"Weh, berani banget Lik Diran Buk", Aku meragukan Paklikku satu itu.
"Oohhh, pantes", Aku manggut manggut.
"Buk, kita pindahan lagi saja lah ke toko, kayak kemarin itu", Aku menyampaikan uneg unegku.
"Lee, Dani. . .manut Bapak saja lah. Po nggak kapok kejadian kemarin sampek berantem gitu", Ibuk sedikit memelototi aku.
Aku terdiam. Aku memang merasa akhir akhir ini aku jadi lebih egois. Ingin semua keinginanku dituruti dan susah mendengar pendapat atau saran dari orang lain. Apalagi nasihat dari orangtuaku. Aku juga cepat mengambil kesimpulan berdasar prasangka. Padahal itu semua belum tentu benar.
"Lee. . . di usia kamu ini mungkin memang masa nya puber. Masa menuju dewasa, yang membuat kamu merasa pengen selalu didengarkan pendapatmu. Itu nggak salah juga, tapi kamu kudu eling, harus ingat . . .kalau mau didengarkan yo kudune juga mau mendengarkan. Jangan merasa paling benar", Ibuk menasehatiku. Nasehat yang meresap ke dalam lubuk hatiku.
...* * *...
__ADS_1
Hari berganti, suara bekisar kepunyaan Lik Diran menemaniku pagi ini. Aku sedang mengelap si Thor agar terlihat kinclong ketika ku tunggangi ke kampus nanti. Hari ini ada mata kuliah bimbingan dan konseling di sekolah dasar jam sembilan.
Setelah mengelap si Thor aku bersiap berangkat. Ibuk bersama adik di teras depan. Lik Diran sedang melakukan inspeksi ke pekerjanya yang tersebar di sawah sawah daerah sini. Bapak belum terlihat pulang, masih di toko. Sementara Mbah Kung Kadir belum keluar dari rumah belakang. Entah apa yang saat ini dilakukan kakek kakek sakti itu.
Aku pamit pada Ibuk, mencium tangan Ibuk. Seperti biasa Ibuk memberi pesan agar aku berhati hati di jalan. Kulambaikan tangan pada Ibuk dan segera berangkat ke kampus. Aku mengendarai Thor dengan kecepatan rendah. Jalanan sekitar tempat tinggal Lik Diran memang kurang bagus, jadi kalau dibuat ngebut bisa rontok semua baut baut si Thor. Setelah masuk jalur jalan kecamatan, barulah kutancap gas, Thor meraung raung kegirangan.
Dengan kecepatan yang cukup tinggi, empat puluh menit selanjutnya aku sudah berada di parkiran kampus. Aku memilih tempat parkir di bawah pohon trembesi agar si Thor tidak menggeliat kepanasan.
Aku hendak melangkah masuk ke dalam kampus, ketika kudengar suara orang berteriak teriak di depan pos satpam. Terlihat dari kejauhan Pak Satpam sedang bergumul dengan seseorang. Apa yang terjadi? Beberapa mahasiswa terlihat berlari mendekat. Begitupun aku ikut mendekat ke tempat kejadian, penasaran. Akhirnya terbentuklah kerumunan di depan pos satpam.
"Ada orang gila ngamuk", Beberapa mahasiswa bergumam di tengah kerumunan.
Aku melongok, menyibak, dan mencoba lebih dekat lagi. Sedikit memaksa, akhirnya aku berada di barisan paling depan kerumunan. Terlihat Pak Satpam berhasil meringkus seseorang. Betapa kagetnya aku saat melihat orang yang sedang dipegangi oleh Pak satpam.
"Iwan?", Aku terpekik tak percaya dengan yang kulihat.
Iwan, aku yakin sekali itu Iwan. Namun kali ini dia terlihat kurus dengan rambut acak acakan, kulit yang terbakar sinar matahari. Matanya yang cekung dan bau badan yang cukup menyengat. Ada apa dengan Iwan? Kenapa jadi seperti ini?
"Hhaaaaaaahhhh. . .Haaaahhhhh", Iwan mengeluarkan desahan keras, suara yang tidak bisa aku mengerti.
"Kasihan ya dia, kenapa jadi parah gini", Beberapa mahasiswa berbisik bisik di belakangku.
Iwan menoleh ke arahku. Melihatku, menatapku tajam. Terlihat Pak Satpam semakin kesulitan memeganginya. Tenaga Iwan luar biasa, dengan posturnya yang menjulang tinggi. Akhirnya Iwan terlepas, Pak Satpam tak kuasa menahannya, terjatuh mencium paving kampus. Iwan langsung berlari keluar dari kampus.
"Setaaannnn", Teriak Iwan ketakutan sambil menunjuk ke arahku. Iwan berlari menjauh menuju jalan raya. Aku. . .hanya berdiri mematung tak mengerti apa yang sedang terjadi.
__ADS_1