Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Hunian yang tidak nyaman (lagi)


__ADS_3

Aku dan Irul telah sampai di persawahan dekat rumah. Aku melihat bekas tempat jatuhku, tetap seperti malam itu. Beberapa padi roboh dengan bagian tengah membentuk pola seperti orang sedang tidur terlentang.


"Lihat nyuk, itu tempat aku jatuh yang aku ceritain tadi", Aku menunjuk beberapa padi yang rusak, Irul menghentikan laju motornya.


"Ngeriii, seemmm", Irul geleng-geleng kepala, kemudian kembali menarik gas motornya.


Sampailah kami di halaman rumahku. Lampu teras tetap menyala meskipun siang hari. Namun lampu bagian dalam mati. Berarti memang benar ada orang di rumahku malam itu. Masih jelas diingatan, lampu ruang tamu malam itu menyala terang, namun saat ini tidak ada cahaya apapun dari dalam.


Aku dan Irul turun dari motor, sedikit ragu untuk masuk ke dalam rumah. Entah kenapa, lima hari rumah tidak ditempati, hawa dan aura yang terpancar terasa berbeda. Padahal matahari sedang terik-teriknya, tapi melihat rumah ini terasa dingin dan sunyi.


"Semmm, hawane ra nyamleng nyuk, nggak enak", Irul mengusap-usap lengan tangannya.


"Terakhir kali aku kesini nggak kayak gini lhoh, hawane ini lho nyuk", Irul mendekat padaku. Aku pun merasakan hal yang sama.


"Kita harus masuk", Aku menepuk pundak Irul, membulatkan tekad dan mencoba mengusir ketakutan.


Thilulung lung tilulung lung tilulung luung


HP Irul berbunyi, nada dering khas dari merk produsen HP ternama. Irul merogoh HP di saku jaketnya, menatap layar, dan sekilas terlihat ekspresi kegelisahan.


"Emmm. . .Aku ngangkat telepon dulu ya Dan", Irul tersenyum padaku.


"Hah? Ngapain pake ijin, angkat saja", Aku mengernyitkan dahi.


Irul beranjak menjauh dariku. Cukup jauh menjaga jarak denganku. Terlihat dia mengangkat teleponnya dengan sedikit menunduk. Aku merasa agak aneh kali ini. Nggak biasa-biasanya dia menerima telepon seperti itu, seakan takut terdengar olehku. Tapi itu memang privasi nya juga sih.


Aku kembali fokus mengamati rumahku. Rumah ini, rumah tempatku tumbuh dan berkembang hingga bisa se gedhe sekarang. Rumah yang membuatku betah dan nyaman, kini mengeluarkan aura yang membuatku merinding ngeri. Aku berjalan ke pintu masuk, mencoba membukanya, namun terkunci. Kutempelkan wajahku ke kaca jendela mencoba mengintip ke dalam rumah yang nampak gelap.


Plaakk

__ADS_1


Sebuah tepukan di pundak mengagetkanku. Irul sudah berdiri di belakangku cengengesan.


"Ngaget-ngageti saja nyuukk", Aku mengelus-elus dadaku kaget, Irul meringis.


"Udah, telepon pentingnya? ", Aku menatap Irul memelototinya.


"Bereesss. Eh, terus gimana piye ini? Nggak bisa masuk kita", Irul mencoba mendorong pintu yang terkunci, sedikit kasar.


"Eh, rusak nanti nyuukkk, iki rumahku lhoh", Aku geleng-geleng kepala dengan tingkah bocor manusia satu ini.


Aku berjalan ke samping rumah, mengangkat pot kaktus yang tergeletak di sana. Ahhaa . . . kunci rumah cadangan milikku tersimpan manis di bawahnya. Setiap anggota keluarga memiliki satu duplikat kunci rumah ini. Nah, punyaku selalu aku letakkan di bawah pot kaktus kesayanganku. Daripada hilang jatuh jika kubawa kemana-mana, lebih baik aku simpan dengan cara ini saja, begitu pikirku.


Kriiieetttt. . .


Aku membuka pintu dengan pelan. Suara khas pintu terbuka menyambut Aku dan Irul yang ragu-ragu untuk masuk ke dalam. Aku segera menekan saklar untuk menghidupkan lampu. Tidak ada yang berubah, tidak ada keanehan apapun. Kursi, meja, semuanya masih tersusun rapi sama persis saat aku dan keluargaku pindah ke toko lima hari yang lalu.


"Bentar-bentar . . .", Aku melihat sesuatu di bawah kursi.


Aku melongok ke bawah kursi yang diduduki Irul. Ternyata sebuah putung rokok tergeletak di sana. Putung rokok berbungkus kulit jagung alias kobot. Aku manggut-manggut, yakin siapa pemiliknya.


"Bapakmu ngrokok to?", Irul bertanya melihat putung rokok di tanganku.


"Rokok e jadul banget", Irul sedikit terkekeh.


"Bukan punya Bapak. Di rumah ini nggak ada yang ngrokok", Aku menjawab, datar.


"Hah? Lha terus?", Irul terkejut dengan jawabanku.


"Yo mbuhh yaa. . .yok kita keliling rumah", Aku menarik Irul agar segera berdiri dari duduknya.

__ADS_1


Irul mengekorku di belakang. Dia nempel-nempel di dekatku, nggak berani jauh-jauh dariku. Jujur, sebenarnya saat ini aku juga sedang ketakutan. Beruntung banget ada Irul yang menemaniku. Dua orang yang sedang ketakutan menyusuri setiap sudut ruangan rumah. Mulai dari ruang tamu, kamar, ruang makan dan dapur. Terakhir, aku membuka pintu belakang untuk menengok kamar mandi.


Tidak ada sesuatu yang aneh di kamar mandi. Gayung warna jingga dengan bentuk hati berenang-renang di bak penampungan air.


"Ini lek pas malem, yakin aku bakal serem banget", Irul bergumam, menunjuk rumpun bambu di belakang rumah.


Krutak Krutak Krutak


Angin semilir meniup rimbunnya bambu, menimbulkan suara khas yang membuatku kangen dengan rumah ini. Tapi memang iya sih, kalau malam hari tempat ini terlihat serem, cocok banget untuk uji nyali. Dulu aku nggak begitu memikirkannya, namun akhir-akhir ini aku merasa memang ada kesan angker di sini.


"Heh? Apa itu di bawah bambu?", Irul menunjuk-nunjuk salah satu pojok bambu yang rimbun.


Aku menyipitkan mata, mencoba memperjelas penglihatanku. Dari tempatku berdiri ke rumpun bambu yang ditunjuk Irul sebenarnya nggak terlalu jauh juga jaraknya. Namun, baik aku ataupun Irul nggak bisa memastikan apa yang ada di sana. Akhirnya aku memutuskan untuk mendekat, Irul kembali mengekorku.


"Ojo nempel-nempel nyuk, nggilani", Aku melepaskan tangan Irul yang bergelayut erat di lenganku.


"Ngeri coy, kayak e itu sesajen", Irul kembali memegang lenganku, kini lebih erat.


Dan benar saja, dihadapan kami terdapat benda-benda yang mungkin saja sesajen. Ada seekor ayam hitam yang telah di sembelih di atas nampan. Jenis ayam cemani . . . kulit, bulu, semua anggota badannya berwarna hitam. Kondisi ayam yang sudah mulai membusuk menimbulkan aroma yang cukup menyengat. Irul menutup mulut dan hidungnya sekaligus. Di sebelah nampan berisi ayam, terdapat cobek dari tanah liat berisi beberapa jenis bunga yang sudah cukup layu. Ada bunga kenanga, kantil dan melati. Aroma busuk dan sedikit wangi menyengat, bercampur di udara yang menimbulkan sensasi pusing dan mual. Ada pula kendhi yang ujungnya tertutup daun sirih.


Kraakk


Irul mundur beberapa langkah dan tanpa sengaja menginjak potongan genteng, dengan arang dan kepingan kemenyan di atasnya.


"Duh, ampun-ampun, nggak sengaja aku", Irul menangkupkan tangan di depan wajahnya memelas.


Perasaanku saat ini campur aduk, antara takut, marah dan kesal. Kenapa sekarang rumahku digunakan untuk hal-hal seperti ini? Apa yang direncanakan Bapak dan Mbah Kadir? Aku menggamit tangan Irul mengajaknya untuk segera meninggalkan tempat ini. Jujur saja, aku merasa ngeri, rumahku kini sudah tidak seperti dulu lagi. Rumahku kini sudah tidak nyaman lagi.


- - -

__ADS_1


__ADS_2