
Sudah 8 hari semenjak kepergian Bapak. Rumah Lik Diran yang sempat terasa ramai selama 7 hari kemarin menpersiapkan acara 7 harian nya Bapak, kini sudah terasa sepi dan lengang. Dan ketika suasana sepi datang maka rasa sakit dan duka entah bagaimana datang kembali menggerogoti hatiku.
Aku duduk di teras depan, memandang pot penuh tanaman keladi yang tertunduk tertimpa derasnya hujan semalam. Setiap malam selama 8 hari ini memang selalu hujan cukup deras. Setiap pagi meninggalkan genangan genangan air berwarna kecokelatan di halaman rumah Lik Diran. Namun pagi ini, semburat langit berwarna biru telah nampak di atas sana. Mungkin hari ini akan lebih cerah daripada hari kemarin.
Ibuk mendekatiku, meletakkan teh hangat di gelas besar. Asap hangat tipis terlihat melayang layang di atasnya. Ibuk duduk di sebelahku.
"Adik dimana Buk?," Aku menoleh ke belakang, nggak terlihat si kecil comel yang biasanya rame.
"Masih belum bangun. Pules banget tidur e. Karena hawane dingin ini mungkin," Ibuk menjawab dengan tersenyum. Aku melihat jam di HP sudah jam 7 ternyata.
"Daann, sepertinya kita lebih baik tinggal di toko saja ya," Ibuk terdengar menghela nafas.
"Ya, aku pun juga berpikir demikian Buk," Aku menyetujui usulan Ibuk.
"Aku nggak mau merepotkan Lik Diran dan Mbah Kung dengan terus menerus numpang disini Buk," Aku melanjutkan.
"Lagian kita juga harus mulai membuka kembali toko. Satu satunya peninggalan Bapak, sumber penghasilan keluarga kita Buk," Aku memandang Ibuk. Meskipun masih terlihat gurat gurat kesedihan disana namun sudah jauh lebih baik dibandingkan kemarin kemarin.
"Yah, kamu benar. Salah satu hal yang bisa kita lakukan untuk menghormati jerih payah almarhum Bapakmu adalah dengan membuka kembali toko. Melanjutkan perjuangannya," Ibuk tersenyum menatapku.
Kurasa memang kesedihan, dan duka itu masih ada dalam keluarga ini. Namun dengan saling menguatkan, kami pasti mampu melaluinya.
Adik kecilku terlihat berjalan setengah berlari menghambur ke arahku. Kemudian dia duduk di tengah tengah antara aku dan Ibuk. Gelas sempat di senggolnya hingga teh yang ada di dalam gelas sedikit tumpah tercecer di lantai granit. Adikku menguap lebar, bekas iler nya masih tertinggal berupa garis garis putih di pipi. Aku tertawa melihatnya, dasar anak kecil. Kuremas remas rambutnya yang sedikit ikal.
"Nduukk, kalau kita tinggal di toko, mau?," Ibuk bertanya dengan tersenyum pada Adik.
"Maaoooo . . . pokok e sama bubuk sama kakak," Adikku menjawab ringan, dengan bahasanya yang masih belum terdengar jelas. Aku dan Ibuk tertawa bersama. Tawa yang pertama kali muncul semenjak kepergian Bapak. Meskipun di ujung tawa ada air mata yang tanpa sengaja menetes dari sudut mata.
Terdengar suara motor mendekat. Kemudian masuk ke halaman rumah Lik Diran. Beberapa pekerja Lik Diran turun dan dengan tergesa gesa berlari ke arah kami.
"Mas, Pak Diran e wonten (ada)?," Pak Manto salah satu pekerja Lik Diran yang loyal, yang waktu itu sempat tergigit ular pada waktu mau bongkar rumah, bertanya padaku.
__ADS_1
"Ah, sebentar Pak. Tak panggilkan," Aku beranjak masuk ke dalam rumah.
"Lik? Lik?," Aku berada di depan pintu kamar Lik Diran yang tertutup, memanggil manggil Lik Diran. Sejurus kemudian Lik Diran keluar, terlihat dia baru bangun dari tidurnya.
"Ada apa Dan?," Lik Diran bertanya padaku dengan muka bantalnya.
"Itu, di depan ada Pak Manto dan beberapa pekerja njenengan," Aku menjawab pertanyaan Lik Diran, menunjuk nunjuk arah depan rumah.
Lik Diran bergegas berjalan ke teras depan rumah. Aku mengekor di belakangnya.
"Gimana gimana?," Lik Diran bertanya pada pekerjanya.
"Anu Pak . . . nggak ada to, sudah kami cari cari beberapa hari ini," Pak Manto menjawab sambil menunduk.
"Duh, piye yo? Apa nanti kita ke bukit manik manik lagi? Aku tak ikut, sudah nggak repot juga di rumah. Kalian bisa kan?," Lik Diran terlihat cemas. Para pekerjanya saling tukar pandang dan mengangguk angguk.
"Nggeh bisa Pak. Jam pinten (jam berapa)?," Lik Manto kembali bertanya. Mungkin Lik Manto ini semacam mandor yang menjadi perpanjangan lidah para pekerja lain.
"Ya tak mandi dulu, jam jam an 9 kalian kesini lagi ya?," Lik Diran memberi instruksi.
"Lhoh lhoh, sarapan dulu disini to," Lik Diran mencegah para pekerjanya pergi, mengajak semuanya sarapan.
"Ngapunten pak. Kami sudah sarapan di rumah tadi. Kami tak pulang dulu, nanti pokoknya semua sudah disini jam 9 pak," Pak Manto menolak tawaran Lik Diran dengan tetap menundukkan kepalanya.
"Yasudah nek gitu," Lik Diran menghela nafas, para pekerjanya satu persatu pergi berlalu.
"Ada apa sih Lik?," Aku yang nggak ngerti apa yang dibicarakan Lik Diran dan pekerjanya bertanya.
"Mbah Kung Kadir, ilang. Nggak tahu kemana," Lik Diran menghela nafas berat.
"Lhah, nggak ada di bukit manik manik?," Ibuk ikutan bertanya. Lik Diran hanya menggeleng pelan.
__ADS_1
Mbah Kung Kadir terlihat di rumah terakhir kali sehari sebelum Bapak tiada. Jadi waktu Bapak disemayamkan pun Mbah Kung Kadir tidak ada di rumah dan kemungkinan juga belum tahu kalau salah satu anaknya telah pergi. Waktu itu tidak ada yang berusaha mencarinya, karena baik Aku ataupun Lik Diran sangat syok dengan kepergian Bapak. Beberapa hari ini Lik Diran mengerahkan para pekerjanya untuk mencari Mbah Kung Kadir.
"Sebenarnya sih Mbah Kung itu kalau di bukit manik manik memang kadang lama gitu. Terakhir ku ingat sekitar awal tahun lalu hampir satu bulan Mbah Kung nggak pulang. Tapi kali ini harus kita cari, Mbah Kung harus tahu Kakang sudah nggak ada," Lik Diran menyandarkan badannya ke daun pintu.
"Nanti aku ikut ya Lik, nyari Mbah Kung ke bukit manik manik," Aku minta ikut serta, terus terang saja aku pengen nyari udara segar setelah berhari hari tidak keluar dari rumah ini. Sudah seminggu an aku nggak kuliah, aku juga minta ijin untuk sementara nggak ngisi jam siar di radio.
"Iya boleh saja. Lagian kamu juga perlu tahu tanah keluarga kita disana," Lik Diran tersenyum. Jadi, memang selain lahan pertanian yang sangat luas, Lik Diran dan Mbah Kung Kadir mempunyai tanah tegalan yang luasnya lebih dari separuh luas keseluruhan bukit manik manik.
* * *
Jam 9 tepat, para pekerja Lik Diran telah berkumpul di halaman rumah dengan motor dua tak nya. Motor yang terdengar lebih berisik namun soal tenaga memang nomor 1.
"Ini nanti Dani ikut nggeh Bapak bapak," kata Lik Diran sambil memakai sepatu boot tinggi berbahan karet.
"Nggeh Pak. Yang penting nanti pegangan kuat kuat Mas Dani nggeh. Soale jalan e nanjak banget terus licin jadi naik motornya agak nge gas gitu," Pak Manto menjawab, memperingatkanku. Aku mengangguk. Aku telah siap. Aku berpakaian tebal, memakai topi dan bersepatu karet.
"Dani, ngati ati lho. Nanti gocelan sing kuat," Ibuk menasehatiku, terlihat khawatir.
"Iya Buk. Tenang," Aku tersenyum dan mencium tangan Ibuk.
Akhirnya rombongan berangkat. Aku dibonceng Pak Manto sementara Lik Diran dibonceng oleh pekerja yang lain. Suara bising khas motor dua tak menggema, beriringan menuju ke arah bukit manik manik.
...# # #...
Perjalanan cerita RTS menyisakan 2 atau 3 chapter lagi.
Jangan lupa untuk like, vote n share yah. Komentar, kritik, dan saran tetap dinantikan.
Mampir juga di karya kedua genre fantasi petualangan berjudul KEMAMANG.
Follow
__ADS_1
Instagram : @bung_engkus
Youtube channel : ubrut family