Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Kobeng (2)


__ADS_3

Suara kentongan semakin terdengar kencang, bertalu talu. Aku masih terpaku menyaksikan adegan penguburan di depanku. Siapa yang dikubur? Kenapa harus di pekarangan rumah ini? Aku harus bertanya, aku harus memprotes. Bagaimana mungkin orang orang membuat kuburan di sini, ini kan rumahku.


"Pak- Paak. . .permisi. Ini rumah memang sedang nggak ditempati. Tapi jangan ngawur. Kok dibuat kuburan?", Aku bertanya sedikit ngotot. Orang orang menoleh padaku dalam diam. Tatapan mata mereka sungguh tidak nyaman kurasakan.


"Mungkin njenengan semua salah tempat", Aku mencoba menjelaskan, bernegosiasi yang terasa satu arah. Orang orang ini hanya diam menatapku.


Beberapa detik berikutnya orang orang ini mulai memasukkan mayat ke dalam lubang yang telah mereka gali. Lidahku kelu. Aku mengumpulkan keberanianku untuk menghentikan kegiatan ini.


"Heii . . . Ini pekarangan rumahku!", Aku berteriak, meski sebenarnya nyaliku menciut.


Sontak semua orang menoleh kepadaku. Menatapku benci. Mereka semua terlihat marah. Satu orang yang berjongkok di depan lubang tanah, berjalan mendekat padaku. Aku refleks mundur beberapa langkah.


"Omahmu (rumahmu)?", Tanya orang itu, tak terlihat jelas wajahnya karena keadaan bebar benar gelap. Hanya samar samar terlihat matanya yang putih dan beberapa baris giginya saja.


"Ng- Nggeh (iya)", Aku tergagap menjawab. Tenggorokanku terasa kering.


"Ha ha ha ", Orang ini tertawa, serak dan berat suara tawanya.


Ha ha ha ha ha ha . . .


Seperti dikomando, semua orang tertawa bersamaan. Terdengar riuh dan memekakkan telinga, mereka semua menertawaiku.


Ssttt


. . . .


Tiba tiba semua berhenti tertawa bersamaan. Hening, sepi.


Glek!


Suara aku menelan ludah bergema di gendang telingaku.


"Goceki (pegangi)!", Perintah orang yang berdiri di depanku memecah kesunyian, memberi komando kepada orang orang yang lain.


Serempak mereka bergerombol mengelilingiku. Aku ketakutan. Melawan pun akan percuma. Ada lebih dari lima belas orang yang mengepungku.


"Apa mau kalian?", Aku berteriak.

__ADS_1


Mereka semakin mendekat. Beberapa tangan mencengkeram pundakku. Menarikku paksa. Tidak ada pilihan lain, aku sekuat tenaga memberontak, melepaskan tangan tangan yang berusaha mencengkeramku. Aku memukul menendang, apapun yang aku bisa. Namun memang mustahil untuk melawan belasan orang. Mereka mringkusku. Membantingku ke tanah dalam posisi tengkurap. Mereka memegang tangan, kaki dan pundakku.


"Apa ini? Apa mau kalian? Hah?!", Aku berteriak, mencoba tetap melawan.


"Aarrgghhh", Aku mengerang, sakit. Sebuah tangan menjambak rambutku kuat kuat.


"Lemah kene iki dudu duwekmu. Kowe kuwi bayi ndek ingi sore (tanah ini bukan punyamu. Kamu itu bayi kemarin sore)!", Orang yang menjambakku berjongkok, membentakku.


"Angkat! Pendem! (kuburkan)", Orang yang menjambakku memberi perintah. Tubuhku langsung diangkat secara serempak. Aku menggeliat, mencoba melepaskan diri, meski sia sia. Mereka berjalan mendekat ke lubang. Kemudian mengayun ayun tubuhku seperti mainan.


"Siji (satu) . . . loro (dua) . . . telu (tiga)", Mereka menghitung bersama sama dan tepat pada hitungan ke tiga mereka melemparku ke dalam lubang.


Bruughhh . . .


Suara tubuhku menghantam tanah.


"Auuww", Aku meringis, kesakitan. Patah rasanya pergelangan tanganku menghantam tanah.


Aku melihat ke atas. Orang orang mengelilingi lubang tempatku tersungkur.


Ha ha ha ha ha ha


Aku menoleh ke kanan tembok tanah yang cukup tinggi. Aku menoleh ke kiri, ada mayat wanita di sebelahku. Samar samar aku seperti mengenalinya. Siapa? Keadaan sangat gelap, aku mencoba mendekatkan wajahku. Melihat seksama sosok mayat tersebut.


Deg deg deg


Jantungku seperti mau melompat, detaknya tak karuan. Mayat perempuan di sampingku adalah . . . Febi?? Aku kaget bukan main. Aku ketakutan. Wajah Febi yang sudah terlihat pucat dan membiru. Aku harus pergi, aku harus keluar dari lubang ini.


"Urrukkk (timbun)!", Perintah salah satu orang di atas lubang.


Byurr byuurr byuurr


Bongkahan tanah menghujani tubuhku. Mengenai kepalaku, menutupi Febi sedikit demi sedikit. Aku hendak dikubur hidup hidup. Aku harus segera melompat keluar. Naas sebuah bongkahan batu menghantam kepalaku.


Braaggg


Aku merasakan sakit di bagian belakang kepalaku. Aku mulai berkunang kunang. Aku ambrug. Namun aku nggak boleh mati konyol seperti ini, begitu pikirku.

__ADS_1


"Tuulluuungggg. . . Tuluunggg . . . Tuluunggg", Dengan sisa tenaga yang kupunya aku mencoba meminta tolong.


Suara kentongan kembali terdengar. Sayup sayup semakin mendekat. Aku kesulitan menjaga kesadaranku. Aku terduduk, sementara bagian bawah badanku sudah tertimbun tanah.


"Danii Daniii . . .", samar samar di antara suara kentongan, ada suara yang memanggil manggil namaku. Suara terdengar semakin dekat. Siapa? Siapa saja, tolong aku . . .


Perlahan namun pasti, badanku mulai tertimbun tanah sepenuhnya. Menyisakan kepalaku dan tangan kananku yang masih mencoba melambai lambai mencari pegangan untuk berdiri. Orang orang ini masih meneruskan menimbunku tanpa ampun. Beberapa butir tanah dan kerikil masuk ke dalam mulutku. Aku mulai pasrah, aku mulai menyerah.


...***...


Sekelebat cahaya terasa menyilaukan, dan hangat. Sebuah tangan mencengkeram pundakku mengguncang guncangkan bahuku.


"Danii? Dani?", Sebuah suara memanggilku. Siapa? Aku mencoba membuka mata. Lik Diran di depanku.


"Lik . . .", Aku berkata lirih.


"Iki Dani ketemuu", Lik Diran berteriak. Beberapa langkah kaki terdengar berlari mendekat. Suara kentongan samar samar masih terdengar. Aku melihat kanan dan kiri, rumpun bambu. Ah, aku benar benar di halaman belakang rumah, terduduk di bawah rumpun bambu.


"Dan. . . Lee kamu nggak pa pa?", Lik Diran bertanya, terlihat gusar.


"Emm. . .Iya Lik. Aku sek bingung ini. Apa yang terjadi?", Aku bertanya seperti orang linglung.


"Tadi sore, ada orang melihat motormu di pinggir kali deket jembatan. Terus laporan ke aku. Ibukmu nunggu kamu sampai maghrib nggak pulang pulang. Ibukmu nyoba nelepon kamu nggak bisa. Ya akhirnya aku manggil pekerjaku untuk mencarimu. Ternyata kamu pingsan di sini", Lik Diran menjelaskan.


"Aku kalap Lik, aku kobeng. Kepalaku pusing banget", Aku memijat kepala bagian belakangku yang terasa sakit.


"Lik, Bapak gimana keadaan e?", Aku bertanya, teringat aku tadi buru buru pulang untuk melihat keadaan Bapak.


"Bapakmu di rumah. Udah jangan mikir macem macem dulu. Pokoknya kita pulang nanti kita ngobrol lagi di rumah", Lik Diran melarangku untuk banyak bertanya. Mungkin melihat kondisiku yang terlihat lemah.


"Nih, minum dulu", Lik Diran menyodorkan sebotol a*ua satu setengahan liter padaku. Aku meminumnya seperti orang kehausan seharian.


"Kalemm, kesedak nanti", Lik Diran menegurku.


"Dah? Gimana bisa jalan sendiri?", Lik Diran bertanya padaku. Aku mengangguk, kemudian berdiri dari dudukku. Para pekerja Lik Diran mengelilingiku, membawa kentongan senter dan obor.


"Motormu biar di bawa pekerjaku ya, kamu naik Pick up sama aku. Pick up ku tak parkir dekat jembatan sana", Lik Diran memberi saran, aku pun mengangguk setuju.

__ADS_1


Kami keluar dari pekarangan rumah keluargaku. Rumah yang terasa sepi, sunyi dan ber aura nggak nyaman. Beberapa pekerja Lik Diran terlihat berbisik bisik sambil melihat rumah.


Aku masuk mobil pick up Lik Diran. Aku masih termenung mengingat ingat kejadian yang kualami tadi. Sepertinya memang aku dan keluargaku lebih baik segera pindah dari tempat mengerikan itu.


__ADS_2