Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Dimana Erni???


__ADS_3

Aku menelepon Ibuk, untuk mengabari aku menginap studio malam ini. Aku nggak mungkin pulang dalam kondisi babak belur seperti saat ini. Aku menyiapkan banyak kantong es batu untuk mengompres pipiku agar besok pagi sudah mendingan.


Drrtt . . . drrtt . . . drrttt


HP ku bergetar. Siapa malam-malam begini telepon? Kulihat, ternyata si semprul Irul. Ngapain nih anak, kesepian atau gimana jam sebelas malem menelepon.


"Heh, ngapain nyuk jam segini nelpon?", Aku mengangkat telepon Irul sambil mengompres pipiku yang masih terasa nyut-nyut an.


"Eh, belum denger kabar?", Irul berbicara setengah berbisik ditelepon.


"Hah? Kabar apaan?", Aku mulai penasaran.


"Si Erni, katanya ilang", perkataan Irul membuatku tersentak.


"Ilang gimana? Jangan ngada-ngada deh, ini jam sebelas malem lhoh", Aku melihat jam di dinding studio, mulai cemas.


"Beneran Dan. Aku baru dapet kabar dari temennya si Iwan. Katanya siang tadi Erni janjian mau makan bareng Iwan, ditunggu-tunggu nggak datang. Akhirnya Iwan ke rumah Erni, anaknya belum pulang. Dan sampai sekarang nggak ada yang tau itu anak kemana", Irul menjelaskan, kali ini dia tidak sedang becanda.


Perasaanku mengatakan sesuatu yang buruk sedang terjadi. Pipiku yang bengkak sudah tak terasa sakit lagi. Pikiranku teralihkan. Rasa sakit, kini beralih menjadi kecemasan.


"Nyuk, kowe dimana sekarang?" Aku bertanya pada Irul.


"Di rumah lah, baru nonton pilem biru", Irul cengengesan.

__ADS_1


"Guyon, tak jitak ndasmu!", Aku sedikit jengkel dengan guyonan Irul disaat seperti ini.


"Iyooo, sorry sorry. . .terus gimana? Mau nyari Erni?", Irul seperti cenayang saja, yang tau isi pikiranku.


"Bisa kesini sekarang? Tak tunggu ya", Aku bertanya pada Irul, setengah memaksa.


"Yowes lah, tunggu sebentar", Irul menjawab pasrah dan menutup teleponnya.


Dua puluh menit kemudian Irul sudah berada di studio. Dengan wajah bantal, dan sesekali menguap lebar, dia tetap saja menuruti permintaanku untuk datang. Irul salah satu temanku yang bisa diandalkan, selalu ada saat aku butuh, meskipun sering bikin jengkel juga.


"Kita mau kemana nyuukk, kunyuk?", Irul bertanya padaku, menggosok-gosok matanya.


"Emmm, ke kampus", Aku berpikir sejenak.


"Sek bentar, mukamu kenapa nih? Kok kayak bonyok gitu?", Irul menyadari dua benjolan di wajahku.


"Dihantam mike tyson", jawabku sekenanya.


"Idiihh, beneran nyuk, kenapa tuh?", Irul menatapku dengan pandangan serius, aku tiba-tiba merinding.


"Dihajar sama Iwan", Aku menjawabnya jujur kali ini.


"Hah? Beneran? Kok bisa?", Irul bertanya seakan meragukan perkataanku.

__ADS_1


"Ya bener, wong bonyok gini kok. Jadi, Iwan tadi nyari Erni kesini, katanya terakhir Iwan ngeliat Erni sama aku. Jadi ya, kayak nuduh aku gitu. Tapi emang bener sih, aku tadi siang emang sempet ketemu sama Erni. Kita sempat agak berantem gitu", Aku mengingat-ingat perdebatanku dengan Erni siang tadi.


"Ya tapi nggak bisa main pukul gitu donk. Sialan si Iwan, coba tadi pas ada aku, pasti udah aku bantuin . . .", Irul mengepalkan tangan kanannya dan memukul mukulkan ke telapak tangan satunya.


"Emang kamu berani sama Iwan?", Aku memandang Irul nggak yakin.


"Ya enggaakk. Maksudnya aku mau mbantuin Iwan buat mukulin kamu", Irul berkata tanpa ekspresi.


"Sialan", Aku menoyor Irul, dia terkekeh.


"Tapi ngomong-ngomong, kamu berantem kenapa sama Erni? Pagi tadi juga, kamu berantem sama Febi. Trus digebukin Iwan. Ruwet ruwet, ruwet hidupmu hari ini", Irul menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Dah, jangan banyak tanya. Pokoknya sekarang kita coba ke kampus dulu. Siapa tau Erni disana", Aku beranjak dari tempat dudukku mengajak Irul.


"Aku nggak ngerti dengan jalan pikirmu. Ngapain coba Erni jam sebelas malem lebih, di kampus. Uji nyali?", Irul membantah, terlihat dia tidak menyukai ide ku.


"Ayolah nyuukk, perasaanku nggak enak. Kita tlusuri dulu deh, dari tempat terakhir kali aku ketemu Erni tadi", Aku bersikukuh dengan ajakanku.


Irul menghela nafas, menuruti ajakanku. Aku tersenyum, seneng punya temen macam dia.


*Erni, dimana dia sekarang? Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi.*


- - -

__ADS_1


__ADS_2