Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Pertemuan kembali dengannya


__ADS_3

Aku segera masuk ke dalam rumah mengikuti Mbah Ginah. Mbah Ginah tersenyum melihat gelagatku yang sedang ketakutan. Begitu masuk rumah, Mbah Ginah langsung disambut oleh belasan atau mungkin puluhan kucing yang langsung berkerumun menyambut tuannya. Rumah Mbah Ginah terdiri atas ruang tamu, tempatku berdiri berukuran mungkin sekitar 4 x 5 meter. Ada 2 bilik yang tertutup oleh kelambu berwarna hijau tua. Mungkin bilik itu adalah kamar atau mungkin dapur. Penerangan rumah ini menggunakan lampu petromax yang tergantung tepat di tengah ruangan. Sarang laba laba terlihat bergelayut di setiap sudut ruangan yang terbuat dari anyaman bambu.


"Monggo silahkan duduk," Mbah Ginah mempersilahkan aku duduk. Aku mengangguk setuju. Di pojok ruangan memang tersedia kursi yang terbuat dari anyaman rotan. Sebuah meja bundar di hadapanku dengan sebuah kotak di atasnya terbuat dari kayu lusuh yang entah apa isinya.


Mbah ginah duduk di hadapanku. Kucing peliharannya, ikut berkerumun di sekitar Mbah Ginah. Ada yang bergelayut manja di pundak, kebanyakan bergantian mengelus ngelus dan menjilat kaki Mbah Ginah yang terjuntai di lantai. Sementara seekor kucing hitam duduk di atas meja. Tak bersuara, tak bergeming, hanya diam menatapku dengan mata yang liar.


" Mbah?," Aku membuka suara.


"Apa?," Mbah Ginah membuka kotak yang ada di meja. Ternyata berisi sirih dan perlengkapan kinang.


"Ini . . . tempat apa Mbah?," Aku bertanya ragu ragu. Mbah Ginah terkekeh, membungkus njet (kapur sirih) dengan daun sirih kemudian menjejalkan ke mulutnya, mengusap ngusapkan ke deretan giginya yang menghitam, hingga akhirnya gigi terlihat memerah dari hasil menginang. Orang orang nyebutnya dubang idu abang (ludah berwarna merah).


"Lha iki genah omahku ngono lho lee (ini jelas di rumahku lho Nak)," Mbah Ginah masih saja terkekeh mengejek. Aku yang bingung dengan pertanyaanku sendiri, akhirnya hanya garuk garuk kepala.


" Iki deso ku. Aku sing dadi lurah nang kene (Ini desaku. Aku yang jadi kepala desa disini)," Mbah Ginah menjelaskan, mengambil wadah bambu di kakinya. Cuiihhh . . . Mbah Ginah meludah, terlihat genangan air berwarna merah pekat di wadah bambunya.


"Mbah maaf nih, ngapunten. Tapi kok rasanya aku tadi melihat tetanggaku yang sudah meninggal sama kenalanku yang juga sudah nggak ada, kok ada disini Mbah?," Aku merinding teringat tatapan Lik Jo dan Pak Ndori tadi.


" Lha pancen menungso urip nang kene ki mung aku karo awakmu lee cah bagus (memang manusia yang ada disini cuma aku dan dirimu Nak)," Mbah Ginah menjawab santai. Aku tersentak dengan jawaban Mbah Ginah.

__ADS_1


"Lha yang tadi Mbah, sepanjang jalan kesini tadi banyak orang lho," Aku mencoba mendebat.


"Ha ha ha . . . Kene ki panggone jiwa jiwa sing kesasar, aku ra perlu njelasne perkoro kui. Soale ono sing luwih penting," Mbah Ginah nampak mulai serius. Aku masih merasa syok dan tidak habis pikir. Jadi sepanjang jalan, orang orang yang memandangku tadi bukan manusia? Aku merinding hebat. Aku yakin aku telah masuk ke tempat yang seharusnya tidak kudatangi.


"Ojo kuwatir ngono to. (Jangan khawatir gitu to) Kowe maeng aku sing ngajak rene, dadi aman (Kamu tadi aku yang ngajak, jadi aman) Nggak ono sing bakal ngganggu kowe, nggak bakal ono sing wani mbantah aku," Mbah Ginah terkekeh sekali lagi.


"Tak critani. Jadi sejatine lemah sing mbok panggoni pomahan kae podho karo lemah nang kene. Lemah sing keramat. Mbiyen omahmu kae lee, iku ono kali cilik. Kali iku saben tiap malem jumat kliwon tolu mesti diwenehi sesajen kanggo ngormati sing wes manggon nang kono luwih disik. (Sebenarnya tanah yang kamu tempati untuk rumah itu sama dengan tanah disini. Tanah keramat. Dahulu disana ada sebuah sungai kecil. Setiap malam jumat kliwon tolu selalu diberi sesajen untuk memberi penghormatan kepada makhluk makhluk yang sudah lebih dulu bermukim disana)," Mbah Ginah berhenti sejenak, kembali mengoles oles kinangnya pada gigi.


"Tapi akhir e, sumber e banyu sing mili nang kali kui asat. Kali ne mati. Njur di urug, diolah dadi sawah. Nah, karo buyutmu biyen isen isen e kono kui dipindah nggon ora nang kono. Lemah kono digawe padhang, penak nggo nyambut gawe, bertani. Nanging suwene suwe, isen isen e kono podho pengen njaluk balik lemah e, panggonan e. Akhir yo ngono kui, uripmu, keluargamu, ora tenang kabeh (Tapi akhirnya, sumber air yang mengalir ke sungai tersebut mati. Sungainya pun mati. Tanah diolah menjadi sawah. Kemudian sama buyutmu makhluk makhluk yang ada disitu dipindahkan. Tanahnya dibuat terang agar mudah untuk bertani. Namun seiring berjalannya waktu, makhluk mkhluk itu kembali meminta tanah tempat tinggalnya. Dan akhirnya hidupmu dan keluargamu nggak tenang)," Mbah Ginah kembali meludahkan "dubang' nya.


Apa yang dijelaskan Mbah Ginah sama persis dengan mimpiku waktu di Rumah Sakit dulu. Jadi sosok orang orang yang berpakaian serba hitam itu datang meminta kembali tempat tinggalnya.


"Bukan iku masalah e. Sejatine lemahmu iku kan yo wes di pageri nang mbah buyutmu mbiyen. Kui angel ditembus karo bongso bongso ngonok an. Nanging ono siji sing teko moro rono kuat. Duwe dendam nang keluargamu. Dendam sing turun temurun. Jlalahno dekne nemu wadah manungso sing cocok (Bukan itu masalahnya. Sebenarnya tanahmu itu sudah dipagari sama mbah buyutmu jaman dulu. Itu nggak bisa ditembus sama bangsa begituan. Tapi kemudian datang satu sosok yang kuat. Punya dendam turun temurun ke keluargamu. Dan kebetulan dapat wadah yang cocok)," Mbah Ginah menghela nafas, terlihat berat menceritakan hal ini.


"Siapa Mbah yang dendam dengan keluargaku? Kami salah apa?," Aku meremas remas tanganku di atas meja, entah kenapa hatiku gusar.


"Namanya Narsih. Dia dendam sekaligus seneng karo sliramu Lee. Dendam sing digowo awit keturunan pertama sing babat alas desa, yaiku marang Mbah buyut mbah buyutmu mbiyen. Mbiyen dekne rung nemu wadah, sak iki dekne nemu wadah sing cocok, sing sarujuk, cocok karo karepe (Dendam yang dibawa mulai keturunan pertama yang membuka desa, dendam pada mbah mbah buyutmu. Dulu dia belum menemukan wadah, dan sekarang dia sudah menemukan wadah yang tepat, ada kecocokan dengan si wadah itu sendiri)," Mbah Ginah membuang susur kinangnya.


"Si siapa wadah itu Mbah?," Aku bertanya memastikan, meskipun sebenarnya aku sudah punya dugaan akan hal itu.

__ADS_1


"Tak celuk e. Nduukk, gawakne teh rene. (Tak panggil e. Nduk bawakan teh)," Mbah Ginah menoleh pada salah satu bilik, kemudian sedikit berteriak meminta dibawakan teh.


Beberapa saat kemudian kelambu salah satu bilik disingkap. Seorang gadis keluar dari sana membawa nampan berisi 2 gelas teh. Gadis itu adalah . . . Febi.


# # #


Kakang Mbak yu semua


Mohon maaf yang sebesar besarnya


Di chapter 95 kemarin sepertinya saya ngomong kalau RTS akan tamat 3 chapter lagi. Nyatanya ini sudah 3 chapter belum tamat juga


Ternyata setelah saya menulisnya memang masih butuh beberapa chapter lagi untuk menyelesaikan RTS ini.


Mohon dimaafkan ya, tidak ada maksud untuk berbohong.


Dan karena akhir akhir ini lumayan sibuk dengan kerjaan, update nya agak terganggu.


Terimakasih untuk yang sudah baca.

__ADS_1


Like, vote, komen, kritik saran selalu saya nantikan.


__ADS_2