
"Kamu kenapa nyuk? Dihajar siapa?", Irul bertanya padaku, sambil memberikan sekantung es batu.
"Iwan", Aku menjawab singkat. Aku berbaring di kasur Irul yang empuk. Sementara Hasan sibuk melihat-lihat koleksi tamiya di lemari kaca Irul.
"Hyuh, dia lagi", Irul geleng-geleng kepala.
"Lagi? Emang sebelumnya pernah dipukuli Iwan kamu Dan?", Hasan bertanya, karena memang belum tahu kalau saat ini sudah kali kedua aku dibuat babak belur Iwan.
"Emang kenapa lagi si Iwan nyuk?", Irul menenggak minuman bersoda yang sudah ditambah es batu dari kantung es yang sama dengan yang diberikan padaku tadi.
"Aku tadi di warnet lihat dia ciuman sama cewek. Aku nggak terima dong. Erni sedang berjuang dari sakit dan lukanya, dia malah seneng-seneng sama cewek lain. Refleks kuhajar dia", Mataku menyala-nyala bersemangat.
"Teruuss, kamu yang nge hajar Iwan tapi kamu yang bonyok??", Irul sedikit terkekeh.
"Ya. . .awalnya aku yang nge hajar, selanjutnya ya tahu sendirilah, Iwan gedhe keker gitu", Aku menyerobot soda di tangan Irul dan meminumnya. Aku menempel plester di rahangku. Setelah aku kompres pake air es, nyeri-nyeri di wajah dan leherku berkurang.
__ADS_1
"Tapi kita perlu buat perhitungan sama si Iwan. Biar bagaimanapun Erni itu masih ada hubungan saudara denganku. Aku sama sepertimu Dan, nggak bisa terima kalau saat ini Iwan asyik-asyik an dengan cewek lain. Apalagi dia sudah membuatmu jadi kayak perkedel kentang", Hasan mengepalkan tangannya. Aku dan Irul beradu pandang. Aku baru ingat Hasan kan salah satu pentolan UKM beladiri di kampus. Waduh, bisa jadi rame nih.
"Nggak perlu dibuat rame San. Aku percaya setiap orang akan memanen apa yang dia tanam", Irul berkata dengan nada datar.
Aku dan Hasan refleks menoleh dan menatap Irul. Bagaimana mungkin mulut yang terbiasa asal nyablak sepertinya tiba-tiba mengeluarkan kata-kata mutiara? Aku dan Hasan kompak tertawa bareng. Yah, rasa nyeri dan sakit bekas hantaman Iwan menghilang , berkat Irul sih.
* * *
"Oke gengs, ini waktunya bacain SMS dari kalian. Selamat sore untuk Tari dari jalan nangka yang nitip salam untuk cowoknya yang katanya lagi jauh di sana. Request lagu nya sheila on 7 "betapa" buat kak Dani nya makin semangat ajah. Okey, tengkiyu Tari."
Penyiar sebelum aku tadi kebetulan si Krisna, dan dia cukup heboh melihatku bonyok (lagi). Tadi aku juga sudah menelepon Ibuk untuk minta ijin menginap di studio radio lagi, dengan alasan terlalu jauh kalau pulang ke toko. Sebenarnya nanti malam aku berencana untuk pulang ke rumah. Aku penasaran kenapa aku dan keluargaku harus pindah ke toko untuk sementara. Pasti ada yang Bapak sembunyikan dariku dan Ibuk.
Hari ini aku belum sempat menengok Erni. Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga dia sudah sadar dan lekas membaik. Sebuah alunan lagu menemani lamunanku.
Apakah kau masih mengingatku
__ADS_1
Walau kita di tempat berbeda
Akankah kau ada di sampingku
Saat kurindukan hadirmu
* * *
Jam tujuh tepat, setelah selesai jam siarku aku bersiap untuk pulang ke rumah. Tindakan nekat, yang jika diketahui Bapak mungkin akan menjadi masalah. Bisa-bisa di coret dari KK dan daftar ahli waris nih. Tapi rasa penasaranku sudah tak tertahankan, entah kenapa perasaanku mengatakan aku harus pulang malam ini.
Menunggangi "Thor" aku lumayan ngebut kali ini. Aku nggak mau nyampek rumah terlalu malam, karena terus terang saja aku juga sedikit ngeri dan takut kalau harus malam-malam sendirian di rumah. Melewati jalan aspal perkotaan yang halus, kemudian berbelok masuk ke daerah kecamatan Kencana jalanan mulai terdapat lubang dan tambalan di sana sini, melewati bekas ruko kosong di daerah njeruk, teringat kembali tentang mbah Ginah, bulu kudukku berdiri. Aku terus memacu motorku hingga sampai di jalan desa berupa semen di antara sawah-sawah yang terlihat hijau diterpa sinar rembulan.
Semakin dekat jarakku dengan rumah, semakin terasa kencang detak jantungku. Apa kira-kira yang akan kutemukan di rumah?
- - -
__ADS_1