Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Obrolan Bapak dan anak


__ADS_3

"Oke gaes, sebuah lagu dari Afgan berjudul Sadiiisss harus menutup kebersamaan kita sore ini. Terimakasih untuk yang sudah gabung, udah request lagu, nitip salam, ataupun curhat curhat manja. Kita sambung curhatnya, kita ketemu lagi besok di jam yang sama. Dari kawasan mayjend sungkono Dani pamit undur diri, terimakasih dan sampai jumpa . . . ", Aku menutup siar sore ku kali ini dengan sedikit lemes. Aku merasa nggak enak badan.


Jikalau kau cinta


Benar benar cinta


Jangan katakan kau tidak cinta


Jikalau kau sayang


Benar benar sayang


Tak hanya kata atau rasa


Kau harus tunjukkan


Lagu Jikalau cinta kuputar, dan beberapa lagu lain telah kusiapkan di playlist. Aku menunggu Amel Miss telat of the year, yang belum juga datang. Sehabis jam siarku adalah jadwal gilirannya. Aku merasakan suhu tubuhku menghangat dan sedikit pusing. Ah kenapa lagi ini.


Jam lima lebih sepuluh menit Amel belum juga terlihat batang hidungnya. Aku tiduran di sofa depan ruang siar, badanku panas, mataku terasa pedas. Duh, jangan sakit dong. Harus sehat harus sehat, itu yang selalu kucoba yakinkan di dalam benakku.


Suara motor berhenti di depan studio. Amel terlihat berlari lari masuk studio tanpa melepas helmnya.


"Dan, sorry telat," Amel ngomong tanpa melihat ke arahku. Langsung masuk ruang siar. Bersiap mengudara, namun saat hendak pakai headset dia sadar belum melepas helmnya. Dia menepuk dahinya sendiri. Pemandangan konyol yang membuatku tersenyum terlihat jelas dari sofa tempatku tiduran, karena ruang siar berdinding kaca tanpa korden.


Kepalaku tiba tiba saja semakin berdenyut, duh ini beneran sakit nih. Aku mencoba untuk duduk. Sekelilingku terasa berputar putar, mual yang kurasa. Akhirnya aku mengalah pada kondisiku, mungkin ada baiknya aku tidur saja. Kurebahkan lagi badanku, kupejamkan mataku. Terasa nyaman, semakin nyaman, dan aku terlelap.


...* * *...

__ADS_1


Tidur yang terasa panjang, aku mencoba membuka mata. Ah, silau. Matahari bersinar begitu terik mengenai mataku. Aku menyipitkan mata, mengerjap ngerjap, terang banget. Setelah beberapa saat mataku mulai terbiasa.


Aku baru sadar, ternyata aku sedang tiduran di teras rumahku. Sepertinya saat ini tepat tengah hari, terlihat dari sang surya yang berada tepat di atas rumah dengan cerahnya. Namun, udara disini terasa nyaman, hangat yang pas. Hmm. . . Aku kangen rumah ini. Rasanya sudah lama banget nggak pulang ke rumah.


Aku merasa bahagia, tenteram dari dalam lubuk hatiku. Angin semilir meniup padi yang sudah mulai menguning di kanan dan kiri rumah. Padi berayun ayun dengan gemulainya. Beberapa burung bersuara merdu juga terdengar berkicau, beterbangan di antara lebat dan suburnya tanaman padi Lik Diran. Aku berucap syukur, kelihatannya kehidupanku normal kembali.


"Danii?," Sebuah suara memanggil, suara yang familiar. Suara Bapak bapak yang terdengar berat dan berwibawa.


Aku menoleh ke arah sumber suara. Bapak sedang berdiri di depan pintu rumah. Memakai baju putih lengan panjang dan sarung yang juga berwarna sama. Terlihat wajah Bapak berseri seri, seulas senyum tersungging dari bibirnya dengan kumis yang cukup lebat. Beberapa helai kumis terlihat memutih.


"Bapak? Bapak sudah sembuh?" Aku bertanya pada Bapak, cukup heran melihat Bapak terlihat sangat sehat. Seingatku tadi Bapak masih lemah terbaring di kamar Rumah Sakit.


"Emang e Bapak kenapa Le? Bapak sehat lihat lah," Bapak mendekat, duduk di samping kananku. Kali ini Bapak terlihat benar benar bersih, berbinar binar. Tangan kirinya menepuk nepuk bahuku, kemudian merangkulku erat.


"Lee, apapun yang terjadi nanti kamu harus ingat. Segala hal yang ada di dunia ini hanyalah titipan, jangan merasa kamu memilikinya. Jika sudah waktunya semua akan kembali, entah itu harta benda ataupun kehidupan", Bapak tersenyum menatapku. Aku menggaruk kepalaku, pertanda nggak ngerti dengan maksud ucapan Bapak.


"Emm, Pak. Ibuk sama adik mana?," Aku celingak celinguk karena sosok yang aku cari tidak terasa kehadirannya di rumah ini.


"Yok kita susul kesana yok Pak. Ibuk sama adik pasti juga kangen pulang ke rumah. Kita udah lama banget nggak kumpul di rumah," Aku memberi usul. Bapak kembali tersenyum, kemudian terdengar tertawa terpingkal pingkal yang lirih. Aku nggak ngerti.


"Pak, kenapa Bapak ketawa?," Aku bertanya, karena memang nggak ngerti apa yang ditertawakan oleh Bapak.


"Nggak ada Lee," Bapak berhenti tertawa kembali dengan senyumannya.


"Hmmm . . . tugasmu sekarang njemput Ibuk sama Adik di rumah Mbah Kung. Bapak tak istirahat di rumah saja," Bapak melanjutkan kalimatnya.


"Ya nanti saja deh Pak. Sek panas ini. Aku mau tiduran di kamar dulu," Aku kangen kamarku. Aku hendak berdiri menuju kamar, namun Bapak mencegahku. Bapak menggenggam erat lenganku.

__ADS_1


"Kamu belum boleh masuk rumah. Cepet jemput adik sama Ibuk sana lho. Lihat tuh di langit ada beberapa awan mendung yang datang," Bapak menunjuk langit. Dan benar saja sekumpulan awan hitam mulai terbentuk di atas sana.


"Ah, bentar lagi hujan nih," Aku bergumam sendiri.


"Makanya cepet sana, jemput Ibuk dan Adikmu. Kasihan nanti kalau kehujanan," Bapak tersenyum menasehatiku.


"Emm, iya deh Pak," Aku entah mengapa merasa sedikit enggan meninggalkan Bapak sendirian di rumah.


Dengan menyeret langkah kakiku aku berjalan malas dan ogah ogahan. Aku berjalan keluar dari halaman rumah. Entah mengapa aku pengen jalan kaki saja untuk menjemput Ibuk dan Adik. Dimana Thor? Aku lupa dengan motor kesayanganku itu.


Saat kakiku sudah berada di luar halaman rumah. Aku kembali menoleh, melihat Bapak. Bapak yang terus tersenyum sambil melambai lambaikan tangannya. Entah kenapa Bapak terlihat begitu bahagia kali ini. Bapak meletakkan kedua tangan di depan mulutnya. Seperti sedang membuat corong pengeras suara.


" . . . , . . .," Bapak terlihat meneriakkan sesuatu. Namun aku nggak mendengar apa yang diteriakkannya.


" . . ., . . .," sekali lagi Bapak terlihat meneriakkan sesuatu.


Ah, jangan jangan penting. Apa sih yang diteriakkan Bapak itu.


"Jaga dirimu~ ," Kali ini terdengar sepotong sepotong. Aku memutuskan hendak kembali ke rumah, ingin memastikan apa yang ingin disampaikan Bapak.


"Dan Danii?," Sebuah suara lain terdengar dari arah belakangku.


Flaaapppp


"Dan . . Dani?," suara Amel memanggilku sambil mengguncang guncangkan tubuhku. Aku sedikit tersentak dan tersadar.


Itu tadi mimpi? Sekarang aku sedang terduduk di depan ruang siar Radio Pesona. Amel di sampingku, mencoba membangunkan aku.

__ADS_1


"Dan badanmu anget, dan kamu ngigau nggak jelas tadi. Kamu nggak pa pa?," Amel bertanya, khawatir. Aku hanya menggelengkan kepalaku.


Aku tadi bermimpi. Dan hampir semua orang di daerahku tahu bahwa mimpi yang baru saja kualami adalah sebuah pertanda buruk. Di daerahku ketika ada anggota keluarga yang sakit dan kamu bermimpi yang sakit itu meninggal dunia itu artinya kamu akan berbahagia, yang sakit akan kembali sehat. Namun jika mimpi itu sebaliknya, orang yang sedang sakit masuk ke dalam mimpimu dan dia sehat segar bugar, maka hal itu adalah pertanda yang sangat buruk.


__ADS_2