Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Se ikat kayu di bekas ruko


__ADS_3

Setelah mengambil motor di rumah Irul aku bergegas untuk pulang. Rencananya aku mau mandi, ganti baju dan kembali ke Rumah Sakit. Langit yang mendung membuat siang ini terlihat lebih suram dari biasanya. Kurang lebih suasana alam ini serupa dengan suasana hatiku.


Angin yang semula sepoi-sepoi, kini berubah menjadi semakin liar. Tiupan angin yang kencang dibarengi rintik-rintik air hujan yang menghujam bumi. Awalnya, aku bertekad untuk menerobosnya saja, namun melihat ada sebuah bekas ruko kosong di pinggir jalan, kuputuskan untuk berteduh terlebih dahulu. Nggak lucu juga kalau nanti aku sampai masuk angin. Bisa gagal total rencanaku untuk kembali menengok Erni nanti, jika aku malah jatuh sakit.


Aku menepikan si "Thor" di bekas ruko yang tak terpakai, dengan beberapa atap seng yang tidak beraturan. Kebetulan memang hari ini aku nggak bawa jas ujan. Suara air hujan yang menimpa atap seng di atas kepalaku, membuat suara bising yang khas. Aroma tanah basah terguyur hujan sungguh membuat hatiku lebih terasa tenteram. Sesekali kulongok atas kepalaku, khawatir ada bagian seng yang terjatuh.


Hujan cukup deras dengan durasi yang cukup lama. Wah, kapan mereda nih hujan. Tanpa terasa sudah hampir setengah jam aku berdiam diri di tempat ini. Jalanan sepi, lengang, sesekali terdengar gemuruh di atas langit. Udara semakin terasa dingin, padahal kulirik jam tangan saat ini jam dua siang.


Terdengar suara langkah mendekat. Samar-samar terlihat di tengah guyuran hujan nenek-nenek sedang menggendong seikat kayu bakar. Kasihan sekali batinku. Nenek tersebut terlihat basah kuyup. Dia ikut berteduh di tempat ini, menurunkan kayu bakarnya yang juga basah oleh hujan, kemudian duduk agak jauh dariku.


Kulihat sekilas mungkin usianya di atas tujuh puluh tahun. Terlihat sudah sangat renta. Namun sangat kuat untuk ukuran nenek sepuh jika dilihat jumlah kayu bakar yang digendongnya cukup banyak.


"Nek, ngapunten, rumah nenek deket sini?", Aku bertanya basa basi memulai pembicaraan.


Si nenek nampak tak bergeming. Tidak pula menoleh ke arahku. Tetap sibuk mengelap-ngelap badannya yang basah dengan "centhing" (sabuk kain) dari pinggangnya. Ah, mungkin karena hujan suaraku tidak begitu terdengar. Apalagi nenek sudah terlihat renta. Mungkin juga pendengarannya sudah berkurang. Biarkan saja, jangan diganggu.


"Aku ora budeg lee (Aku nggak tuli nak) . . .", Si nenek tiba-tiba bersuara. Suara serak, lirih namun terdengar jelas di telingaku.

__ADS_1


Aku terkaget dengan perkataan si nenek. Bagaimana bisa dia tahu isi pikiranku? Atau mungkin dia asal ngomong saja?


"Jenengmu sopo? (namamu siapa)", Si nenek bertanya, tanpa melihatku.


"Kulo Dani nek, nama ku Dani", Aku sedikit kikuk.


"Aku mbah ginah. Rumahku mlebu situ lho, ada jalan setapak di situ ", Si nenek yang ternyata bernama mbah ginah menunjuk sebuah jalan kecil, di sebelah bekas ruko tempatku sekarang.


"Lhoh, di situ apa ada rumah nek? setahuku tegalan lho, aku hampir tiap hari lewat sini nek", Aku bertanya heran.


"Nggeh mbah, jadi penasaran, mosok ada kampung di situ", Aku mengalihkan pandanganku.


"Tapi kamu nggak bisa masuk situ kalau nggak tak ajak", Mbah Ginah tiba-tiba mendekatiku. Aku cukup kaget. Bulu kudukku kembali berdiri. Jantungku berdetak menjadi tidak beraturan. Ini bukan jatuh cinta, tapi tubuhku mengirim sinyal ada yang tak beres, nenek ini menakutkan.


"Hmmm, tak delok (tak lihat). . .uripmu (hidupmu) banyak yang ganggu lee", Mbah Ginah menatapku tajam. Aku nggak bergeming, ngeri.


"Tapi ini baru awalnya saja. Kowe kudu ngati-ngati", Mbah Ginah memberi peringatan, terlihat serius dengan perkataannya.

__ADS_1


"Mak. . .maksudnya mbah?", Aku tergagap, memberanikan diri bertanya.


"Kamu tahu, ono sing lebih jahat lan olo dari tingkah para dedemit?", Mbah Ginah bertanya padaku, aku menggeleng cepat.


"Perbuatan menungsa, manusia yang bersekutu dengan mereka sing tak terlihat untuk mendapatkan keinginannya. Pancen menungsa iku menus menus ora rumangsa (lupa dengan kesalahan sendiri ; mungkin)", Mbah Ginah berkata demikian dengan sedikit terkekeh. Aku semakin ngeri, dan tidak menangkap maksud perkataan simbah satu ini.


"Pokok e kapan-kapan tak jak mampir rumah. Saiki aku arep muleh, wes terang (sekarang mau pulang, sudah cerah)", Mbah Ginah beranjak dari tempatnya segera melangkah pergi meninggalkan seikat kayu bakarnya. Hujan sudah mereda.


"Lho mbah, kayu nya ketinggalan", Aku bertanya heran.


"Ben situ ae nunggu garing. Lagian aku wes tuwek, iku abot. (biarkan di situ saja, aku sudah tua, berat) Kapan-kapan tugasmu ngantar itu ke rumahku", Mbah Ginah tetap berjalan, meninggalkanku yang terheran-heran. Kulihat jalanan lumpur yang mbah ginah lewati tidak terlihat jejak kakinya di tanah. Aku mengusap-usap mataku. Lagi, aku merinding hebat.


Segera, kusambar motor dan pergi meninggalkan seikat kayu yang duduk manis di bekas ruko kosong. Kugeber motorku sekencang-kencangnya, kalaupun di depan hujan lagi, tak sudi aku berhenti untuk berteduh lagi. Lebih baik basah kuyup karena hujan daripada basah kuyup karena keringat dingin ketakutan.


Brummm bruuummm


Ayo cepat lari Thoorrr . . .

__ADS_1


__ADS_2