
Hari berganti.
Hari kedua Bapak dirawat di Rumah Sakit. Kelihatannya Bapak sudah semakin membaik keadaannya. Mungkin besok sudah diperbolehkan pulang. Ibuk tadi malam menginap di Rumah Sakit nungguin Bapak. Dan pagi ini aku yang gantian nungguin Bapak, Ibuk pulang dijemput Lik Diran. Adik di rumah mulai rewel ditinggal seharian sama emaknya.
Jam tujuh pagi, Bapak masih tidur mendengkur. Sementara aku membawa beberapa komik (yang sebagian aku pinjam dari Irul belum sempat kukembalikan) untuk mengusir kebosanan. Suasana sunyi pagi hari di Rumah Sakit membuat perasaanku nggak nyaman. Apalagi kemarin siang pas numpang beol di toilet ada yang nge "ganggu".
Hawa sejuk atau lebih tepatnya anyep (semacam dingin) menjalar melalui lubang ventilasi di tembok atas tempatku duduk lesehan. Aku duduk lesehan di samping tempat tidur Bapak. Aku celingak celinguk, entah kenapa suasana terasa sangat lengang. Aku berdiri, membuka pintu dan melihat keluar kamar. Memang sepi, dan ada kabut tipis di sepanjang koridor Rumah Sakit. Aku buru buru balik masuk, dan menutup pintu.
Aku kembali duduk lesehan. Untuk mengalihkan pikiranku dari rasa takut, aku membuka komik, dan membacanya. Komik pertama yang kupilih adalah Detective Canon. Aku tenggelam dalam bacaan, namun kemudian . . .
Sreett Sreett Sreettt
Suara seperti langkah kaki yang diseret terdengar mendekat. Pelan tapi pasti, suara datang seakan dari kamar sebelah. Padahal setahuku kamar sebelah kosong, tidak ada pasien yang menempati di sana. Aku menajamkan telinga dan ternyata detak jantungku mulai terasa berdegup tidak beraturan. Udara dingin nggak mampu menghalangi pori pori kulitku meluncurkan cairan keringatnya.
Sreett Sreett Sreett
Suara itu seakan berputar putar di teras depan kamar. Aku mulai berharap dan berdoa, semoga apapun itu yang di luar tidak akan masuk kesini dan menggangguku. Sudah cukup dengan segala teror dan keanehan yang kualami di rumahku akhir akhir ini. Aku nggak mau dapat teror juga di Rumah Sakit ini.
Suara berhenti, hening, senyap. Keheningan yang malah semakin membuatku merinding hebat. Haruskah aku membangunkan Bapak?
Ciitttttt
Pintu kamar dibuka dari luar. Sial sial sial. Aku gugup namun juga penasaran. Sebagian dari diriku memintaku untuk melihat ke arah pintu, sebagian yang lain menyuruhku untuk diam saja.
"Mas, lantainya mau saya pel," suara seorang laki laki. Aku cepat menoleh, dan ternyata petugas kebersihan Rumah Sakit memegang alat pel nya. Aku menghela nafas, lega. Ternyata suara tadi adalah suara Mas nya lagi nge pel. Aku mengutuk diriku sendiri karena terlanjur parno an dan takut setengah mati.
"I-iya mas," Aku menjawab tergagap.
Aku segera melipat tikar, dan menyimpannya di samping tempat tidur Bapak. Mas mas nya dengan cekatan mengepel kamar, hingga ke sudut sudutnya tidak ada yang terlewat. Terlihat bersih kinclong, dan membuat kamar beraroma segar.
"Sampun mas (sudah mas), permisi," Masnya tersenyum puas dengan hasil pekerjaannya, kemudian keluar kamar.
__ADS_1
"Dan?," Bapak terbangun, memanggilku lirih.
"Ah, iya Pak?" Aku mendekat.
"Ambilin Bapak minum," Bapak memintaku untuk mengambilkan air minum. Sebotol a*ua satu setengah liter, di atas meja kuambil. Kutuangkan ke gelas dan kuberikan pada Bapak.
Glek Glek Glek
Bapak meminumnya sampai habis. Terlihat benar benar kehausan.
"Maleh Pak (Mau lagiPak)?" Aku bertanya pada Bapak, melihat gelasnya sudah kosong.
"Nggak, sudah." Bapak menjawab singkat. Bapak merebahkan badannya kembali.
Ubuukk Uhuukk Uhuuuukk
Tiba tiba saja Bapak seperti tersedak, batuk yang terdengar kering.
Uhuukk uhuukk uhuukk
Air yang diminum Bapak kembali dimuntahkan. Selimut yang dipakai Bapak basah oleh air muntahan.
"Pak, Bapak nggak pa pa?" Aku bertanya, panik.
"Keselek air kayak e, gatal di tenggorokan," Bapak menjawab lirih.
Bapak menepuk nepuk pelan dadanya kemudian kembali merebahkan badan mencoba untuk tidur lagi. Sepertinya Bapak masih butuh banyak istirahat. Aku melipat selimut yang basah, memasukkan ke dalam tas kresek, dan menggambil selimut baru dari dalam tas. Aku menyelimutkannya ke badan Bapak.
Drrtt Drrtt Drrtt
HP ku di atas meja bergetar. Sebuah SMS masuk, dari Irul.
__ADS_1
Dan, aku ingin meminta maaf padamu atas semua kesalahan yang telah kuperbuat. Atas semua ucapanku tempo hari. Kamu boleh membenciku, kamu juga berhak tidak memaafkanku. Jaga dirimu bro, apapun yang telah terjadi aku selalu menganggapmu sebagai temanku. Sesampainya di luar Jawa nanti, aku akan berganti nomor Bro. Aku berniat membuka lembaran kehidupan yang baru di tempatku nanti. Ini mungkin komunikasi kita untuk terakhir kali. Semoga kamu dan keluargamu selalu diberi kesehatan, segala masalah yang menimpamu segera mendapat jalan keluar. Titip salam juga untuk teman teman kelas C, aku nggak pamit ke siapapun kecuali kamu Bro.
Terimakasih dan sampai jumpa lagi.
SMS yang cukup panjang dari Irul. Aku tertegun membacanya. Segera kubalas singkat.
Iya Bro. Aku mendoakanmu selamat sampai tujuan, sukses di tempat barumu.
Ting. SMS terkirim. Kutunggu beberapa saat, tidak ada laporan SMS tersampaikan. Kucoba meneleponnya untuk mengucapkan perpisahan.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi. Tuut Tuutt
Sudah tidak bisa dihubungi. Aku menghela nafas. Tak kusangka si kunyuk satu itu akan pergi dan persahabatan kita berakhir dengan cara seperti ini.
Aku kembali memandang Bapak, yang terlihat kembali tidur begitu pulasnya. Aku kembali mengambil komik untuk menemani kesendirianku. Komik milik Irul yang akhirnya nggak bisa aku kembalikan. Aku melangkah keluar kamar, duduk di kursi depan menghirup nafas dalam dalam, mengalihkan pikiranku ke dalam cerita komik.
...* * *...
Siang hari sehabis zuhur, Lik Diran datang bersama seorang pekerjanya.
"Wes Dan, tak jagain e Bapakmu. Katanya kamu ada jadwal kerja hari ini," Lik Diran berkata padaku yang masih sibuk memasukkan komik komik ke dalam tas.
"Iya Lik," Aku menjawab singkat. Hari ini memang aku ada jadwal siar, kalau jadwal kuliah kebetulan sedang kosong.
"Kok jatah makan masih utuh Dan?" Lik Diran bertanya padaku, melihat bubur di mangkuk atas meja tak tersentuh, masih utuh.
"Iya Lik, Bapak nggak mau maem sama sekali. Katanya nggak ada nafsu makan. Daritadi tiduur saja", Aku menjelaskan.
"Yah, nanti coba tak bujuk e . . . semoga mau makan. Kalau nggak makan kan ya nggak bisa cepet sehat," Lik Diran menghela nafas.
"Iya Lik. Lek tidur e udah pules, tapi maem e blas mboten purun (sama sekali nggak mau makan)," Aku meraih ranselku dan menggendongnya.
__ADS_1
"Aku tak kerja sek ya Lik", Aku berpamitan pada Lik Diran dan menyalami pekerja Lik Diran, yang diam saja nggak ikut berkomentar apapun.
Aku tidak berpamitan pada Bapak. Bapak masih tidur pulas dan sesekali terdengar mendengkur. Aku berjalan keluar kamar, menyusuri lorong Rumah Sakit menuju tempat parkir. Cuaca siang ini cukup terik, kontras dengan pagi tadi yang dingin dan berkabut. Dan entah mengapa aku merasa sedikit pusing, semoga aku tidak ikut ikutan jatuh sakit.