
Adzan maghrib berkumandang. Adikku masih menangis meraung-raung, tanpa bisa dihentikan. Entah apa yang membuatnya menangis seperti itu. Sudah hampir dua setengah jam tangisan tak kunjung mereda. Mata kecilnya terlihat sembab, dan wajahnya memerah. Ibuk menggendongnya, mencoba menenangkannya.
"Dan, ayok kita ke rumah mbah Kadir, simbahmu. . .", Ibuk berkata disela sela tangisan adikku yang masih terdengar nyaring.
"Ngapain buk?", Aku mempertanyakan ajakan Ibuk. Jujur saja aku males untuk berkunjung ke rumah simbahku yang satu itu. Simbah galak dengan tatapan yang tidak pernah ramah pada cucu-cucunya. Bahkan waktu kemarin aku kecelakaan pun simbahku yang satu itu tidak nampak menengokku.
"Ya minta di suwuk to, siapa tahu adik kena gangguan", Ibuk memelototi aku, yang memang nampak enggan untuk ke rumah Mbah Kadir.
Dengan setengah terpaksa aku melangkah, mengambil kunci si "Thor" di gantungan dalam kamar. Adik masih menangis seperti tadi. Ditanya pun jawaban hanya tangisan, entahlah apa yang dia rasakan saat ini. Badannya nggak panas dan tadi juga sehat-sehat saja.
"Nggak nyoba ke dokter aja Buk?", Aku mencoba bernegosiasi, sungguh aku enggan ke rumah simbah.
"Nanti Dan, kita ke mbah mu dulu, wes to manut o!", Ibuk kali ini setengah membentak, mungkin sudah jengkel juga dengan sikapku.
"Iya iya", Aku akhirnya pasrah. Karena memang adikku masih terus saja menangis.
Akhirnya kami berangkat ke rumah mbah Kadir, rumahnya terletak di sebelah selatan, sekitar satu setengah kilometer dari rumahku ini. Adikku baru mereda tangisnya ketika kami sudah keluar dari pekarangan rumah, setelah area persawahan. Adikku terlihat tertidur, mungkin merasa capek juga menangis ber jam-jam.
__ADS_1
Sepuluh menit selanjutnya, setelah melewati jalanan "rabat" (semen) menanjak, sampailah di sebuah rumah besar dengan halaman seluas lapangan sepakbola kecamatan. Di halaman rumah terparkir mobil pick up dengan bagian belakang ter tempel stiker bertuliskan cinta ditolak dukun bertindak. Pick up punya Lik Diran pastinya. Aku memarkir si "Thor" di sebelah pick up.
"Kulonuwuunn", Aku mengucap salam, ku toleh adikku, yang ternyata terlihat tidur lelap.
Pintu di buka, Lik Diran menyambut dengan senyum ramahnya.
"Waduh, njanur gunur, kadingaren kesini", Lik Diran tersenyum ramah.
"Mbah Kung ada Lik?", Aku balas tersenyum.
"Iya Lik, daritadi nangiiiss wae, kecapek an nih kayak e sampek tidur pules gini", Ibuk mengelus-elus dahi adikku yang penuh keringat.
"Nggak panas tuh" Lik Diran mendekat, menempelkan punggung tangannya ke dahi adikku.
"Yuk masuk nek gitu, langsung ke belakang, si mbah di belakang tuh, rokok an kayak e", Lik Diran segera mengajak kita bertiga ke rumah belakang.
Rumah Lik Diran memang luas, bagian depan rumah ditempat i Lik Diran, sementara di bagian belakang ada rumah kecil yang biasa digunakan simbah untuk bersantai dan juga tempatnya melakukan ritual entah apa aku nggak faham. Lik Diran mengajak kami ke rumah belakang. Aroma kemenyan langsung terasa menusuk hidung.
__ADS_1
Ketika kami datang Si mbah sedang duduk di kursi goyangnya sambil menikmati setiap sedot dari rokok kobotnya. Rokok kobot adalah rokok kesukaan simbah, rokok yang berbungkus kulit jagung kering. Melihat kedatangan kami, simbah tidak bergeming, seolah tidak ada orang lain selain dirinya.
"Kung, pripun kabare? Sae nggeh?", Ibuk menyalami simbah, dan memberi salam basa basi.
"Apik, ono opo mrene?", Mbah Diran bertanya tanpa menatap ke orang yang ditanya.
"Ini lho si kecil nangis nggak berhenti, nanges dua jam Kung, kulo kawatir kalau-kalau sawanen", Ibuk menjelaskan sambil sekali lagi mengelap keringat di dahi adik dengan menggunakan ujung gendongan.
Simbah mendekati Ibuk, dan menggunakan jempol tangan kirinya menekan tepat diantara dua alis mata adikku. Sejurus kemudian terlihat komat kamit, dan meniup niup dahi adikku.
"Cah bodhoo, ono sing wani wani melu nempel neng awakmu (Bocah bodoh, ada yang berani-beraninya nempel di kamu, ngikut kamu)", Mbah Kadir melihat kearahku, mengarahkan jari telunjuknya ke arahku. Ekspresinya terlihat kesal, sementara aku, celingak celinguk nggak ngerti
"Ambu mu gondo mayit (Baumu seperti orang mati)!", Mbah Kadir melihatku dengan melotot, aku terdiam nggak ngerti apa maksud simbahku satu ini.
Mbah Kadir mendekatiku, masih dengan tatapannya yang tajam, garis wajah tegas tanpa senyum, yang membuat aku kikuk. Mbah Kadir memegang telapak tanganku dan menekan nadiku. Mau apa nih, si Mbah Kung?
__ADS_1