
Akhir-akhir ini aku merasa cukup sering bolak balik ke Rumah Sakit Umum Kota. Pertama saat aku terkapar kecelakaan, kedua saat menengok Lik Wo yang juga kecelakaan motor, dan kali ini aku kembali ke tempat ini lagi untuk melihat Erni yang katanya sedang kritis. Aku masih belum tahu Erni sakit apa. Masih cukup pagi ketika aku dan Irul sampai di Rumah Sakit. Nita sudah menunggu kami di depan pintu Rumah Sakit.
"Erni kritis", Kalimat pertama yang keluar dari mulut Nita, suaranya terdengar bergetar, terlihat jelas dia sedang gelisah.
"Erni sakit apa? Sekarang dirawat di ruang apa?", Aku bertanya nggak sabar. Irul hanya terdiam di sebelahku.
"Erni sekarang sedang di ruang operasi. Dia harus dioperasi, kedua kaki nya patah", Nita berkata lirih, menggigit kuku ibu jari tangannya.
"Hah?! Kok bisa? Apa yang terjadi Nit? Erni kenapa?", Rasa cemas mulai menjalar di dalam dadaku. Membuat dadaku serasa sesak.
"Erni seharian kemarin menghilang. Dia tidak pulang ke rumah, dan tidak ada yang tahu dia pergi kemana. Bahkan orangtua Erni sempat membuat laporan ke polisi mereka kehilangan anak perempuannya", Nita menghela nafas, panjang.
__ADS_1
"Sekitar jam tiga pagi tadi, satpam menemukan Erni tergeletak di selatan parkiran kampus dalam keadaan bersimbah darah tak sadarkan diri. Kedua kaki nya patah", Nita kali ini terlihat meneteskan air mata.
"Ya Tuhan, kenapa bisa kejadian kayak gitu? Erni kenapa?", Aku terduduk. Kaki ku lemas.
"Kemungkinan besar, dia terjatuh dari lantai tiga dengan posisi kaki terlebih dulu. Menurut kesaksian satpam kampus, saat berkeliling terdengar suara berdebum di sebelah selatan, ketika dilihat Erni sudah tergeletak. Tidak ada orang lain di sekitarnya ", Nita bercerita, berjongkok di depanku.
"Kupikir, Erni kemarin dikabarkan hilang. . .kupikir dia pergi ke tempatmu Nit . . .", Suaraku bergetar, tenggorokanku terasa serak.
"Tidak ada seorang pun yang tahu dia kemarin pergi kemana Dan. Bahkan anehnya motornya pun belum ditemukan. Polisi menyimpulkan Erni melakukan percobaan bunuh diri. Karena tidak ada tanda-tanda kekerasan ditubuhnya", Nita menatapku sesaat.
"Hah? Kamu yakin?", Irul kali ini membuka suara, memastikan kebenaran ucapan Nita.
__ADS_1
"Setahuku begitu. Kemarin aku pulang lebih dulu dari kampus. Aku sempat mengajak Erni bareng. Dia menolak. Katanya dia mau menemuimu Dani, setelah itu dia ada janji sama Kak Iwan. Tapi menurut Kak Iwan dia tidak pernah ketemu sama Erni kemarin. Tadi Kak Iwan juga sempat ke rumah sakit. Dia terlihat terpukul dengan kejadian ini. Aku terus mencoba menghubungimu Dani, tapi nggak pernah kamu angkat. Untunglah saat aku menghubungi Irul ternyata kamu juga kebetulan ada. Sekarang aku menuntut penjelasan darimu Dan, terakhir kali kamu ketemu Erni adakah sesuatu yang aneh darinya?", Nita bertanya penuh selidik.
Aku menghela nafas, memperbaiki posisi dudukku. Kemudian, aku menceritakan pertemuanku dengan Erni kemarin siang, perdebatan kami, dan terakhir kali aku meninggalkannya di bawah tangga sendirian. Aku ceritakan pula bagaimana Iwan kemarin telah memberiku beberapa pukulan yang masih meninggalkan luka memar di pipiku.
"Tidak mungkin Erni mencoba bunuh diri Nit. Tidak ada alasan baginya untuk melakukan itu. Perdebatannya denganku kemarin itu pun, bukan sesuatu yang penting banget, sampai harus kejadian seperti ini", Aku berdiri dari dudukku.
"Aku juga tidak percaya jika Erni melakukan bunuh diri. Yang jelas saat ini dia masih kritis, entah kapan dia akan terbangun. Kemana sebenarnya dia kemarin? Kenapa bisa dia terjun dari lantai tiga? Aku bener bener nggak ngerti", Nita memeluk lututnya, terlihat kali ini dia menangis terguncang.
Irul menepuk-nepuk punggung Nita. Irul yang biasanya banyak bicara kali ini mulutnya terkunci rapat. Terlihat dia pun ikut terguncang dengan keadaan saat ini.
"Ngomong-ngomong kamu sudah coba menghubungi Febi Nit?", tiba-tiba aku teringat Febi.
__ADS_1
"Sudah, tapi belum diangkat", Nita mengelap air mata dengan punggung tangannya.
Aku terdiam. Perasaan nggak enak yang menuntunku ke kampus tadi malam, adakah hubungannya dengan semua ini? Kenapa orang- orang yang kukenal satu persatu tertimpa hal buruk? Lik Jo gantung diri, Lik Wo masih belum sadar, dan kali ini Erni pun demikian. Kemana aku harus bertanya? Siapa yang bisa memberiku jawaban???