
Aku terbangun, di sebuah ruangan berwarna serba putih. Perlahan-lahan kesadaranku pulih. Tangan kiriku tertancap selang infus. Sementara tangan kananku diperban. Mulai terasa di sekujur tubuhku perih, sakit, seperti hendak rontok tulang belulangku. Sepertinya aku berada di salah satu kamar Rumah Sakit. Ibuk tertidur dengan posisi duduk di kursi tepat di sebelah kiriku.
"Buukkk. . .", panggilku, lirih.
Meskipun suaraku pelan, namun Ibuk langsung tersadar, membuka mata dan terlihat senyum, lega.
"Syukurlah lee. . .kamu wes banguunnn, .", Ibuk berkaca-kaca.
"Ini dimana buk?", aku bertanya memastikan, dimana aku sekarang berada.
"Kamu di Rumah Sakit lee. .kemarin sore kamu kecelakaan", jawab Ibuk menerangkan.
"Kamu nggak sadarkan diri semalaman lee", lanjut Ibuk.
Kulirik jam di tembok, jam sembilan, jendela di sebelah kanan memancarkan sinar mentari, berarti sekarang jam sembilan pagi. Aku mengangguk paham.
__ADS_1
"Oiya, motorku gimana? Terus adik mana? kok ibuk dewean", aku bertanya, penasaran.
"Adik di rumah sama Bapak. Lek motormu ya ajuurr, sekarang ini masih di Polres. Sek tak manggil dokter dulu ya", Ibuk setengah berlari keluar kamar.
Beberapa menit kemudian Ibuk kembali bersama seorang perawat. Di belakang mereka ada bapak-bapak memakai jas warna putih, pasti dokternya. Setelah memeriksaku beberapa saat, perawat dan dokter itu meninggalkanku bersama Ibuk. Aku masih merasa lemah dan lemas. Ibuk menyarankan aku untuk tidur. Belum sempat aku memejamkan mata, pintu kamar terbuka. Febi masuk pelan-pelan dan setelah melihatku, dia sedikit berlari mendekat ke tempat tidurku. Di belakang Febi ada Nita, Hasan dan beberapa teman yang lain. Aku sempat berharap Erni akan muncul saat itu, namun ternyata dalam rombongan yang menjengukku kali ini tidak ada sosoknya. Jujur, aku sedikit kecewa.
"Ibuk . .", sapa Febi, mencium tangan Ibuk. Ibuk tersenyum.
"Daann. . .kamu, nggak pa pa?", Febi melihat kearahku, terlihat kedua bola mata nya bergetar.
"Kok nangiss, lha wong Dani wes kelihatan sehat, ganteng kayak gini kok", kelakar Hasan dari belakang.
Hasan mendekat padaku, dan menepuk pundak Febi.
"Gimana gaess?", Hasan tersenyum menyapaku.
__ADS_1
"Aman gaes, pembalap moto jipi jatuh iku biasa", aku mencoba membuat suasana lebih ceria.
Teman-teman yang lain tersenyum, ikut mendekat padaku. Nita meletakkan keranjang berisi buah-buahan di meja. Beberapa teman menanyakan kronologi bagaimana aku bisa mengalami kecelakaan ini. Aku menjelaskan kejadiannya namun bagian aku melihat penampakan aneh tidak aku ceritakan. Sementara biarlah hal itu menjadi rahasiaku.
Aku kembali teringat Erni, kenapa dia sama sekali tidak menengokku. Apakah dia sama sekali tidak ada lagi rasa peduli kepadaku? Memikirkannya membuat hatiku tersakiti. Aku bertekad ketika aku sudah sembuh nanti aku akan menemui Erni. Menjelaskan yang sebenarnya terjadi antara aku dan Febi. Dan aku akan mengutarakan perasaanku pada Erni. Entah apapun reaksi dan balasan darinya aku nggak peduli. Hatiku terlalu sakit untuk memendam rasa ini terlalu lama. Aku harus membuatnya jelas. Aku suka pada Erni.
"Gaes, kok bengong? Semaput jangan-jangan", Hasan menepuk-nepuk tangan kiriku pelan.
Aku tersenyum, aku masih merasa lemas. Melihatku yang seperti itu Hasan memahami, dan memberi kode ke teman-teman yang lain untuk segera pulang, agar aku bisa beristirahat. Semua paham dan setuju, setelahnya Hasan pamit dan mendoakan kesembuhanku. Febi yang terakhir pamit.
"Cepet sembuh Dann, kalau perlu apa-apa hubungi aku", Febi mengusap lenganku. Aku mengangguk pelan.
* * *
Hari ini kuhabiskan waktuku untuk memulihkan kondisi, aku lebih banyak tidur. Sesekali terbangun dan kulihat Ibuk sibuk merajut benang wol. Ah, seandainya Erni ikut menemaniku saat ini, mungkin aku akan pulih lebih cepat. Terlihat dari bingkai jendela, matahari terbenam secara perlahan, seakan enggan meninggalkanku yang mengharapkan kedatanganmu. . .Erni.
__ADS_1