Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Sebuah pertengkaran


__ADS_3

Hari selasa, jam sepuluh tepat aku duduk di ruang kelas, menunggu dosen datang. Kujejalkan headset ke telingaku memutar lagu di mp3 player.


Bila rasaku ini rasamu


sanggupkah engkau menahan sakitnya


terhianati cinta yang kau jaga


Lagu yang terasa pas dengan suasana hatiku saat ini. Kupejamkan mataku menikmati alunan lagu, detik berikutnya sepasang tangan terasa mengguncang-guncangkan pundakku. Aku membuka mata, ada Febi di sebelahku, memegang pundakku dan mengguncang-guncangkannya pelan. Kulepas headset yang menyumbat telingaku.


"Apa sih?", tanyaku ngerasa nggak nyaman. Terlihat beberapa teman di kelas menoleh kearahku.


"Kamu dari kemarin kenapa nggak bales SMSku", Febi terlihat cemberut meminta penjelasan.


"Nggak punya pulsa", jawabku singkat, cuek.


"Teleponku kenapa nggak kamu angkat?", Febi melanjutkan introgasinya.


"Apa sih Fee, kalau ada yang penting ya ngomong saja sekarang. Nggak usah berlebihan deh", Aku kali ini meninggikan nada suaraku. Febi melepaskan tangannya dari pundakku. Menatapku dengan pandangan heran. Mungkin dia kaget dengan sikapku kali ini.


"Kamu kenapa? Aku ada salah ya sama kamu?", Febi bertanya tidak mengerti dengan situasi saat ini.


"Udah deh, ini waktunya kuliah. Duduk sono di kursimu. Dosen bentar lagi datang", Aku kembali memasang headset ke telingaku. Febi beranjak dari tempatku duduk, terlihat berjalan keluar kelas.


Sebuah tepukan keras menghantam punggungku. Aku menoleh, Irul ternyata pelakunya.


"Apa sih? Semprul!", bentakku kaget.

__ADS_1


"Pasutri lagi berantem nih ceritanya", Irul meledek, menaikkan salah satu alisnya.


"Pasutri gundulmu!", Aku merasa jengkel dengan ledekan Irul kali ini.


"Lhah, marah beneran, Ada apa sih? Cerita in dongg?", Irul kali ini merengek seperti anak TK minta permen.


"Pengeenn taauuu aja semprul satu ini", Aku geleng-geleng kepala.


"Lha konco oraaa?", Irul memijit kedua pundakku, merayu.


"Hoorraaaaaaa", jawabku panjang.


Irul menoyor kepalaku, aku males meladeni.


Beberapa anak cewek terlihat berbisik-bisik , bodo amat, mungkin mereka sedang menggosipkanku. Kembali aku menjejalkan headset ke telingaku, kusandarkan tubuhku ke kursi dan kupejamkan mata, sekali lagi mencoba menikmati alunan musik sendu di mp3 playerku. Dan lagi, sebuah tepukan dipundak merusak kesenanganku.


"Apa lagi siihh, semprul singoo!", Aku sedikit berteriak.


* * *


Jam 1 siang, di tengah teriknya matahari aku berada di parkiran kampus mengingat-ingat dimana ke parkirkan si "Thor" tadi pagi. Aku garuk-garuk kepala karena lupa. Sial, gara-gara urusan cewek nih jadi konsentrasi ku buyar. Sayup-sayup terdengar lagu dari pos satpam di sebelah utara parkiran.


Wanita racun dunia


Karena dia butakan semuaaa


Racuunn . . . racuunnn

__ADS_1


Racuunn . . . Racuunnnn


Aku sedikit tersenyum mendengarnya. Tiba-tiba dari belakang sepasang tangan menarik lenganku. Aku menoleh dan ternyata Erni.


"Ikut aku, aku mau ngomong", Erni menarikku, menggelandangku menjauhi area parkir yang panas ini, sementara aku hanya bisa pasrah tanpa perlawanan.


Di lorong bawah anak tangga kampus 1, Erni menghentikan langkah dan langsung menatapku, terlihat marah. Aku sedikit ngeri.


"Apa yang kamu lakukan Dan?", Erni sedikit membentakku.


"Apa? Aku nggak melakukan apa-apa kok", Aku menyandarkan punggungku ke tembok.


"Febi tadi nangis, dan langsung pulang", Erni masih menatapku dengan amarah.


"Terus?", Aku sedikit jengkel Erni membahas soal Febi.


"Kamu apakan dia tadi, kamu ngomong apa sama dia?", Kali ini Erni meninggikan nada bicaranya, tangannya tertekuk di depan dada.


"Apa sih Er, aku lho gak ngomong apa-apa, dia tanya kenapa aku nggak bales SMS, nggak ngangkat telpon nya, ya suka-suka aku lah", kali ini aku pun menaikkan nada bicaraku.


"Dasar! Ternyata kamu tuh nggak punya perasaan ya Dan! Kamu udah nyakitin Febi, kamu tahu?", Erni melotot, aku nggak gentar kali ini, karena mood ku juga sedang hancur hari ini.


"Teruuss?? Maumu gimana? Aku harus jadian gitu sama Febi? Terus double date gitu sama kamu dan Iwan? Gila apa!", Aku melengos, mencoba pergi.


"Kenapa bawa-bawa Iwan? Seharusnya kemarin aku nggak cerita sama kamu kalau bakal seperti ini. . .", Erni memegang lenganku mencegahku pergi, matanya terlihat berkaca-kaca.


"Bukan salahmu dan bukan juga salahku. Manusia hanya memanen apa yang dia tanam. Febi membohongimu, Febi memintamu menjauhiku, seandainya dia tidak melakukan itu, aku sudah berencana mengatakan perasaanku padamu waktu itu. Mungkin saat ini kita sudah bareng-bareng Er. Seharusnya kamu ngerti perasaanku, wajar lah aku marah sama Febi", aku menghela nafas.

__ADS_1


"Kamu nggak ada hak melarangku marah padanya, ini soal hati, kamu sudah ada Iwan, kamu bisa seneng sama dia, sementara aku? hanya bisa melihat punggungmu yang semakin berjalan menjauhiku", aku melepaskan tangan Erni dan berlalu.


Aku sempat menoleh ke belakang, kulihat Erni bersandar di dinding tempatku tadi, tertunduk lesu.


__ADS_2