Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Permintaan Bapak


__ADS_3

Sehabis maghrib sampailah aku di rumah Lik Diran. Badanku terasa meriang seperti mau rontok semua tulang belulangku. Kulepas sepatu, namun tetap kupakai kaos kakinya dan segera merebahkan badanku di kasur dalam kamar. Badanku panas, namun saat ini aku menggigil kedinginan, mataku pun terasa pedas.


Ibuk yang melihatku datang, menyusulku ke dalam kamar. Melihatku yang langsung tiduran, Ibuk terlihat khawatir, mendekat padaku dan memegang dahiku dengan punggung tangannya.


"Lee. . . Badanmu panas," Ibuk berkata lirih padaku.


"Iya Buk, mungkin kecapek an saja kok. Nggak pa pa ini," Aku mencoba menenangkan Ibuk agar tidak khawatir berlebihan.


"Ibuk nggak usah khawatir. Aku beneran nggak pa pa," Aku meyakinkan Ibuk.


"Adik mana Buk?," Aku mencoba untuk duduk, terasa sedikit pusing. Ibuk memandangku dengan tatapan sayu. Terlihat raut wajah kesedihan.


"Adik di rumah Bu Minah. Ibuk mau ke Rumah Sakit lagi. Bapakmu minta Ibuk yang nungguin soal e," Ibuk menjelaskan.


"Bapak manja yo Buk nek sakit. Minta ditungguin Ibuk terus. Nggak mau kalah sama adik yang masih balita," Aku tersenyum, mencoba mengajak Ibuk bercanda.


"Bapakmu yo kan balita. Bayi dibawah lima puluh tahun," Ibuk membalas candaanku. Kami berdua tertawa bersama.


Jujur saja sebenarnya aku masih kepikiran soal mimpiku tadi. Namun, aku juga nggak mungkin cerita pada Ibuk. Aku nggak mau membuat Ibuk cemas dan berpikiran macam macam. Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa mimpi hanyalah bunga tidur. Mimpi terjadi karena aku tidur dalam keadaan sedang tidak fit.


"Ibuk nanti ke Rumah Sakit sama siapa?," Aku bertanya pada Ibuk.


"Lik Diran nanti pulang, njemput Ibuk terus ke Rumah Sakit lagi," Ibuk menjawab.


"Oohh, terus nanti malem Lik Diran pulang lagi gitu? Bolak balik dong buk," Aku mengkhawatirkan Paklik ku satu itu, jangan sampai kecapek an terus nge drop juga kesehatannya.

__ADS_1


Suara mobil pick up Lik Diran terdengar masuk halaman rumah. Beberapa saat kemudian suara mobil mati, dan pintu terbuka.


"Dan Dani? Mbak yuu?," Terdengar Lik Diran masuk ke rumah tanpa mengucap salam dan langsung memanggil manggil aku dan Ibuk.


Aku dan Ibuk segera keluar kamar, menemui Lik Diran yang masih manggil manggil dan celingak celinguk mencari kami.


"Ada apa Lik?," Aku dan Ibuk mendekat bertanya pada Lik Diran bersamaan.


"Ah, ayo duduk duduk. Ada yang mau tak diskusikan. Aku tak ambil minum dulu," Lik Diran meminta kami duduk di sofa ruang tamu, sementara dirinya nyelonong masuk ke dapur mengambil air minum. Sejurus kemudian Lik Diran kembali dari dapur memegang botol kola dingin di tangannya. Lik Diran duduk di depan aku dan Ibuk, menenggak minuman kola nya.


"Jadi gini mbak yu, Dani. . . ," Lik Diran memulai ceritanya dengan wajah yang serius. Aku dan Ibuk bersiap menyimak.


"Kakang sore tadi sekitar jam empat kan lagi tidur. Tiba tiba saja kayak mimpi gitu, ngigau ngigau. Trus tak bangunin. Minta minum, kemudian tersedak sempat batuk batuk. Akhirnya nggak jadi minum. Sebenarnya kelihatan sehat kok, tapi karena belum doyan makan jadinya lemes, tak bujuk bujuk pun nggak mau maem. Nah, habis itu kita kan ngobrol panjang lebar. Terus Kakang ngomong minta tolong ke aku untuk mbongkar rumah. Katanya rumah itu bikin dia sakit. Tak tanya kok bisa punya pikiran kayak gitu, Kakang jawab katanya dapat petunjuk dari mimpi. Nah, nek menurut mbak yu gimana itu?," Lik Diran bertanya pada Ibuk. Ibuk terlihat meremas remas tangannya sendiri, seperti bingung mau menjawab apa.


"Kalau aku iya in aja Lik. Yang penting Bapak segera sehat. Harta benda bisa dicari lagi," Aku menjawab mantap. Meskipun yang ditanya sebenarnya adalah Ibuk, bukan aku.


"Ya bener itu, aku pun setuju dengan pendapatmu Dan . . .toh kalian juga bisa tinggal disini. Samping rumah lahan juga masih ada yang kosong, bisa buat rumah lagi," Lik Diran menghabiskan minuman kola nya.


"Tapi heranku kenapa Kakang pengen ngerobohin rumah cuma gara gara mimpi?," Lik Diran bertanya, seolah olah bertanya pada dirinya sendiri. Aku dan Ibuk hanya berdiam mematung, terasa hening.


"Oiya mbak yu, ayok kita ke Rumah Sakit. Kasihan kakang nanti kalau lama lama ditinggal," Lik Diran memecah keheningan.


"Lha Bapak, ini tadi sama siapa Lik di Rumah Sakit?," Aku jadi teringat, siapa yang nemenin Bapak sekarang.


"Lik Ahad dan Lik Senen, tadi tak mintai tolong biar nemenin kakang," jawab Lik Diran. Lik Ahad dan Lik Senen adalah pekerja Lik Diran. Pekerja Lik Diran yang ngurus kebun dan sawah memang banyak jumlahnya.

__ADS_1


"Kamu nggak capek Lik, bolak balik terus," Ibuk terlihat nggak enak merepotkan adik iparnya itu.


"Tenang Mbak Yuu, aku dan Kakang itu anaknya Mbah Kadir, dukun duk derr, jelas sehat dan kuat lah," Lik Diran terkekeh membanggakan keluarganya.


"Oiya Dan, nanti tolong habis isyak dilihat rumah belakang. Siapa tahu Mbah Kungmu sudah di rumah. Tadi tak beliin rawon, anterin ke tempat Mbah Kung kalau orangnya ada, ya? oke?," Lik Diran memberi tugas yang membuatku enggan melakukannya. Males bertemu dengan kakek kakek satu itu.


"Lha Mbah Kung belum pulang to Lik?," Ibuk bertanya pada Lik Diran.


"Tadi pagi sih belum yu. Lha pas aku di Rumah Sakit tadi apa Mbah Kung belum terlihat pulang mbak yu?," Lik Diran balik bertanya pada Ibuk.


"Nggak tahu Lik, soale siang tadi aku ngajak adiknya Dani ke rumah Bu Minah," Ibuk mengingat ingat.


"Kayaknya belum pulang," Ibuk berkesimpulan.


"Lek besok belum pulang juga, bakal tak golek i (dicari). Udah sepuh kok panggah semedi di hutan wae, apa mau cari ilmu awet urip (hidup) . . .hmmm," Lik Diran memggerutu sendiri.


"Pokoknya jangan lupa pesenku ya Dan. Dilihat rumah belakang, kalau Mbah Kung ada antar itu rawonnya ya?," Sekali lagi Lik Diran mengulangi permintaannya.


"Iya iya Lik, tenang. Pokoknya rawon nanti tak anterin ke Baginda Maha Raja Kadir," Aku menjawab setengah bercanda.


"Ibuk berangkat dulu ya Dan. Kamu tiduran saja, nek mau paracetamol ada di kotak P3K nya paklik mu, di atas lemari es," Ibuk berpesan panjang lebar.


"Lhah emang Dani kenapa mbak yu?," Lik Diran bertanya, terlihat sedikit kaget.


"Tadi badan e panas," Ibuk menjawab singkat.

__ADS_1


"Udah cepet berangkat Lik, Dani nggak pa pa kok, kasihan Bapak nungguin Ibuk di Rumah Sakit," Aku menepis tangan Lik Diran yang hendak memegang keningku, memintanya untuk segera berangkat ke Rumah Sakit.


Akhirnya, Ibuk dan Lik Diran berangkat ke Rumah Sakit tepat saat adzan Isya' berkumandang. Aku kembali ke kamar merebahkan badanku. Kepalaku terasa berdenyut, pusing luar biasa. Namun aku ingat punya tugas ngantar rawon ke rumah belakang. Ah, Mbah Kadir belum juga ada tanda tanda pulang. Aku memandang langit langit kamar, menghitung berapa cicak disana. Tanpa kusengaja aku terlelap . . .


__ADS_2