Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Rawon setan


__ADS_3

Kriieetttt


Suara pintu terbuka membangunkan aku. Jam berapa sekarang? Aku mengerjap ngerjap, kulihat HP ternyata jam sebelas malam. Sial, aku ketiduran. Lupa dengan pesan dari Lik Diran untuk menengok rumah belakang. Bisa jadi Mbah Kung Kadir yang baru membuka pintu.


Aku bangun dari tidurku. Masih terasa sedikit pusing. Ruangan masih terasa seperti berputar putar. Namun nggak separah tadi. Aku melangkahkan kakiku keluar kamar. Udara dingin langsung menyergap. Angin semilir menerpa rambutku.


Pintu depan terbuka separuh. Ah, mungkin Mbah Kung Kadir sudah pulang. Tapi bagaimana caranya masuk, bukankah pintu tadi sudah aku kunci. Aku berjalan ke arah pintu, udara di luar benar benar terasa dingin. Aku menutup pintu dan menguncinya kembali.


Aku berbalik kemudian ke dapur, membuka tudung saji. Ada nasi, rawon, dan krupuk di dalamnya. Sudah dingin namun aromanya masih menggugah selera. Aku menelan ludah. Kenapa Lik Diran tak membelikan untuk aku juga sih.


Aku baru tersadar, di lantai terdapat jejak jejak kaki berlumpur menuju ke pintu belakang. Ohh, berarti Mbah Kung Kadir memang benar sudah pulang dari semedinya. Aku segera mengambil wadah atau platter, untuk membawa nasi, semangkok rawon dan krupuk sekaligus.


Aku bergegas menuju ke rumah belakang. Terasa lengang dan suram. Pencahayaan yang temaram dan aroma aroma kemenyan menyeruak di bangunan tua tempat Mbah Kung ku ini. Terlihat Mbah Kung duduk membelakangi aku di kursi goyangnya. Aku berjalan mendekat.


"Emm, Kung . . . Ini tadi rawon dari Lik Diran. Tadi mau disiapin takutnya Mbah Kung belum pulang. Di maem ya Kung," Aku meletakkan nasi, rawon dan krupuk di atas meja, agak jauh dari tempat Mbah Kung duduk.


"Hmmmm . . .," Mbah Kadir hanya menjawab dengan berdehem.


Aku segera beringsut pergi meninggalkan Mbah Kadir. Aku benar benar nggak betah berlama lama, selain memang agak malas bertemu dengan Mbah Kung Kadir, juga karena aura tempat itu terasa nggak nyaman buatku. Aku kembali ke dapur meletakkan wadah untuk membawa piring tadi.


Plakk

__ADS_1


Aku menepuk dahiku sendiri. Teringat betapa tololnya aku. Tadi aku lupa tidak membawakan sendok dan air minum untuk Mbah Kung. Masak iya makan rawon nggak pakai sendok. Ahh, aku harus kembali sebelum kakek tua itu memarahiku. Aku mengambil sendok, garpu, kendhi air minum serta sekalian kubawakan kacang kulit yang ada di dalam toples. Siapa tahu setelah makan Mbah Kung pengen ngemil.


Aku buru buru menuju ke rumah belakang sekali lagi. Kulihat makanan di piring belum juga disentuh. Mbah Kung Kadir masih asyik bersantai di kursi goyangnya. Aku meletakkan sendok, garpu, kendhi dan toples kacang.


"Kung, cepet di maem Kung. Nanti di kerubutin semut," Aku kembali meminta Mbah ku satu ini untuk segera makan. Bukankah Mbah Kung baru semedi beberapa hari? Makan apa Mbah Kung di hutan? Nasi rawon seharusnya sangat menggugah selera. Namun Kakek ini seperti acuh tak acuh.


"Hmmm . . .," lagi, Mbah Kung hanya menjawab dengan berdehem.


Dalam hatiku aku menggerutu, ngomong iya, oke, atau siaapp gitu apa sih susahnya. Merasa tak dipedulikan aku pun ngacir, balik ke depan, ke rumah utama. Aku menuju kamar untuk kembali tidur. Kurebahkan badanku, kulihat langit langit kamar dan kembali lagi menghitung cicak cicak di atas sana. Namun kali ini aku nggak merasa ngantuk. Aku kesulitan untuk tidur kembali.


Sepuluh menit, lima belas menit dan setengah jam sudah aku hanya membolak balikkan badanku di kasur. Sekarang sudah hampir tengah malam. Karena jenuh, berdiam diri nggak jelas di dalam kamar kuputuskan untuk menonton televisi saja.


Kunyalakan tv dan aku menonton program FTV tengah malam. FTV yang siang kemarin kemarin sudah diputar, dijam segini diputar kembali. Menonton tv ternyata cukup sukses membuat aku merasakan kantuk lagi. Aku menguap beberapa kali. Kurebahkan badanku di depan tv, aku bersiap tidur. Biarlah tv menyala terus menunggui aku yang terlelap.


Ha ha ha ha ha


Tepat tengah malam. Program televisi berganti program berita tengah malam. Nggak ada pilihan lain, aku mulai menyimak berita berita yang ada.


Ha ha ha ha ha


Kembali suara tawa dari rumah belakang terdengar. Kali ini lebih keras dan jelas. Aku penasaran, kira kira Mbah Kung Kadir sedang menertawakan apa. Aku berjalan berjingkat jingkat menuju pintu belakang. Aku membuka pintu dengan setengah mengangkatnya agar tidak menimbulkan bunyi. Pintu terbuka sedikit, celah yang cukup untuk sebelah mataku mengintip ke rumah belakang.

__ADS_1


Karena penerangan rumah belakang yang temaram agak sulit juga mengintip apa yang terjadi disana. Setelah beberapa saat mataku mulai terbiasa dengan pencahayaan yang remang remang. Terlihat makanan yang masih utuh belum disentuh sama sekali. Aku merasa jengkel, tahu gitu kumakan saja tadi. Rawonnya kelihatan enak soalnya. Sosok Mbah Kung masih asyik bersandar di kursi goyangnya. Kursi bergerak gerak secara perlahan. Jangan jangan Mbah Kung tidur dengan posisi duduk seperti itu.


Tok tok tok tok


Terdengar pintu depan diketuk. Aku cukup kaget, segera kututup pintu tempatku mengintip. Aku bergegas menuju pintu depan. Namun kemudian langkahku terhenti. Siapa kira nya tengah malam ketuk ketuk pintu? Mungkinkah Lik Diran pulang dari Rumah Sakit? Tapi tidak terdengar suara pick up nya.


Sedikit ragu aku menyibak tirai pelan, dan mencoba mengintip keluar. Ternyata di depan pintu ada . . . Mbah Kung Kadir. . . Hah?! Lha yang di rumah belakang tadi siapa? Aku berdiri mematung.


Tok tok tok tok


Kembali pintu diketuk. Sedikit tersentak aku cepat cepat membuka pintu. Mbah Kung Kadir masuk rumah. Kali ini asli Mbah Kung Kadir, karena nampak jelas di depanku. Kemudian aku mengekor berjalan di belakangnya.


"Mbah Kung, tadi . . . tadi di belakang ada . . .," Aku kesulitan memilih kata yang tepat untuk apa yang kulihat di belakang tadi.


"Iku perewangku, baturku. Ojo kuwatir (Itu temanku, jangan khawatir)," Mbah Kung menjawab enteng.


Aku yang melongo. Teman katanya?


"Iku biasane sing mbukakne aku lawang yen dikunci (Dia yang biasanya membukakan pintu apabila dikunci)," Mbah Kung Kadir melanjutkan.


"Nyapo kowe ngetut aku? (Ngapain kamu membututiku) Dang turu kono. (cepat tidur sana)," Mbah Kung sedikit membentakku.

__ADS_1


"Emm . . . anu mbah, tadi aku sudah nyiapin maem. Rawon di rumah belakang," Aku yang bingung harus ngomong apa jadi teringat rawon yang sudah kuantar ke rumah belakang tadi.


"Wes eruh (Sudah tahu)," jawab Mbah Kung, kemudian pergi berlalu meninggalkan aku yang sekali lagi melongo di depan kamar.


__ADS_2