Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Dimana aku???


__ADS_3

Aku membuka mata, terkaget. Aku berada di tempat yang asing. Mungkinkah aku berada di alam yang lain? Mencoba berdiri, badanku terasa ringan. Telah hilang rasa sakit yang kurasakan ketika badanku beradu dengan tanah beberapa waktu lalu. Jam berapa ini? Kulirik jam di pergelangan tanganku, jarum panjang tak berputar. Ku ketuk-ketuk, tidak bergeming. Mungkin rusak.


Aku mencoba mengamati sekitar.


Aku berada di tepian sungai kecil dengan aliran air jernih. Sungai ini di kelilingi lebatnya pepohonan waru dan sengon. Udara terasa dingin, sejuk. Di belakang aku berdiri, ada jalan setapak tersusun dari bebatuan yang terlihat rapi. Beberapa meter di sebelah kiri dimana aliran sungai kecil ini tertuju, terdapat sungai yang lebih besar. Dengan bebatuan yang besar tersusun acak oleh alam.


Beberapa saat aku termenung, aku tersadar bahwa sungai besar ini adalah sungai di dekat rumahku. Aku menyadarinya saat melihat batu besar yang terletak di tengah sungai. Batu tempat dimana "sosok berbulu" menakutkan bertengger, membuat aku, Hasan dan Irul lari kocar kacir malam itu. Aku bergidik ngeri.

__ADS_1


Setelah aku amati seksama, berarti tempat aku tersadar pertama kali tadi, adalah tempat dimana rumahku berdiri. Aku berjalan kembali ke tempat semula. Tanah lapang, dekat jalan setapak dan di tepian sungai kecil ini lah seharusnya berdiri bangunan rumahku. Lalu, kenapa kenampakan alamnya saat ini berbeda? Apakah aku kembali ke masa lalu? Apa maksud semua ini? Dan, sungai kecil ini. . .setahu ku tidak ada sungai kecil di dekat rumahku. . . Aku bingung.


Di tengah kebingunganku, sayup-sayup terdengar langkah kaki mendekat. Bukan satu atau dua orang. Suara langkah kaki itu semakin jelas. Suara berasal dari ujung jalan setapak. Aku menyipitkan mata agar bisa melihat lebih jelas. Samar samar terlihat beberapa orang sedang berjalan mendekat, langkah kaki yang cukup cepat dan kuat. Ada lebih dari sepuluh orang kelihatannya. Mereka semua memakai baju dan celana hitam-hitam, terlihat tanpa menggunakan alas kaki. Semakin dekat semakin jelas, mereka memanggul sesuatu. Hah? Keranda? Adakah yang meninggal?


Keranda tertutup kain berwarna hitam. Orang-orang yang memanggulnya semua tertunduk, jadi tak terlihat jelas wajah mereka. Semakin mendekat ke arahku, aroma anyir bercampur aroma bunga kantil membuat perutku seperti tertusuk, mual. Aku mundur beberapa langkah dari tempatku berdiri. Rombongan itu kini tepat dihadapanku. Aku melihat sekilas, wajah orang-orang yang memanggul keranda dengan tertunduk, tersungging senyum di bibir mereka semua. Bibir biru dengan gigi yang menghitam.


Rombongan yang membawa keranda sudah melewatiku. Sementara di belakangnya, ada beberapa orang dengan pakaian yang sama, hitam-hitam, membawa ember berisi berbagai macam bunga. Mereka menabur-naburkan bunga tersebut. Tiba-tiba salah satu dari mereka berhenti dan menoleh kepadaku.

__ADS_1


"Wes wayah e. . .wes wayah e, lemah iki tak jaluk maneh, siap-siap o ngaleh!", Sosok itu setengah berteriak kepadaku, memandangku melotot, dengan cekungan dibagian mata yang menghitam, bibir membiru dan deretan gigi yang berwarna hitam.


Aku tersentak kaget. Suara ini, adalah suara yang membisikkan kalimat yang sama pagi itu. Aku berusaha lari, namun saat membalikkan badan . . .di seberang sungai, ada sosok lain, sosok hitam besar berbulu memandangku, dengan sorot mata tajam, seakan marah. Aku terduduk lemas. Lututku bergetar hebat. Aku ingin berteriak, namun suaraku nggak keluar sama sekali. Tiba-tiba pundakku dicengkeram dari belakang. Terasa sangat menyakitkan cengkeraman tersebut. Aku meringis kesakitan.


"Dang baliiii . . .", suara dari tangan yang mencengkeramku, melemparkanku, hingga suara tubuhku menghantam tanah cukup keras, aroma tanah dan lumpur dihidungku. Aku mengaduh, menangis. Kepalaku terasa berputar-putar, pusing.


Aku mencoba membuka mata, samar-samar terlihat langit-langit berwarna putih, dan tembok yang berwarna sama. Ada Ibuk di sebelah kiriku. Hah? Aku tadi bermimpikah?

__ADS_1


 


__ADS_2