
Mbah Kadir menekan nadiku, memejamkan matanya. Aku menoleh pada Ibuk dan Lik Diran, namun ekspresi mereka sama sepertiku. Wajah wajah penuh tanda tanya. Apa maksudnya? Kenapa aku yang sepertinya di suwuk?
"Emmm. . .Mbah, yang nangis kejer itu adikku lho, kenapa yang di suwuk aku?", Aku bertanya nggak ngerti, meskipun sedikit ragu untuk bersuara pada simbahku yang satu ini.
"Lha kowe sing nyebabne adikmu nangis koyok ngono (Kamu penyebab adikmu menangis kayak gitu)!", Mbah Kadir membuka matanya dan sedikit membentakku. Ah, bisa nggak sih orang ini nggak usah nge gas kalau ngomong.
"Ini semua gara-gara Bapakmu! Ora gelem manut karo aku (Nggak mau nurut sama aku). Iki ruwet iki. Cah bodho!", Mbah Kadir tiba-tiba saja marah, melepas dengan sedikit melempar pergelangan tanganku. Aku makin nggak ngerti, begitupun Ibuk dan Lik Diran.
"Wonten nopo to mbah Kung (Ada apa mbah kung)?", Lik Diran bertanya kalem, mencoba meredakan Mbah Kadir yang meledak ledak. Aku dan Ibuk bertukar pandang, adikku tidur pules.
"Bocah ini tadi ada yang nempeli, ada yang pengen melu, makane cah cilik ngerti langsung nangis kejer. Pokok e iki goro-goro masmu kae, dulu wes tak nasehati, tapi nggak dipakek", Mbah Kadir bersungut-sungut. Terlihat benar benar marah. Entah apa maksud perkataan simbahku ini, juga apa hubungannya dengan Bapak, aku nggak ngerti.
"Tenan lho Kung, nek kayak gini nggak ada yang ngerti maksud njenengan", Lik Diran masih kalem, terlihat biasa menghadapi mbah tua temperamen satu ini.
__ADS_1
"Kowe iku yo sama saja!", Mbah Kadir melotot, membentak Lik Diran.
"Wes pokok e anakmu nggak bakal nangis nangis lagi, sng ngganggu wes lungo, yo wes tak suwuk. Tapi kasih tahu bojomu, besok dek ne kudu kesini. Penting!", Mbah Kadir mengalihkan pandangannya ke Ibuk.
"Tapi Kung, bapaknya Dani kan di kota sebelah, belum pulang", Ibuk terlihat nggak suka dengan perintah Mbah Kadir.
"Yo di telepon apa gitu lah. Ini wajib, yen ora gelem mrene tanggung en dewe akibat e!", Lagi, mbah Kadir terlihat sangat marah. Aku hanya bisa terdiam, tak mungkin juga membantah orang satu ini.
"Iya Kung, ya udah mbak . . .yuk ke depan, itu si kecil pules banget gitu tidurnya", Lik Diran mengajak kami untuk ke rumah depan, tidak mau memperpanjang perdebatan dengan si kakek pemarah.
"Terimakasih Kung, kita pamit nggeh", Ibuk masih sempat berpamitan, sementara aku sudah males, langsung saja melenggang pergi. Mbah Kadir tidak menanggapi. Kakek macam apa sih dia itu?
"Apa sih Lik maksud simbah tadi?", Aku bertanya pada Lik Diran ketika sudah berada di rumah depan. Kami duduk di emperan yang luasnya lebih luas dari seluruh ruangan di rumahku.
__ADS_1
"Aku nggak ngerti Dan. Mungkin Ibukmu ngerti?", Lik Diran mengalihkan pertanyaan ke Ibuk.
"Nggak tahu aku, aku pun nggak ngerti ada petung ataupun rahasia apa antara masmu dan bapakmu", Ibuk menjawab pertanyaan Lik Diran dengan sedikit sewot.
"Eh, ngomong-ngomong Lik, di daerah njeruk, ada ruko-ruko kosong itu lho, daerah situ apa ada desa atau perkampungan gitu?", Aku teringat mbah Ginah, penasaran.
"Kayaknya dulu . . .ada sebuah dusun atau perkampungan daerah situ. Nggak tahu juga ya, wong daerah situ kelihatan adem dan redup gitu e sepanjang hari, ada apa Dan?" , Lik Diran berbalik bertanya padaku.
"Tadi siang pas hujan deres, aku kan berteduh di ruko kosong itu. Ketemu lah sama nenek-nenek bawa kayu bakar. Nah, dia cerita katanya rumahnya di perkampungan situ, aneh deh pokok e", Aku kembali mengingat pertemuanku dengan mbah Ginah.
"Aneh apanya Dan, ketemu nenek-nenek kok aneh. Lebih aneh mana sama Mbah Kung yang suka membentak-bentak nggak jelas kayak tadi?", Lik Diran setengah berbisik, kemudian tertawa lebar. Aku ikutan terkekeh.
"Sttt. Ngawur, wong sepuh buat becandaan", Ibuk meletakkan telunjuk di depan bibirnya.
__ADS_1
Aku dan Lik Diran masih terkekeh, meskipun sudah ditegur Ibuk. Kita satu server kali ini Lik, begitu pikirku. Sekitar sepuluh menit kemudian aku dan ibuk berpamitan pada Lik Diran. Sebenarnya Lik Diran menawari untuk menginap, tapi kami teringat karena tadi tergesa-gesa, kami lupa tidak mengunci pintu rumah. Kami putuskan untuk pulang.
Malam yang cukup dingin, adikku tak bergeming, terlelap dalam tidurnya di gendongan Ibuk. Akhirnya kuputuskan malam ini, aku menemani Ibuk dan adikku di rumah. Kubatalkan niatku untuk menengok Erni di Rumah Sakit. Hari ini hari yang cukup berat untukku, semoga banyak hal baik yang terjadi esok hari.