
Aku berjalan terseok seok mengikuti sosok yang menyerupai Erni. Sosok itu sama sekali tak menoleh, seakan sudah tahu pasti kalau aku akan mengikutinya. Aku beberapa kali memperhatikannya, sosok itu benar benar mirip, bahkan sama persis dengan Erni. Tinggi badannya, suaranya, cara berjalannya, sama persis dengan Erni. Aku hafal betul, karena aku selalu memperhatikan Erni, karena aku adalah penggemar rahasia nomor satunya.
Beberapa saat berjalan, akhirnya aku mencapai tanah lapang di kaki bukit. Tempat dimana motor Pak Manto dan rombongan terparkir. Sosok yang menyerupai Erni tadi tetap saja berjalan namun kemudian belok ke kiri ke arah barat. Aku tetap saja mengikutinya. Jalanan yang berbeda dengan yang kulewati tadi. Jalanan menurun yang cukup curam, dengan semak belukar berduri. Untung saja aku tadi memakai baju dan celana panjang berbahan tebal, jadi beberapa duri tajam tak mampu menembus ke kulit. Namun sisi buruknya adalah aku merasa sangat gerah, berkeringat hebat, dan mungkin bisa saja dehidrasi.
Hampir satu setengah jam aku mengikuti sosok itu, aku tak tahu lagi sekarang sedang berjalan ke arah mana. Tadi aku sempat melihat HP, dan ternyata tidak ada sinyal satupun. Mungkin Lik Diran dan rombongannya saat ini bukan hanya sibuk mencari Mbah Kung Kadir, namun juga bingung mencariku yang tiba tiba menghilang tanpa pamit. Akhirnya aku sampai di suatu tempat yang tidak asing. Aku menoleh ke kanan dan kiri, merasa heran dengan yang kulihat.
Aku berada di belakang ruko ruko kosong di wilayah njeruk. Semakin kaget, di emperan ruko kosong ada nenek nenek dengan seikat kayu bakar. Nenek yang waktu itu pernah kutemui ketika aku dan Thor berteduh dari derasnya hujan. Kalau nggak salah Mbah Ginah namanya.
Glek. Aku menelan ludah. Mbah Ginah dari kejauhan nampak lebih menyeramkan dari yang kuingat. Rambutnya yang didominasi warna putih dibiarkan tergerai kusut. Sosok yang menyerupai Erni berlari kemudian mencium tangan Mbah Ginah. Mbah Ginah membisikkan sesuatu, kemudian sosok Erni berjalan kembali tanpa menoleh ke belakang. Meninggalkan aku yang masih terdiam tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Mbah Ginah terlihat menoleh kepadaku, sebuah senyum memperlihatkan barisan gigi gigi yang menghitam. Tangannya yang berkeriput terlihat melambai lambai ke arahku. Meminta aku segera mendekat. Ada pergolakan di hatiku. Ada sebagian dari diriku memintaku untuk berbalik dan lari, namun sebagian yang lain memintaku untuk terus melangkah. Aku teringat apa yang dikatakan sosok yang menyerupai Erni tadi.
Jika kamu ingin tahu semuanya, ikutlah denganku
Kalimat itu yang terngiang di benakku. Sedikit ragu ragu, kulangkahkan kaki mendekati Mbah Ginah. Sebuah tawa seperti kuda meringkik terdengar lirih saat aku sudah berada di hadapan Mbah Ginah.
__ADS_1
"Sek eling karo aku (masih ingat denganku)?," tanya Mbah Ginah menatapku. Aku mengangguk cepat.
"Gelem nang mahku (Mau ke rumahku)?," tanya Mbah Ginah lagi. Kali ini aku terdiam.
Lagi, Mbah Ginah tertawa lirih seperti ringkikan kuda.
"Yen kowe golek jawaban, tak dudohi (kalau kamu nyari jawaban, tak kasih tahu)," Mbah Ginah berkata datar tanpa memandangku. Aku bingung mau berkomentar apa, aku hanya diam saja mematung.
"Nanging ono syarat e (Tapi ada syaratnya)," Mbah Ginah melanjutkan, kali ini dia menatapku tajam.
"Cangkingno kayu ku iki muleh nang omah (Bawakan kayu bakarku ke rumah)," Mbah Ginah menjawab, disusul tawanya yang seakan mengejekku yang terlanjutur ketakutan.
"Iya Mbah," Aku menjawab singkat. Kemudian memanggul kayu di sebelah tempat duduk Mbah Ginah.
Mbah Ginah berjalan di depanku, aku mengekornya sambil memanggul kayu kering yang entah kenapa terasa sangat berat. Aku meringis, pundakku terasa ngilu.
__ADS_1
"Nom nom an sak iki pancen ecek, gowo sakmono wae wes klejotan (anak muda jaman sekarang lemah, bawa segitu saja sudah kerepotan)," Mbah Ginah bicara sendiri, namun jelas kalimat itu untuk mengejekku.
Dari ruko kosong, mbah Ginah masuk ke jalan setapak. Kiri kanan di kelilingi rumpun bambu yang lebat. Jenis bambu yang sama yang ada di belakang rumahku. Beberapa saat berjalan, di depanku ada sebuah sungai kecil dengan pohon kelapa yang digunakan sebagai jembatan untuk menyeberang. Mbah Ginah nampak cekatan ketika menyeberanginya. Kaki tua yang penuh kerutan itu begitu sigap berjalan di atas glugu (pohon kelapa). Sementara aku cukup kesulitan menapaki jembatan glugu ini sambil memanggul kayu bakar Mbah Ginah.
Sampai di seberang, kabut langsung menutupi penglihatanku. Kabut yang terasa dingin menembus pakaianku yang tebal. Aku sedikit kesulitan berjalan karena jarak pandang yang terbatas. Aku sedikit lupa kalau sekarang ini adalah siang hari. Tak ada seberkas sinar matahari yang mampu masuk menembus kabut. Gelap dan dingin.
Terdengar suara burung hantu bersahutan sahutan. Aku menoleh ke kanan dan kiri, suara burung terdengar sangat dekat seakan berada di samping telingaku. Namun, tak ada apapun hanya kabut berwarna abu abu. Seakan lembaran kapas yang terbentang menghalangi indera penglihatanku.
Ketika kaki ini mulai lelah melangkah, terlihat nyala api berada beberapa meter di depanku. Dua buah obor, tertancap di sebuah gapura. Mungkin sejenis batas sebuah desa. Di gapura yang penuh lumut itu terdapat ukiran dalam aksara jawa. Tidak jelas apa yang tertulis di sana. Mbah Ginah terus melangkah maju, aku pun terus mengekor di belakangnya.
Kini tampak rumah rumah berjejer di sepanjang jalan yang kulalui. Bangunan rumah dari kayu beratap genteng yang sudah menghitam karena lumut. Terlihat beberapa orang sedang berada di depan rumah, memperhatikanku, melihatku dengan tatapan yang tak bisa ku gambarkan. Tatapan yang seakan jijik dan merendahkan.
Mbah Ginah, terus melangkah maju. Meninggalkan tatapan orang orang aneh itu. Hingga akhirnya sampailah di sebuah rumah tua yang tepat berada di ujung jalan. Bangunan rumah berdiri sendiri, seakan jalan dari gapura masuk tadi memang sengaja di buat untuk menuju dan berakhir di rumah ini.
Rumah kecil beratap jerami dengan dinding anyaman bambu. Sebuah lampu petromax tergantung di emperan. Aku masih sangat bingung, meskipun tidak berkabut namun tak ada sinar matahari di daerah ini. Aku mendongak menatap langit, tertutup awan tebal berwarna abu abu tua.
__ADS_1
"Kayu ne gletakno kono wae. Ayo mlebu (Kayu bakar letakkan di situ saja, mari masuk)," Mbah Ginah mengajakku masuk rumah. Aku meletakkan kayu bakar di emperan. Sebelum masuk rumah aku sempat menoleh ke belakang karena merasa diawasi sedari tadi. Benar saja semua orang sedang melongok menatapku dari rumahnya masing masing. Dan mataku terbelalak, melihat diantara orang orang itu ada Pak Ndori dan Lik Jo. Mereka menatapku, dengan tatapan kosong.