Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Pak Ndori


__ADS_3

Hari gajian. Aahh senengnyaaa.


Di radio gajian bukanlah di tanggal 1 setiap bulannya. Ritual kebahagiaan ini dilakukan di setiap tanggal 10. Gaji diberikan secara langsung tunai, bukan sistem transfer untuk pekerja part time sepertiku. Sementara untuk orang-orang kantor yang bermukim di lantai 2, gaji ditransfer ke rekeningnya masing-masing. Biasanya sehabis gajian semua uang yang ada langsung kumasukkan ke dalam tabunganku di bank. Namun karena akhir-akhir ini aku harus mencukupi kebutuhan sehari-hariku secara mandiri, maka kuputuskan hanya 25% gaji bulan ini yang akan kutabung.


Kabag siar datang dari lantai dua. Suara sepatu hak tingginya menuruni tangga terdengar sangat merdu di telingaku. Dia datang membawa segenggam amplop berwarna cokelat, hmmm harumnyaa, aroma duit. Kabag siarku seorang perempuan paruh baya yang selalu tampil kelebihan bedak menurutku. Dulu, awal-awal aku masuk kerja di sini dia lah yang mengajariku bagaimana berbicara luwes ketika mengudara, soal skill ngomong, uuhh jangan tanya, dia lah ratu dari segala ratu dalam hal bercuap-cuap ria. Kali ini ada 4 orang di depan ruang siar, yang menunggu untuk diberi amplop cokelat. Ada mas Henri, Krisna, Amel, dan tentu saja aku.


"Gengs, ini gaji kalian bulan ini ya. Seperti biasa, sebelum gaji dibagikan ada evaluasi dari kinerja kalian selama satu bulan berjalan. Aku harap bisa menjadi perhatian kalian untuk perbaikan", Kabag siar memulai pidato bulanannya.


"Untuk Henri, kamu paling senior, paling luwes, banyak pendengarnya banyak fans nya, tapi kamu sering salah muter versi iklan. Untuk Amel, si comel ratunya telat, kalau bulan depan masih suka telat, kata big boss gajimu akan di potong. Untuk Dani, jangan keseringan diem, jangan keseringan bilang e e e e, fokus. Apapun masalah hidupmu sekarang, harus profesional. Dan untuk Krisnaaa, kamu harus bisa menahan keinginanmu untuk ngomoong terus terusan. Waktunya nggak cukup untuk muter iklan kalau kamu nggak ada jedanya, ngoceh terus.", Kabag siar menghela nafas.


"Oke, sekarang silahkan tanda tangan satu persatu . . .", Kabag siar, mengakhiri evaluasinya, membagikan gaji, kemudian kembali merogoh bedak di tas kecilnya dan sibuk menepuk-nepuk pipinya dengan saput bedak.


Sudah hampir satu minggu aku numpang tinggal di radio. Belum ada tanda-tanda Bapak menghubungiku untuk mengajak pulang ke rumah. Entah sampai kapan keadaan ini akan berlanjut. Beberapa kali Ibuk meneleponku memintaku untuk segera pulang ke toko. Namun, aku masih kekeuh dengan pendapatku, sebelum Bapak menjelaskan yang sebenarnya dan sebelum kita kembali ke rumah, aku enggan untuk bertemu Bapak terlebih dahulu.


"Mas, mau sampek kapan nginep di studio? Koyok nggak punya rumah aja", Krisna membuyarkan lamunanku. Terlihat dia masih menghitung dan mencocokkan jumlah gajinya dengan absensi dia siaran selama satu bulan.


"Ya sampek kuliahku selesai mungkin", Aku beranjak tiduran di sofa. Ibu kabag siar yang berbedak tebal sudah kembali ke meja kantornya di lantai 2.


"Gilak. Lha emang kenapa sih nggak pulang aja? Ada masalah di rumah? Atau kamu dijodohin ya? Sama cewek yang nggak kamu suka? Kamu dijodohin untuk nglunasin utang ortu kamu gitu kan?", Krisna mencecarku dengan pertanyaan nyleneh nya.


"Mbok kiro ep ti piii", Aku bersungut- sungut kesal.

__ADS_1


"Lha teruus? Kenapa? Crita laahh. . .hidupmu itu seru banyak liku-likunya", Krisna merengek- rengek pengen tahu.


"Seru udelmu bolong. Intinya aku lagi berantem sama babe. Udah ah, jangan tanya melulu. Ingat pepatah Kris, malu bertanya sesat di jalan, banyak bertanya malu malu in", Aku menjawab asal.


"Ya udaahh, gak mau crita gak pa pa. Yang penting aku udah gajian,mau kencaannn", Krisna melotot.


"Hah? Punya pacar to kamu?", Aku bangun dari rebahanku, kaget.


"Ada doongg, emangnya situ, GGGL Ganteng Ganteng Gak Lakuuu", Krisna terkekeh, mengejek.


"Aku tuh jomblo terhormat, jomblo bukan karena nggak ada yang mau sama aku, tapi karena belum ada yang pantes mendapatkanku", Aku mencoba membela diri, menepuk nepuk dadaku, bangga.


"Preeettt. . .huuweekkk", Krisna berpura-pura muntah dan segera mengambil langkah seribu.


"Ada apa mbak?", Aku bertanya penasaran.


"Krisna mana?", tanya si mbak kepala marketing, masih dengan celingak celinguk.


"Katanya mau kencan. Ada apa sih?", Aku semakin penasaran, ketularan Krisna yang pengen tauuu aja.


"Woh, cah gemblung. Tadi kan tak SMS mau nitip surat ke toko sepatu clever, surat tagihan biaya iklan bulanan, malah ditinggal kencaan", Mbak kepala marketing terlihat jengkel.

__ADS_1


"Oh iya, kamu lagi free kan? Nih aku minta tolong, dianterin ya. . .tengkiyu", Mbak kepala marketing tersenyum dan langsung meletakkan surat tagihan di meja depanku. Aku hanya melongo.


Keputusanku untuk banyak tanya seperti Krisna ternyata salah besar. Aku malah mendapat pekerjaan tambahan tanpa upah tambahan. Krisna menyebalkan, padahal dia yang seharusnya mengantar surat tersebut, kini aku yang harus melakukannya. Dengan sedikit malas, aku beranjak dari dudukku, mengambil surat tersebut dan berjalan ke tempat parkir. Si Thor terlihat gagah terparkir di bawah pohon palem. Aku segera meluncur ke toko clever.


Belum sampai di toko clever terlihat indikator bahan bakar Thor sudah kritis. Akhirnya aku berbelok di SPBU terdekat yang kebetulan adalah SPBU tempat Pak Ndori bekerja. Namun tak nampak Pak Ndori hari ini. Lagi libur kah?


"Mas, Pak Ndori gak masuk kerja to hari ini?", Aku bertanya pada mas-mas yang sedang mengisi bahan bakar Thor.


"Pak Ndori?", Mas mas tersebut terlihat bingung dengan pertanyaanku.


"Itu lho, Pak Kudori, orangnya ramah, mungkin usia nya 50 an tahun", Aku menjelaskan kepada mas nya.


"Ohh, almarhum Pak Kudori. Pak Kudori udah meninggal mas", jawab masnya, jawaban yang membuatku kaget.


" Hah? Meninggal? Sakit apa mas ? Kapan itu?", Aku nggak percaya jika bapak-bapak ramah nan bijak itu sudah tiada.


"Udah ada satu bulanan yang lalu", jawab mas nya enteng.


"Hah? Yang bener mas? Beberapa hari yang lalu, saya masih ngobrol lho dengannya", aku terbelalak nggak percaya.


"Masnya itu tanya opo ngajak berantem? Pak Ndori udah kelewat empat puluh harinya kok", selesai mengisi bahan bakar dan menyuruhku memajukan motor. Aku masih termenung bingung.

__ADS_1


Pak Ndori sudah meninggal empat puluh hari yang lalu. Padahal perkenalanku dengan beliau terjadi beberapa hari yang lalu. Angin berhembus pelan, seakan meniup tengkukku halus. Aku begidik, rasa dingin yang menjalar dari tengkuk menuju pergelangan tanganku. Aku merinding. Aku menghidupkan Thor dan langsung tancap gas.


__ADS_2