Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Sahabat > Kerabat


__ADS_3

Hari-hari penyembuhanku di Rumah Sakit lebih banyak aku habiskan untuk termenung, melamun. Aku kepikiran dengan mimpi yang aku alami dimalam setelah aku kecelakaan, apa arti dari mimpi itu? Mimpi itu terasa sangat nyata dan jelas bagiku. Kemudian aku juga masih terus kepikiran soal Erni. Ini sudah hampir satu minggu aku dirawat namun dia sama sekali tidak menampakkan diri. Bahkan sekedar menanyakan keadaan lewat SMS atau telepon pun tidak.


Hari ini aku ditemani oleh Lek Diran. Ibuk harus pulang mengurus adik. Sementara Bapak harus kembali ke toko karena sudah beberapa hari toko tutup. Biar bagaimanapun roda ekonomi keluargaku berputar dari satu sumber yaitu toko Bapak, jadi nggak mungkin membiarkan toko tutup terlalu lama.


Lek Diran adalah adik dari Bapakku. Dia tinggal satu rumah dengan Mbah Kadir, kakekku. Pekerjaannya adalah bertani. Salah satu contoh seorang petani sukses di daerahku. Tanah pertaniannya ber hektar-hektar. Memperkerjakan beberapa buruh tani untuk mengolah tanahnya. Jadi, Lek Diran seringkali di rumah bersantai. Ketika Ibuk meminta tolong untuk menjagaku hari ini Lek Diran langsung meng iya kan, begitu katanya.


"Lek, . . njenengan tahu atau eling, dulu sebelum rumahku itu dibangun, tempat nya seperti apa?", Aku mencoba mencari info dari Lek Diran.


"Aku kok lupa-lupa ingat, ada apa lho Dan?", Lek Diran bertanya kaget mendengar aku yang tiba-tiba bertanya seperti itu.

__ADS_1


"Yaa. .Pengen tahu aja Lek", jawabku sambil mengunyah potongan buah peer yang dibawakan Nita tempo hari.


"Nek nggak salah, tempatmu itu dulu sawah gitu, ya seingatku semuanya di area situ tuh sawah, luas banget gitu", Lek Diran menjawab sambil mengingat-ingat.


"Masak? Bukan e sungai to?", Aku mengingat-ingat tempat yang ada di mimpiku.


"Oh iya, kayaknya pas aku kecil dulu ada sungai di belakang sawah itu ya, kok kamu malah tahu itu Dan?", Lek Diran penasaran.


Lek Diran menggaruk-garuk kepalanya, mungkin gatal atau mungkin dia bingung.

__ADS_1


"Nggak tahu, aku lupa", Lek Diran mengangkat kedua bahunya. "Lek kamu pengen tahu, coba tanyao simbahmu kapan-kapan. Nek wong sepuh pasti ngerti tuh jaman-jaman dulu nya rumahmu itu", lanjut Lek Diran.


"Gunanya buat apa to Daann, ngomongne dek jaman dulu. .ada-ada saja", Lek Diran melangkah mengambil remot tv, menghidupkannya dan duduk bersila di lantai.


Bertanya simbahku, bertanya Mbah Kadir. Ah, jujur saja aku nggak terlalu akrab dengan simbahku yang satu itu. Mbah Kadir adalah tipe kakek-kakek yang tidak terlalu peduli dengan cucunya. Jadi pada dasarnya semua cucu tidak ada yang akrab dengannya. Sebenarnya Mbah Kadir-simbahku yang satu ini juga merupakan salah satu dukun tersohor di daerahku. Namun, kulihat terkadang beliau menggunakan ritual-ritual aneh, yang tidak sejalan dengan pola pikiran dan prinsip diriku. Sehingga aku merasa berjarak dengan simbahku yang satu itu. Kita tidak satu server.


* * *


Jam tiga sore, teman-teman penyiar datang berkunjung. Membawa aura tersendiri bagiku. Mereka membawa aura keceriaan dan kebahagiaan. Betapa mereka sanggup menghadirkan gelak tawa. Sampai suatu ketika perawat datang dan memperingatkan agar tidak terlalu gaduh. Kami terlupa sedang berada di kamar Rumah Sakit, luka fisik dan batinku pun tak terasa saat ini. Memang benar, kita butuh orang yang satu "server" dengan kita untuk bisa tahu apa itu tertawa, apa itu bahagia, meskipun orang-orang ini tidak ada hubungan darah denganku, tapi mereka sanggup menghapus luka dan menghadirkan tawa.

__ADS_1


- - -


__ADS_2