
"Dani, kita perlu bicara", Bapak memintaku untuk duduk mendekat padanya. Sedikit ragu aku duduk di hadapan Bapak. Sementara itu, suara pick up Lik Diran terdengar meraung raung di halaman depan. Kemudian suara pick up terdengar makin menjauh menandakan Lik Diran dan Mbah Kadir sudah pulang.
"Apa yang telah Bapak dan Mbah Kadir sembunyikan tentang rumah ini", Aku menatap Bapak. Ini adalah percakapan pertamaku dengannya setelah sekian lama.
"Bapak tidak menyembunyikan apapun darimu lee. Bapak marah karena kamu lancang nggak nurut sama Bapak", Bapak balas menatapku.
"Lancang Pak? Lancang gimana maksud Bapak? Bapak minta aku diam saja melihat sebuah tindakan yang menyimpang dari norma. Keluarga punya kewajiban untuk saling mengingatkan ketika salah satu di antaranya melakukan tindakan yang salah Pak", aku mulai meninggikan nada bicaraku.
"Kamu nggak ngerti Dan" , Bapak mendongak menatap langit.
"Apa yang nggak aku ngerti? Kapan aku bisa ngerti kalau Bapak nggak mau menjelaskan? Setiap pembicaraan selalu berakhir aku disuruh diam, belajar rajin, dan nasehat nasehat semacam itu. Aku sudah muak Pak", Aku merasa mataku memanas. Bapak menarik nafas dalam-dalam.
"Mbah Kung mu adalah seorang dukun dan orang yang dituakan. Bisa dikatakan beliau salah satu orang sakti yang masih hidup di daerah sini", Bapak berkata lirih.
"Konon dahulu sebelum Bapak lahir, daerah sini adalah sebuah hutan. Kemudian Mbah Buyut Bapak, adalah orang pertama yang membuka lahan pemukiman di desa ini. Orang yang bisa dan mampu untuk merubah hutan menjadi pemukiman hanyalah orang-orang sakti. Jadi, Mbah buyut Bapak itu bisa dikatakan sebagai kuncen atau juru kunci pada waktu itu. Kemampuan kuncen adalah untuk bernegosiasi dengan segala makhluk yang berdiam di hutan ini. Hingga akhirnya makhluk-makhluk tersebut bersedia untuk dipindahkan atau berdampingan hidup dengan kita bangsa manusia. Nah, kesaktian kuncen ini di turunkan dan di teruskan kepada keturunannya, hingga akhirnya ke Mbah Kadir", Bapak menghela nafas, kembali menatapku.
"Sebenarnya Bapak lah yang seharusnya menjadi penerus Mbah Kung Kadir. Tapi Bapak nggak mau, hingga Mbah Kung marah dan hubungan Bapak dengan Mbah Kung renggang. Kita jadi sering berselisih paham", Bapak mengedarkan pandangan ke sekitar.
__ADS_1
"Mbah Kung selalu memberi Bapak perintah, setiap Kamis Wage tolu harus menyiapkan sesajen di rumah. Namun Bapak selalu menolaknya Le. Hingga akhirnya Bapak dipanggil Mbah Kung ke rumahnya sore itu. Mbah Kung ngomong kalau rumah ini, ada yang hendak mengambil alih. Makanya waktu itu Bapak ngajak kita semua pergi dari rumah unguk sementara", Bapak menghentikan ceritanya. Menatapku yang hanya mampu terdiam, tak berkomentar apapun.
"Bapak malam itu marah sama kamu Lee, kamu yang nuduh Bapak pesugihan dan yang tidak tidak. Tapi Bapak sadari memang Bapak seharusnya tidak merahasiakan ini dengan keluarga. Bapak seharusnya berterus terang. Maafkan Bapak, sebenarnya Bapak hanya tidak ingin melibatkanmu dalam hal-hal seperti ini", Bapak meminta maaf padaku.
Aku sedikit kaget. Bapak yang akhir-akhir ini kuanggap telah berbuat salah, kuanggap orang yang jahat terhadap keluarganya, ternyata kenyataan malah sebaliknya. Bapak berusaha menanggung semua ini sendirian. Berusaha tidak melibatkan aku terhadap hal hal yang berbau klenik dan mistis.
"Tapi pak, kenapa baru sekarang rumah ini menjadi aneh? Kita sudah 19 tahun di sini? Kenapa baru sekarang ada yang hendak mengambil alih?", Aku teringat, kejanggalan dari cerita Bapak.
"Bapak nggak tahu soal itu", Bapak menjawab, singkat. Terlihat dari wajah Bapak tidak ada kebohongan, itu adalah jawaban yang jujur.
"Terus kenapa Bapak nggak mau melakukan ritual sesajen tiap Kamis wage tolu?", Aku masih penasaran.
"Maafkan Dani ya Pak, Dani nggak manut sama Bapak", suaraku bergetar.
"Pak, terus kenapa Bapak memutuskan untuk mengajak kita kembali ke rumah ini?", Aku mengusap mataku yang terasa panas menggunakan punggung tangan.
"Yah. . . setelah kamu pergi dari rumah, setiap hari Bapak merenung. Dan Bapak mengambil kesimpulan kita nggak bisa terus-terusan takut. Ini kan rumah kita. Kita bangun bareng-bareng. Kita bangun dengan uang dan kenangan tentunya. Maka Bapak yakin apapun masalahnya, asalkan kita selalu bersama kita pasti bisa melewatinya dengan bahagia. Ya akhirnya Bapak memutuskan kita semua kembali ke rumah. Kembali pulang", Bapak menepuk-nepuk pundakku. Aku sangat setuju dengan apa yang disampaikan Bapak saat ini. Keluarga adalah manusia yang terhubung dengan ikatan kasih sayang. Dengan kasih sayang tentu kita bisa melewati badai bersama-sama.
__ADS_1
"Dan Bapak memutuskan untuk membersihkan bagian belakang rumah, biar nggak terlalu surem. Besok Bapak rencananya juga mau mengundang tukang untuk pasang atap seng di bagian belakang ini. Kasih penerangan biar malam pun nggak terlampau gelap", Bapak menunjuk bagian atas kamar mandi, yang memang terpisah dengan bangunan rumah.
"Bapak berharap kamu nggak benci Mbah Kung mu lee. Dia pada dasarnya nggak jahat. Hanya orangtua yang berpegang teguh pada kebiasaan masa lalu", Bapak berdiri dari duduknya, menepuk nepuk telapak tangannya yang berdebu.
"Ngomong-ngomong kamu kendel (berani) juga ya menyelidiki rumah ini sendirian. Nggak ada keanehan kan Lee?", Bapak tersenyum, bertanya padaku.
"Nggak pak", cepat cepat aku menggeleng. Aku belum yakin menceritakan kejadian kejadian yang telah aku alami. Karena memang hanya aku yang selama ini merasakannya. Sementara Ibuk dan adik tidak (atau belum) terganggu dengan hal-hal seperti yang menimpaku.
Aku yakin semua ini akan bisa dilalui bersama-sama. Dengan keluarga yang saling menguatkan, tidak ada yang aku takutkan.
"Hmmm, capek juga ya bebersih. Ayok masuk Lee", Bapak mengajakku masuk ke dalam rumah. Aku mengangguk setuju, dan berjalan di belakang Bapak
Aku memandang langit, terlihat biru cerah. Aku bersyukur kehidupan keluargaku kembali membaik hari ini.
"Pak. . .Adik badannya anget", Ibuk tiba-tiba berbicara, sudah berada di samping pintu belakang masih menggendong adik. Terlihat adik rewel dan merengek, mungkin memang dia merasakan nggak enak badan.
" Coba nanti di boboki daun sangket (;nggak tahu di tempat kalian sebutannya daun apa, biasanya memang digunakan semacam kompres untuk anak kecil jika suhu badannya panas) ", Bapak menempelkan punggung tangannya di dahi adik.
__ADS_1
"Iya, anget. . .", ucap Bapak.
_ _ _