Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Keluarga sing babat desa


__ADS_3

Suara kokok ayam dan bekisar membangunkanku. Badanku terasa sakit dan kaku karena sulit untuk tidur semalaman. Aku melewatkan adzan subuh, terlihat dari lubang angin- angin sorot mentari sudah terlampau terang. Pasti sudah cukup siang.


Aku berjalan keluar kamar, menguap lebar dan meregangkan badanku. Ternyata di depan tv Lik Diran masih tidur pulas, sementara Bapak tertidur di atas sofa. Aku membuka pintu depan, sinar matahari langsung menerobos masuk, membangunkan Bapak dan Lik Diran.


"Hooaahhmmm. . .Jam berapa ini", Lek Diran mengucek ngucek matanya.


"Setengah tujuh Likk", Aku melihat jam dinding besar di tengah tembok ruang tamu.


"Kok bisa se rumah bangun kesiangan semua?", Lik Diran geleng geleng kepala. Bapak beranjak dari sofa, menuju ke kamar yang ditempati Ibuk dan adik.


"Mbah Kung kok belum pulang Lik?", Aku bertanya, teringat Mbah Kadir yang katanya bersemedi di bukit manik-manik.


"Belum tuh, wong pintunya kan tak kunci dari dalam. Kamu kan tadi yang buka. Kok yo sampek jam segini belum pulang ya, po perlu tak susul nanti", Lik Diran mematikan tv. Kelihatannya tv menyala terus sepanjang malam.


Bapak dan Ibuk keluar dari kamar menggendong adik yang terlihat sudah membaik. Adik sudah nampak lebih ceria.


"Aku heran, kok bisa bisa nya tidur pules sampek bangun kesiangan. Padahal wes kulino (sudah terbiasa) sebelum subuh bangun untuk masak", Ibuk bergumam sendiri. Jadi ternyata memang semua orang kali ini mbangkong alias bangun kesiangan.


"Eh, Mbah Kung belum pulang ya Ran?", Bapak bertanya pada Lik Diran.


"Belum Kang, coba sebentar lagi tak susul e wong nggak jauh jauh banget kok. Aku tak mandi dulu", Lik Diran nampak khawatir. Bayangkan saja, seorang kakek kakek usia mungkin delapan puluhan, semalaman berada di atas bukit.

__ADS_1


"Sopo sing arep mbok susul (Siapa yang mau kamu jemput)?", Mbah Kadir tiba tiba saja muncul dari rumah belakang secara mendadak. Aku, Bapak, Lik Diran dan Ibuk cukup kaget dengan kedatangannya yang tiba-tiba.


"Lhoh Kung, kapan pulang? Terus lewat mana tadi?", Lik Diran bertanya pada Mbah Kadir.


Kupikir pikir memang ajaib. Pintu depan terkunci rapat dari dalam waktu aku membukanya tadi. Kuncinya merupakan jenis kunci pintu slot. Satu-satunya cara untuk masuk ke rumah hanyalah lewat pintu itu saja. Bagaimana bisa Mbah Kadir sudah berada di rumah belakang?


"Oiya Kung, Kakang mau ngomong", Lik Diran segera mengalihkan fokus pembicaraan, karena pertanyaan sebelumnya tidak mendapat respons dari empu nya.


"Ayo nang mah mburi (ayo ke rumah belakang)", Mbah Kadir berbalik badan, melangkah kembali ke rumah belakang. Tiga orang laki-laki saling tatap dan mengekor di belakang Mbah Kadir. Aku mau ikut, aku harus tahu apa yang terjadi.


Mbah Kadir duduk di kursi goyangnya. Mengambil sebungkus tembakau dan cengkeh, menggulungnya dengan kulit jagung atau kobot. Jadilah rokok andalan orang sepuh ini, rokok kobot. Menghidupkan pemantik, kemudian menyesap dalam dalam asap hasil pembakarannya.


"Meskipun kalian belum cerita, aku sudah ngerti, rumah itu mulai nggak beres. Sudah tak elingne (ingatkan), kalau nggak mbok kasih sajen tiap kamis wage tolu, itu akan bermasalah. Kamu tahu kan seluruh tempat ini dulunya adalah alas gedhe (hutan rimba)", Mbah Kadir menatap aku dan Bapak, tegas.


"Aku tadi malem nyoba nyari petunjuk harus gimana. Karena yang pengen ambil alih tempatmu itu, nggak hanya satu dua, tapi banyak. Kalau kamu bisa lihat, kamu bakalan ngeri dewe. Itu sekarang banyak yang kumpul di sekitar rumahmu", Mbah Kadir terlihat bersungguh sungguh. Sempat terpikir di benakku, apakah Mbah satu ini nggak bisa ekspresi lain kecuali terlihat marah?


"Terus piye Kung, aku tak pindah saja nek gitu", Bapak terlihat sudah tak sabar untuk berkomentar.


"Siji pesenku. Kowe kabeh kudu eling, kita keluarga kuat. Keluarga sing babat desa kene. Ojo ngetokne yen awakmu lemah! ", (Satu pesanku. Semua harus ingat, kita keluarga kuat, keluarga yang membuka desa ini. Jangan memperlihatkan kelemahanmu) Mbah Kadir terlihat marah.


"Aku kawatir ke anak isteriku Kung. Lek kenapa napa, terjadi apa apa gimana?", suara Bapak bergetar.

__ADS_1


"Yen kowe pindah iku artine kalah, nyerah. Pokok e percaya sama Bapakmu ini. Manut o karo omonganku. Yen kowe mekso pindah hidupmu bakal sengsara", Mbah Kung berkata, yang terdengar sebagai sebuah ancaman bagiku.


"Wes Kang, sementara kalian tinggal di sini saja. Biar Mbah Kung ngupakara (berbuat sesuatu) rumah itu ya ", Lik Diran mencoba memberi solusi


"Makane kan wes tak omongi biyen. Kowe sinau o ngilmu ku, wes dadi takdirmu dadi penerusku (Makanya kan sudah tak kasih tahu dulu. Kamu belajar o ilmu ini, sudah jadi takdirmu menjadi penerusku)", Mbah Kadir melanjutkan, menggerutu. Bapak hanya diam saja.


"Terus kamu, Dani. . .ojo wani wani sembrono ikut campur urusan ini. Kamu belum waktunya. Luwih becik kamu diam dan menunggu saja, jangan banyak tanya. Salah satu sing pengen ngrebut panggonan rumah iku, ada yang menyukaimu. Ojo sembrono", Mbah Kadir melotot memperingatkan aku.


Glek. Aku menelan ludah. Aku disukai oleh makhluk itu? Pantas saja, selalu aku yang bisa melihat "mereka".


"Kok bisa Dani disukai begituan Mbah Kung? Kenapa?", Bapak bertanya, mewakili rasa penasaranku.


"Lha kok tanya aku. Tanya sana sama dedemit e", Mbah Kadir menjawab ketus.


"Sudah, sekarang kalian keluar dari sini. Aku mau istirahat. Mbok pikir melek an satu malam penuh itu nggak capek. Aku sudah tua, seharus nya sudah ada pengganti untuk melakukan yang semacam ini", Mbah Kung Kadir masih saja menggrutu.


Aku, Bapak dan Lik Diran segera balik kanan bubar barisan. Kembali ke rumah depan, rumah utama Lik Diran. Adikku terlihat sudah ceria, duduk menonton tv program kartun pagi. Sedangkan Ibuk di sebelah adik terlihat sedang memotong motong daun kenikir untuk dimasak.


"Lik, aku tadi ambil kenikir di kebun depan. Buat kulupan untuk sarapan ini nanti. Nggak pa pa kan?", Ibuk bertanya pada Lik Diran.


"Owalah iyo mbak yuu, nggak pa pa. Pokoknya kalian semua di sini anggap rumah sendiri. Memang dulu kan ini juga rumah bapaknya Dani. Di enak enak no. Aku mau keliling, lihat sawah dulu, biar seger otakku", Lik Diran tersenyum, ramah. Aku jadi heran, dengan sifat Mbah Kung se keras dan se galak itu Lik Diran yang merupakan salah satu anaknya punya sifat berbeda 360 derajat. Jadi penasaran, Mbah puteriku dulu seperti apa orangnya. Karena beliau sudah tidak ada saat aku lahir.

__ADS_1


__ADS_2