
Uhuk uhuk
Aku tersedak, mulutku terasa penuh lumpur. Mata kiri ku nggak mau terbuka. Kuraba . . . lumpur lengket menutupinya. Kepalaku masih berdenyut, aku merasakan mual. Aku mencoba untuk segera bangun, dengan sisa-sisa tenagaku.
Arrgghhhh
Aku terduduk, toleh kanan dan kiri, teringat kepala buntung yang menghantamku tadi. Tidak ada apapun. Aku memastikan aku saat ini sendirian, duduk di tengah sawah dengan separuh badan penuh lumpur. Jam berapa sekarang? Langit masih hitam pekat, rembulan masih terlihat, bahkan bintang-bintang pun masih nampak berpendar.
Kulihat jam tangan, setengah tiga malam. Kurogoh HP di saku celana. Ingin memastikan apakah HP ku masih berfungsi, mengingat aku terbenam di lumpur. Sedikit basah, tapi masih normal, aman-aman saja. Aku mendesah pelan. Apa yang harus kulakukan sekarang? Haruskah aku kembali ke rumah, melanjutkan pengintaianku? Bagaimana jika Lik Jo kembali menerorku?
Aku berpikir sejenak, kemudian memutuskan untuk pergi dari tempat ini secepatnya. Biarlah pengintaian kali ini kulanjutkan besok jika hari sudah siang. Meskipun ada sebagian dari hatiku yang mengajak untuk kembali ke rumah, namun nyali dan tenagaku mengatakan tidak. Kakiku saja saat ini bergetar hebat ketika kugunakan melangkah. Tubuhku masih mengalami trauma dan ketakutan, masih segar diingatan bagaimana dedemit Lik Jo menerorku.
Aku keluar dari persawahan, meninggalkan kerusakan yang cukup parah pada padi-padi yang menghijau nan subur. Pekerja Lik Diran besok mungkin akan kaget melihat tanamannya rusak seperti habis kejatuhan meteor. Badanku menggigil kedinginan, jari-jari tanganku luka tergores cukup banyak. Sandalku hilang sebelah entah kemana. Dan bekas hantaman-hantaman Iwan juga ikut-ikutan terasa ngilu kembali. Lengkap sudah, aku terseok-seok berjalan menuju tempat "Thor" terparkir.
Setelah berhasil mencapai tempat "Thor" terparkir, kunyalakan dengan tergesa- gesa, dan tanpa ba bi bu lagi aku langsung tancap gas. Jalanan teramat sepi nan sunyi, tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Kesunyian yang membuat bulu kudukku berdiri. Kutarik spion Thor agar menghadap ke bawah. Aku nggak mau melihat penampakan yang mungkin saja ikut terbonceng seperti ketika aku kecelakaan waktu itu.
__ADS_1
Memasuki wilayah kota, aku menemukan SPBU yang buka 24 jam. Aku berhenti disana. Aku ingin membersihkan diri dari lumpur sawah dan aromanya yang begitu menyengat. Petugas SPBU yang melihatku, terbengong -bengong. Mungkin penasaran ya, ada manusia di jam tiga pagi badannya penuh lumpur. Habis ngapain?Aku tak peduli, aku segera masuk kamar mandi dan membersihkan diri.
Rasa dingin sehabis mandi, membuatku merasa lebih segar. Kantuk dan lelahku sedikit berkurang. Namun, aku tetap butuh istirahat, tapi dimana? Nggak mungkin juga kan jam tiga pagi balik ke radio, pintu pagar pasti sudah terkunci rapat. Sempat terbersit untuk mencoba meminta bantuan Irul, namun urung kulakukan, kasihan kalau terus menerus aku merepotkan kunyuk satu itu. Kuputuskan tidur di teras depan mushola SPBU.
Mencoba merebahkan badan dan memejamkan mata, tapi sulit. Sebagian baju dan celanaku basah, membuatku menggigil kedinginan. Seorang petugas SPBU mendekatiku. Seorang bapak-bapak yang mungkin usia nya 50 tahun an.
"Dingin mas? Aku tadi lihat njenengan datang penuh lumpur", Sapa bapak tersebut ramah.
"Iya e pak, asrep banget. Tadi saya sempat jatuh ke sawah soale, ngantuk, kecemplung deh", Aku beralasan. Bapak-bapak tersebut beranjak masuk mushola.
"Lha rumah njenengan mana?", Bapak tersebut bertanya sambil menyodorkan sarung untukku. Aku menerimanya dengan sedikit malu-malu.
""Kok jam segini di sini? Wong jarak ke desa itu kan lumayan jauh", Si Bapak terlihat heran. Kali ini aku hanya tersenyum, bingung mau menjawab apa.
"Oiya belum kenalan, nama kamu siapa nak? Saya Kudori, biasa dipanggil pak ndori", Si Bapak yang ternyata bernama Pak ndori ini mengulurkan tangan.
__ADS_1
"Ah, saya Dani Pak", Aku menjabat tangan Pak Ndori.
"Ngomong-ngomong dulu saya itu sempat tinggal juga di daerah kecamatan Kencana, pindah ke daerah sini sekitar dua tahunan ini", Pak Ndori bercerita, nampak tatapannya mengawang jauh.
"Iya Pak? Daerah mana?", aku bertanya antusias.
"Daerah njeruk, ruko-ruko kosong itu lho, daerah situ", Pak Ndori berbicara sambil menunjuk-nunjuk.
"Oh ya? Terus, kok pindah pak?", tanyaku makin penasaran.
"Lha semua pada pindah kok", Pak Ndori menjawab singkat.
"Lha kenapa?", Aku seperti seorang wartawan yang sedang mengorek informasi dari narasumber.
"Setahu saya lho ya ini. Jadi, di daerah sana itu banyak sekali tempat yang dikeramatkan. Kalau nggak salah, setiap kamis wage malam jumat kliwon tolu, tempat-tempat itu harus dibuatkan ritual khusus. Ya, akhirnya banyak yang nggak kerasan juga di daerah situ, terus ya bubar barisan ", Pak Ndori mengakhiri penjelasan.
__ADS_1
Sebuah mobil berwarna merah terparkir di depan alat pompa bahan bakar. Segera, Pak Ndori beranjak dari duduknya dan berlari melayani pembeli. Aku masih duduk manis di teras mushola. Apa yang diceritakan Pak Ndori, sama dengan percakapan orang asing di rumahku tadi malam. Kamis wage tolu . . .
- - -