Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Hari patah hati


__ADS_3

"Terimakasih buat kalian yang udah stay tune bareng Dani dari jam empat sampai jam enam, kita jumpa lagi esok hari dijam yang sama, jaga kesehatan, tetap semangat, salam pesona musik Indonesia. . .sampai jumpa. . .", Aku menutup jam siarku petang ini dengan lagu dari Yovie Nuno berjudul Dia Milikku.


Dia untukku


Bukan untukmu


Dia milikku


Bukan milikmu


Pergilah kamu


Jangan kau ganggu


Biarkan aku mendekatinya . . .


Alunan lagu yang membantuku terdiam, menerawang, teringat kembali akan sosok Erni.


Drrtt. . .drrttt . . . drrttttt . . .


Hp bergetar, ada telepon. Kulihat dilayar hp, Febi. Sedikit malas aku menerima telepon darinya. Bukan salahnya sih, biasanya dia menelepon untuk mengetahui keadaanku. Nggak terlalu sering juga, namun cukup untuk membuatku menyimpulkan Febi memang ada perasaan kepadaku.

__ADS_1


"Halloo", sapaku terlebih dahulu.


"Hallo Dan,aku nggak ganggu kan?", Febi bertanya, basa basi.


"Nggak sih, aku habis siar, nungguin yang siar setelahku belum datang, habis itu ya cus pulang", jawabku datar.


"Begini, Lik Wo tadi telepon aku, katanya minggu-minggu ini mau berkunjung ke rumahmu. Gimana? Gak po po kan? Kamu, bisanya kapan?"


Lik Wo ya, aku kembali teringat kejadian kecelakaanku, mimpiku, dan "pageranku" yang nggak berfungsi lagi.


"Jum'at atau sabtu aja Fe, gimana?", kali ini aku antusias.


"Ya, nanti tak sampaikan", hening beberapa detik. "Dan, aku boleh tanya nggak?", Febi membuka suara lagi.


"Kamu. . .kamu, suka ya sama Erni?", Febi menanyakan hal yang membuat aku terkaget, pertanyaan yang nggak kuharapkan.


"Kamu nggak mau jawab nggak pa pa kok, itu memang privacy kamu sih, sorry aku kepo. . .hehe", Febi terdengar tertawa, ketika aku terdiam beberapa saat tidak menjawab pertanyaannya.


"Jujur Fe . . .ya, aku suka sama Erni. Dan aku juga baru tahu Erni jadian sama Kak Iwan. Rasanya nyesek banget. aku sudah nggak ada peluang lagi untuk mendapatkannya", aku menjawab, sambil sekali lagi teringat bagaimana Kak Iwan membonceng Erni tadi. Kuraba dadaku, ada nyeri di sana. Hening kembali, Febi tak menanggapi perkataanku.


"Fee?", aku memanggil setelah keheningan yang cukup panjang.

__ADS_1


"Eee-eehh, Iya Dan, sorry-sorry aku ngelamun", Febi menjawab, entah suaranya terdengar sedikit bergetar.


"Udah dulu ya, nanti kita lanjut ngobrolnya, aku mau ke belakang dulu, ati ati kalau pulang", Tuutt . . .Tuttt . . .Tuttt, telepon dimatikan Febi dengan terburu-buru. Aku sedikit bingung dan tak mengerti. Dia yang bertanya, aku jawab malah dimatikan teleponnya.


Menunggu beberapa menit, akhirnya petugas siar setelahku datang, Mas Henri.


"Sorry, rodok telat, baru nganter anak les privat soale", Mas Henri menepuk pundakku.


"Iya Mas, nggak pa pa, belum telat juga kok". Aku berkemas bersiap untuk pulang.


"Gimana, wes sehat beneran kan?", tanya Mas Henri sambil menata play list lagu di layar komputer.


"Aman mas, luka luar sembuh, luka hatiku yang terbuka. . .hahaha", jawabku sambil tertawa, terdengar guyon, tapi sebenarnya memang itu yang terjadi.


"Hallaaahh, cah galau", canda Mas Henri.


Kami tertawa bareng.


Setelahnya aku pamit pulang. Sedikit was-was juga pulang jam segini. Karena terakhir kali aku naik motor di jam "Surup" begini, aku berakhir di Rumah Sakit. Aku memacu motorku pelan, sesekali melihat spion motor, jujur aku masih parno. Kejadian kecelakaan yang lalu, kejadian mistis dan mimpiku, masih kusimpan rapat-rapat sebagai rahasiaku. Tidak ada satupun orang yang tahu.


Tapi syukurlah, hari ini jalanan cukup rame, hingga aku mendarat dengan selamat di rumah. Sesampainya di rumah, aku langsung cuci tangan, wajah dan kaki, kemudian masuk ke dalam kamar. Ritual sehari-hari, mengurung diri di kamar. Dari jendela terlihat samar-samar bulan bersinar di langit. Aku ingin segera tidur, aku ingin melupakan Kak Iwan dan Erni. Aku ingin melupakan hari ini.

__ADS_1


Mungkin datangnya malam sanggup melupakanmu, namun pagi esok akan tiba dengan membawa senyumanmu, yang bersinar cerah, namun jauh dari jangkauanku dan menyiksaku . . .


__ADS_2