
- - - -
Febi telah menceritakan semuanya padaku. Cerita yang sulit untuk kupercaya. Cerita yang membuatku merasa bersalah. Aku telah berprasangka sangat buruk padanya. Telah kualamatkan semua kebencianku padanya. Tanpa pernah berpikir bahwa Febi pun menderita. Febi juga merupakan korban dari semua kejadian ini.
"Dani, maafkan aku untuk semuanya," Febi terlihat menunduk. Dia duduk di samping Mbah Ginah.
Aku mengulurkan tanganku hendak menyentuh punggung tangannya, ketika kucing Mbah Ginah warna hitam yang sedari tadi mengawasiku mendaratkan cakarannya. Aaawwww
"Aku juga berhutang maaf padamu Fee. Selama ini aku telah menyalahkanmu tanpa tahu penderitaanmu, hingga kamu berada disini," Aku mengusap usap lenganku yang tercakar kucing hitam.
"Uwes nduk sing arep mbok omongne nang bocah iki (Sudah selesai apa yang mau kamu sampaikan pada anak ini)?," Mbah Ginah bertanya pada Febi.
"Sampun Mbah (Sudah Mbah)," Febi mengangguk pada Mbah Ginah.
"Yen uwes, dang bali nang mburi (Kalau sudah segera kembali ke belakang)," Mbah Ginah memberikan perintahnya. Febi menunduk, menuruti anjuran si pemilik rumah. Segera berjalan kembali ke dapur.
"Fee . . .," Aku berdiri dari dudukku, memanggil Febi. Febi tak menoleh sama sekali
Meeooowww meoowww meeeooowwww
Kucing Mbah Ginah kompak menatapku, bulu bulu di sekujur tubuh mereka terlihat berdiri. Semuanya mengeong bersahut sahutan.
"Kamu harus duduk Leee," Mbah Ginah memberi perintah dengan ekspresi datar.
"Sekarang setelah aku tahu semua ini Mbah. Apa yang bisa kulakukan?," Aku setengah berteriak, kesal pada diriku sendiri yang tidak tahu dan tidak bisa berbuat apa apa.
"Ombenen teh e (minum tehnya)," Mbah Ginah menunjuk gelas berisi air teh di atas nampan yang dibawakan Febi tadi.
__ADS_1
"Tapi Mbah, aku nggak haus," Aku setengah menolak perintah Mbah Ginah.
"Ombenen teh e," Sekali lagi Mbah Ginah mengulangi perintahnya dengan nada datar. Namun kali ini dua bola matanya nampak melotot ke arahku.
Akhirnya dengan sedikit terpaksa aku meminumnya. Air teh yang terasa hambar awalnya namun lama lama terasa manis, dan menentramkan. Entah teh apa yang sedang kuminum ini, yang jelas setiap tegukan membuatku tenang dan semakin tenang. Mbah Ginah terkekeh melihatku.
"Mbah, kenapa njenengan memberitahuku semua ini?," Aku kembali bertanya setelah beberapa saat.
"Aku nggak ngomongi apa apa nang awakmu (Aku tidak memberitahu apa apa padamu)," Mbah Ginah mulai menata, sirih dan njet nya. Kali ini dia membuat dua gulungan. Yang satu langsung di suapkan ke mulut, satunya di letakkan di meja.
"Banyak jiwa tersesat sing pengen ketemu karo kowe, yang satu Nduk Febi itu tadi. Satu ne lagi sing nuntun awakmu ketemu aku tadi," Mbah Ginah melanjutkan.
"Erni??," Aku teringat sosok menyerupai Erni yang mengajakku menemui Mbah Ginah tadi. Mbah Ginah mengangguk. Jadi benar yang tadi adalah Erni.
"Mbah dimana Erni Mbah? Aku pengen ketemu . . .," Aku memelas pada Mbah Ginah.
"Apa maksud njenengan?," Aku bertanya tak sabar.
"Narsih iku seneng nang awakmu. Soale wajahmu, prejenganmu mirip karo mbah buyutmu mbiyen. Narsih pengen nduweni kowe. Lha sementara Nduk Erni iku dadi penghalang yen dibiarkan hidup. Narsih nggak iso ndadekne Erni wadah e, soale dekne nggak duwe kepekaan koyok nduk Febi. Makane Nduk Erni iki dalam bahaya (Narsih menyukaimu karena kamu mirip dengan Mbah buyutmu. Narsih ingin memilikimu. Sementara Nak Erni bisa menjadi penghalangnya. Narsih nggak bisa menjadikan Erni wadahnya, karena nggak punya kepekaan seperti Febi. Makanya Erni saat ini dalam bahaya)," Mbah Ginah menjelaskan menatapku serius, masih dengan kinangnya menyumpal mulut.
"Narsih iso nyelakai Erni neh. Roh utowo opo wae nyebut e, selama nggak ono rogo ne nggak iso nyilakani marang menungsa (Roh atau apapun itu selama nggak ada wujud fisik, akan kesulitan mencelakai manusia)," Mbah Ginah melanjutkan.
"Terus apa Mbah yang bisa kulakukan?," Pertanyaan itu lagi yang kuajukan. Kali ini aku lebih tenang. Aku nggak mau mendapat jawaban untuk minum teh lagi.
"Terima ini," Mbah Ginah mengambil gulungan kinang daun sirih di meja, kemudian menyodorkan padaku. Aku diam tak mengerti.
"Tampanen, cekelen nganggo tangan kiwo (terima, pegang pakai tangan kiri)," Mbah Ginah memberi perintah. Aku sedikit tersentak kemudian menuruti perintahnya.
__ADS_1
Mbah Ginah beranjak dari kursinya, melangkah pelan menuju bilik yang berbeda dengan bilik yang dimasuki Febi tadi. Kucing Mbah Ginah menatapku waspada. Seakan mengawasiku dan menyuruhku tetap diam di tempat. Beberapa saat kemudian Mbah Ginah kembali, membawa sebungkus kain warna putih lusuh. Mbah Ginah meletakkannya di meja, kemudian membuka bungkusan tersebut. Sebuah keris kecil berwarna kuning emas ke biruan nampak tanpa rangka. Sebuah ukiran indah di badan keris yang hanya terdiri atas tiga lekukan.
"Iki ugo gawanen (Bawa juga ini)," Mbah Ginah menyodorkan keris itu padaku.
"Untuk apa semua ini Mbah?," Aku masih belum mengerti maksud, tujuan dan fungsi benda benda di tanganku ini.
"Temui Narsih. Uncalno gulungan kinang iki nang wonge. Sak bar e kui Febi bakalan ngewangi awakmu opo sing kudu mbok lakokne (Lempar gulungan kinang ke tubuh Narsih. Setelah itu, Febi akan membantumu apa yang harus kamu lakukan)," Mbah Ginah menatapku serius tanpa berkedip. Aku beberapa kali menelan ludah. Sedikit ngeri bertatapan langsung dengan nenek nenek 'serba tahu' satu ini.
"Dimana aku bisa menemui Narsih Mbah?," Aku kembali bertanya.
"Narsih di tempat dimana semua kejadian ini bermula," Mbah Ginah menjawab dengan jawaban yang membingungkan.
"Kenapa njenengan membantuku Mbah? Apa untungnya buat njenengan meminjamkan bantuan dan benda benda ini padaku?," Aku menunjukkan kembali dua benda yang tadi diberikan Mbah Ginah.
Aku teringat dengan pertemuanku dengan Bu Sumini istri Lik Wo, aku teringat akan pesannya.
Jangan terlalu percaya terhadap setiap apa yang kamu dengar dan dapatkan dari 'dunia itu', karena bisa jadi merupakan tipu muslihat untuk menjebakmu.
"Ha ha ha . . . Ojo nyepelekne aku lee. Aku ra butuh opo opo saka kowe. Aku mung nggak suka cara ne Narsih gawe perkoro karo menungsa. (Jangan menyepelekan aku. Aku nggak butuh apapun darimu. Aku hanya nggak suka cara Narsih membuat masalah dengan dunia manusia)," Mbah Ginah tertawa.
"Terus, kalau njenengan bisa menolongku, kenapa tidak dari awal? Kenapa njenengan membiarkan semua ini? Kenapa nggak memperingatkan Febi? Kenapa baru sekarang njenengan mengulurkan tangan untukku? Aku sudah kehilangan Bapak Mbah . . .," Tanpa kusadari air mataku menetes. Kemarahan, kesedihan, ketidak berdayaan menghantuiku.
"Semua itu sudah ada garisnya. Aku duwe peran sendiri nang dunyo iki (Aku punya peran sendiri di dunia ini). Nggak ono sing iso ngowahi segala sesuatu yang telah digariskan (Tidak ada yang bisa merubah segala sesuatu yang telah digariskan) ," Mbah Ginah menjawab pertanyaanku yang bertubi tubi dengan jawaban yang pendek, dan nada datar. Seolah menyuruhku untuk mengikhlaskannya. Aku termenung sesaat.
"Sak iki terserah kowe. Arep nang kene terus dadi anakku, opo lungo ko kene gek menyelesaikan masalahmu? (Sekarang terserah kamu. Mau disini terus jadi anak angkatku, apa pergi dari sini menuntaskan semua masalah)," Mbah Ginah tersenyum. Senyum yang membuatku tersentak. Aku tersadar dari lamunanku.
Mbah Ginah tiba tiba saja lenyap dari hadapanku. Aku langsung berlari membuka pintu dan melompat keluar. Perlahan lahan bangunan rumah Mbah Ginah dan warga sekitar memudar, menghilang menjadi asap. Aku segera berlari menuju gapura, aku harus segera keluar dari tempat ini. Aku berlari sekuat kuatnya, menggenggam gulungan kinang sirih dan keris yang terbalut kain putih. Terdengar gegap gempita tawa orang orang yang bercampur aduk. Seakan semua penghuni tempat ini sedang menertawakan dan mengejekku.
__ADS_1