
Setelah kurang lebih tujuh belas hari menjalani perawatan di Rumah Sakit, akhirnya aku diperbolehkan untuk pulang. Aku pulang di jemput Lek Diran menggunakan mobil pick up nya. Sesampainya di rumah, cukup banyak kerabat-kerabatku yang datang menengokku. Aku sejujurnya sedikit kesal dengan hal itu. Pengennya sih pulang dari Rumah Sakit bisa istirahat tenang di rumah. Namun ternyata rumah penuh sesak dengan sanak saudara yang datang menjenguk.
Malam pertama di rumah setelah pulang dari Rumah Sakit, aku kesulitan untuk tidur. Entah kenapa perasaan nggak nyaman berada di rumah ini terasa kembali. Apakah mungkin karena "pageran" dari Lik Wo yang sudah tak berfungsi lagi? Aku baru bisa memejamkan mata setelah lewat tengah malam. Dan esok hari nya aku terbangun cukup siang. Membuka mata, keluar kamar, sepi. Kelihatannya Bapak sudah kembali bekerja, Ibuk mungkin sedang berbelanja. Aku duduk malas-malasan di teras rumah. Kondisiku sepertinya sudah fit kembali.
"Ah, besok mungkin aku sudah bisa masuk kuliah", gumamku.
"Lhah, tapi nggak ada motor", aku teringat motorku yang katanya sudah tak karuan lagi bentuknya.
Aku kembali teringat mimpiku, aku rasa aku perlu bertanya ke simbahku tentang kebenaran mimpiku. Mungkin itu sebuah petunjuk untukku tentang rumah ini. Dari kejauhan terdengar suara motor mendekat membuyarkan lamunanku. Lebih dari satu motor sepertinya. Motor pertama ada Febi berboncengan dengan Nita. Motor kedua ada Hasan dengan Irul. Sementara motor ketiga, sepertinya Erni, tapi dibonceng siapa?
"Wuiihh, dah sehat nih?", sapa Irul cengengesan setelah turun dari motornya. Aku hanya mengangguk, tersenyum. Mataku masih mengamati siapa yang membonceng Erni?
Erni terlihat turun dari boncengan motor sport keren. Seorang cowok memboncengnya memakai helm full face, belum terlihat siapa dibaliknya.
"Hey Dan, gimana? Kamu wes sehat tenan kan?", Febi mendekat padaku, menepuk pundakku pelan.
__ADS_1
"Udaahh, aman pokoknya dah kuat lari-lari nih", jawabku kikuk.
"Syukurlaaahh", Febi tersenyum, menarik nafas lega.
Kulihat sosok yang membonceng Erni membuka helmnya. Aku sedikit terkejut, ternyata orang itu adalah Iwan.
* * *
Iwan adalah mahasiswa semester akhir di kampusku. Dia merupakan mahasiswa yang berprestasi. Mewakili kampus dalam beberapa perlombaan dan kontes. Yang paling mentereng dia pernah memenangkan kontes Kakang Mbak Yu kampus tingkat provinsi. Jadi bisa disimpulkan selain smart dia juga good looking. Anak tunggal dari pengusaha makanan ringan khas daerahku. Intinya Iwan adalah sosok manusia paket lengkap. Cakep, keren, pintar dan kaya. Bisa dikatakan dialah bintang di kampusku. Banyak banget cewek-cewek yang tergila-gila padanya. Di kelasku saja, setahuku ada tiga cewek yang menyebut dirinya Iwan holic. Ida, Ratna, dan Ika. Mereka bertiga selalu mengekor Iwan ketika di kampus. Oiya, Iwan juga merupakan kapten tim sepakbola di fakultasku. Mantan ketua Badan Eksekutif Mahasiswa periode lalu. Eits, apakah aku berlebihan menggambarkan sosoknya? Jawabannya tidak. Memang Iwan sosok yang luar biasa, jujur aku saja kagum padanya.
* * *
"Heii, aku Iwan, gimana? Dah bener-bener sehat bro?", Iwan mendekat mengulurkan tangannya. Aku membalas uluran tangannya, kujabat erat, mantab.
"Hei Dan, sorry baru bisa njenguk sekarang", Erni ikut mendekat padaku, tersenyum.
__ADS_1
"Iya, aku udah sembuh kok", Aku membalas tersenyum pada Erni, senyum memaksa, hatiku sedang tidak karuan.
"Oiya gaes, ayo masuk ke rumah," aku mengajak rombongan ini ke rumah.
"Lho Dan kok sepi, pada kemana?", Nita bertanya, clingak clinguk.
"Bapak kerja, kalau Ibuk sih lagi belanja sama adik", jawabku, cuek hendak menuju ke dapur. Namun dicegah sama mereka semua.
"Nggak usah repot-repot, kamu duduk sini aja sama kita-kita", Febi berkata sambil sedikit menarik lengan tanganku, mengarahkanku untuk duduk. Aku menurut.
"Ngomong-ngomong, kok kak Iwan bisa ikut kesini hari ini?", aku bertanya, sudah tidak tertahankan rasa penasaranku.
"Ah. .begini, kebetulan kamu kan anggota aktif tim sepakbola fakultas kita. Ini ada titipan dari temen-temen untukmu", Iwan menyerahkan sebuah amplop kepadaku. Kelihatannya berisi uang yang cukup banyak.
"Oh. .makasih Kak, ngapunten merepotkan, jadi nggak enak", aku tersenyum kikuk. Jawaban Iwan sebenarnya belum memuaskanku. Oke, kalaupun dia memang mewakili tim sepakbola memberikan titipan uang ini untukku, kenapa dia harus membonceng Erni???
__ADS_1