Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Kampus tengah malam


__ADS_3

Aku dan Irul telah sampai di depan pintu gerbang kampus. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di area kampus, sepi. Pos satpam pun nampak lengang, namun lampu penerangannya masih menyala. Aku dan Irul bergegas menuju pos satpam.


"Permisiii", Aku melongok mengintip bagian dalam pos satpam. Tidak ada jawaban, dan tidak ada yang berjaga di dalam.


"Kok nggak ada orang e ya", aku bergumam sendiri.


"Lagi nggolek kopi nyuk mungkin, ngantuk jam segini", Irul menyahut celingak celinguk.


"Lagian, kalau ada orang di sini, kamu mau nanya apa? Pak, bapak lihat ada cewek cantik yang masih di kampus nggak? Gitu? Yang bener aja dong, ini udah hampir tengah malem, kalau ada cewek yang masih di dalam kampus jam segini, fix itu mbak kunti nyukk", Irul nyerocos, terlihat jengkel.


Aku nggak peduli dengan segala protes si Irul. Aku masih terus mencoba memanggil-manggil pak satpam yang lagi pergi entah kemana. Masih tidak ada sahutan. Benar-benar senyap, aku meletakkan pantatku di trotoar depan pos satpam. Rasa kantuk mulai menyerangku, aku menguap beberapa kali. Dan udara dingin ternyata membuat luka lebam di wajahku terasa ngilu kembali.


HP di saku celanaku bergetar-getar. Kulihat, nama Febi muncul di layar. Ngapain lagi nih cewek tengah malam telepon. Aku masih malas ngomong sama dia. Aku masih menyimpan kekecewaan yang dalam kepadanya.


"Mbok ya diangkat, siapa tau penting", Irul mencuri pandang layar HP ku.


Ada benarnya juga sih, apa yang dikatakan Irul. Akhirnya aku angkat telepon Febi.

__ADS_1


"Hallo", Aku menyapa lebih dulu. Namun tidak ada jawaban. Hening, tidak ada tanggapan dari Febi. Kulihat layar HP, jangan-jangan HP ku mati, ternyata panggilan masih berlangsung.


"Hallo Fee? Ada apa nih?", Aku mencoba menyapa kembali. Dan, masih saja hening, tidak ada jawaban.


"Aku tutup ya, Fee?", Kembali aku seperti sedang berbicara sendiri, tidak ada jawaban dari Febi. Akhirnya kuputuskan mengakhiri panggilan telepon Febi.


"Ono opo?", Irul bertanya, benar-benar kepo banget ini anak.


"Koyok e sih kepencet, nggak ada suaranya kok", Aku mengangkat kedua bahuku.


Aku menoleh kembali ke pos satpam. Masih sepi.


"Masuk yok?", Aku memandang Irul, kutunjuk gerbang depan.


"Hah?! Lompat maksudmu?", Irul memelototi aku.


"Yok", Aku menarik tangan Irul.

__ADS_1


"Gendeng tenan kamu! Kalau ketahuan bisa dihukum nyuk! Ra lulus aku semester ini. Emoh! Nggak mau aku! Lagian ngapainn? Erni nggak mungkin ada di dalam kampus. Mending kita tunggu aja nyuk, siapa tahu besok ada kabar. Jangan aneh aneh deh, siapa tahu sekarang ini doi dah di rumah.", Irul membentakku.


Langkahku terhenti. Ada benarnya juga apa yang dikatakan Irul. Siapa tahu Erni sudah pulang. Lagian, ngapain aku berbuat sejauh ini? Kurasa memang aku berlebihan kali ini. Aku menghela nafas. Mencoba berpikir logis dan positif. Semoga Erni sudah pulang. Semoga perasaan tidak nyaman sedari tadi hanyalah sebuah kecemasan saja.


"Koyok e kamu, lagi ruwet pikiranmu. Ayok pulang ke rumahku saja. Nginep rumahku", Irul menepuk pundakku, mengajakku segera pergi. Aku mengangguk pelan.


"Wes to, yakin saja Erni pasti sudah di rumah. Berdoa saja, dia sedang tidur cantik di kasurnya", Irul terlihat tersenyum meringis.


"Firasatku mengatakan aku harus lihat ke dalam Rul", Aku masih mencoba merayu Irul.


"Sudahlah Dan, berpikirlah yang jernih, mosok gara-gara firasatmu kita lompat pager, ini tengah malem lho ini, kamu butuh rehat, badanmu dan otakmu itu", Irul mengusap-usap dahiku.


"Sial. Manut wae lah nek gitu" Aku akhirnya mengalah, menurut pada keinginan Irul.


Kami meninggalkan kampus, tepat tengah malam. Irul memboncengku, memacu motornya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Malam ini aku tidur di rumahnya, sesuai saran dari kunyuk sahabatku ini. Hawa dingin menusuk tulang, samar-samar aku seperti mendengar suara perempuan tertawa terkekeh. Mungkin benar kata Irul, aku butuh istirahat.


- - -

__ADS_1


__ADS_2