
Ayam berkokok nyaring, subuh yang dingin. Aku sudah selesai mandi, bibirku bergetar kedinginan. Gigiku mengeluarkan bunyi gemeretak beradu. Di luar masih terlihat gelap dan berkabut, mungkin ini yang dinamakan pagi buta. Tapi aku sudah tidak sanggup menahan diri, semalaman sulit untuk memejamkan mata. Teringat akan Erni yang masih terbaring lemah di Rumah Sakit.
"Tumben, kadingaren jam segini udah mandi Le?", Ibuk yang sedang memasak di dapur melihatku dengan tatapan heran.
"Emm. . .aku mau jenguk Erni buk", Aku menjawab pertanyaan Ibuk sedikit malu-malu.
"Ehem, subuh-subuh gini?", Ibuk terlihat tersenyum, seperti mengejekku.
"Ya nunggu kalau wes padhang lah Buk", Aku duduk di dekat kompor, mencari sumber api, biar hangat.
"Bapakmu tadi tak SMS katanya nanti mau pulang. Tapi capek kalau motoran, jadi rencananya mau naik bus, nanti kamu jemput di terminal ya", Ibuk menggoreng ikan teri, aroma sedap gurih langsung menyapa indera penciumanku dengan sopan.
"Ya kebetulan juga sih, kan jarak Rumah Sakit sama terminal nggak jauh. Nanti kalau udah nyampek terminal Bapak suruh SMS aku buk", Aku mengendus-endus ikan teri di wajan, seperti anak kucing yang sedang kelaparan.
"Nasi dah mateng buk?", Aku menelan ludah, lapar rasanya, cacing di perut sudah berteriak-teriak meminta jatah teri goreng.
"Tuh, di bakul", Ibuk menunjuk wadah nasi. Nasi putih yang masih hangat mengepulkan asap yang terlihat melambai-lambai ke arahku.
Kuambil piring, langsung bersiap sarapan. Sarapan ter pagi yang pernah aku lakukan sepanjang hidupku. Jam lima pagi, di tengah dinginnya udara dan kerasnya suara ayam berkokok, aku dengan lahapnya menjejalkan suapan demi suapan nasi teri dengan sambal terasi.
Selesai sarapan, sinar mentari pagi mulai terlihat berpendar, perlahan-lahan menyingkirkan kegelapan. Ku panasi si "Thor" sambil mengelap beberapa bagian tubuhnya yang kotor berdebu. Ibuk menyusulku ke teras depan, memberiku selembar uang lima puluh ribu. Sementara adikku masih terlelap dalam tidurnya, mungkin kecapek an karena berjam-jam menangis kemarin. Aku mencium tangan Ibuk dan melesat bersama "Thor" memecah keheningan pagi desa Karang.
* * *
Sampai di Rumah Sakit aku sempatkan mampir kantin terlebih dahulu, membeli air mineral dan beberapa bungkus roti. Siapa tahu keluarganya Erni ada yang butuh roti buat sarapan. Uang lima puluh ribu dari Ibuk kini bertukar dengan dua lembar uang sepuluhan ribu. Kumasukkan kembali ke dalam dompet dan bergegas masuk ke Rumah Sakit.
__ADS_1
Ternyata Erni masih belum sadarkan diri. Dia masih berada di ruang ICU. Sementara Bapak dan Ibu Erni berada di luar ruangan, terduduk menunggui anak gadisnya yang tengah berjuang dalam sakitnya. Pemandangan yang membuatku merasa terpukul. Aku menyesali pertemuan terakhir ku dengannya, kenapa kita harus berdebat? Tak bisakah kamu segera membuka mata dan tersenyum lagi untukku Erni?
Aku mendekat dan memberi salam ke orangtua Erni. Mereka nampak tersenyum, senyum yang dipaksakan. Mata sembab dari Ibu Erni sudah sangat menggambarkan kesedihan mereka saat ini. Kuletakkan air mineral dan roti di dekat tempat mereka duduk. Aku sendiri memilih mengambil tempat duduk yang agak jauh dari mereka.
Kurogoh saku jaketku. Kutemukan apa yang aku cari, mp3 player. Bersiap memutar lagu untuk menemaniku, kujejalkan headset ke kedua telinga, aku terlarut dalam alunan lagu.
Betapa aku mencintaimu
Lebih dari yang kau tahu
Seperti janjiku kepadamu
Tak kan pernah ku ingkari
Aku kan slalu ada di dekatmu
Kau harus tahu
Betapa aku
mencintaimu . . .
Aku tenggelamkan diriku dalam alunan lagu-lagu sendu.
* * *
__ADS_1
Sudah hampir dua jam aku tidak bergeser dari tempatku duduk. Mp3 playerku sudah kehabisan baterai. Erni sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda akan terbangun. Aku mendesah pelan. Sebuah tepukan pelan mengenai bahuku. Aku menoleh, ternyata Hasan.
"Sudah lama?", Hasan bertanya, mengambil duduk di sebelahku.
"Lumayan sih, sendirian to?", Aku berbalik bertanya ke Hasan.
"Iya, nih bawain termos untuk paklik dan bulik", Hasan menunjukkan barang bawaannya. Aku menatapnya bingung.
"Bapak ibuk e Erni itu Paklik Bulikku Dan", Hasan menjawab pertanyaan yang ada dibenakku. Aku manggut-manggut.
"Emm, Dan, aku boleh tanya yo", Hasan menggaruk garuk kepalanya. Aku mengangguk meng iya kan.
"Kamu suka sama Erni to?", Hasan menatapku serius. Lagi, aku hanya mengangguk.
"Emm, .kemarin aku sempat ngobrol sama Irul di telepon. Irul cerita soal Febi yang katanya minta Erni untuk jauhi kamu itu. . .", Hasan seperti ragu hendak bicara, sementara aku sedikit merasa jengkel pada si Irul. Dasar si kunyuk ember, kenapa curhatku di ceritakan ke orang lain sih. Sekalian aja pengumuman di radio kampus, kunyuk kampret!
"Sebenarnya Dan, foto yang kamu boncengan sama Febi itu. . .bukan aku yang memfoto kalian", Hasan menceritakan kejadian yang telah berlalu. Yang aku sendiri pun sudah mulai terlupa. Padahal tersebarnya foto itu kan juga yang menjadi pemicu Erni mulai menjauhiku. Waktu itu aku pengen mengintrogasi darimana Hasan dapat foto itu. Tapi aku terlupa hingga sekarang.
"Ya, aku waktu itu pengen banget bertanya padamu soal foto itu. Darimana kamu dapat foto itu San?", Aku bertanya menyelidik, Hasan terlihat bingung.
"Sebenarnya, waktu itu tiba-tiba ada yang ngirim foto itu ke aku lewat eF be Dan. Aku nggak kenal itu akun siapa, tapi karena kupikir bakalan seru dapat berita anget aku sebar-sebarin tuh di kelas. Lha kupikir kamu emang lagi deket sama Febi", Hasan menggaruk-garuk kepalanya.
"Emm, apa nama akunnya?", Aku penasaran.
"Apa ya, Sogo Girl apa gitu namanya. Wong nggak ada foto profilnya lho. Maafkan aku ya bro", Hasan meminta maaf padaku. Aku mengangguk meng iya kan. Bagiku nggak ada gunanya juga marah ke Hasan, misalpun bukan Hasan siapapun yang dapet kiriman foto itu kalau itu teman sekelasku pasti bakal melakukan hal yang sama seperti Hasan. Karena pada dasarnya menggosipkan teman satu kelas itu merupakan hal mengasyikkan. Sebuah kelakuan yang tidak berubah dari kita masuk di Taman Kanak-Kanak hingga kuliah.
__ADS_1
Sekarang, muncul pertanyaan baru, menambah daftar pertanyaanku yang belum terjawab hingga kini. Siapa pemilik akun yang menyebar foto ku dan Febi berboncengan???