
Tahukah rasanya kembali ke rumah yang satu mingguan kalian tinggalkan?
Nggak enak. Itulah yang kurasakan. Awalnya aku memang merasa kangen untuk pulang ke rumah. Namun, saat aku benar-benar kembali ke rumah, ternyata rasanya benar-benar nggak nyaman. Aura rumah benar-benar jauh berbeda.
Beberapa sudut rumah nampak laba-laba bersarang cukup tebal, dengan beberapa debu yang beterbangan dan menempel di sana sini. Ada aroma lembab seperti bau lumut (aku sungguh nggak bisa menggambarkan bau apa ini) di area ruang tamu ketika aku masuk di dalamnya. Ketika aku membuka pintu kamar terasa pengap dan asing. Untuk ke bagian belakang, kamar mandi, aku masih enggan. Teringat bagaimana sesajen yang telah kutemukan bareng Irul tergeletak di bawah rumpun bambu.
Siang ini aku sudah di rumah membawa tas ransel besar berisi baju ganti kotor nan bau keringat. Setelah selesai kuliah aku langsung meluncur ke radio, dan mengambil barang-barangku. Kupikir aku rindu rumah kangen Ibuk, sudah tak tertahan. Namun nyatanya ketika sampai di rumah, tempat ini malah terasa asing bagiku. Hal ini kelihatannya juga dirasakan oleh adikku. Terbukti dia dari tadi nggak mau turun dari gendongan Ibuk.
Selesai meletakkan tas ransel di pojok kamar, aku memilih duduk di teras. Teringat kembali di teras ini pernah kulihat mbak mbak nembang jawa. Di halaman depan demit Lik Jo melempar kepalanya kepadaku. Sungguh aku makin merasa nggak betah. Rumah seharusnya adalah tempat paling nyaman buat kita. Tempat mengukir cerita bahagia bersama keluarga. Bukan cerita horor.
Hal pertama yang kulakukan ketika sampai di rumah tadi adalah mencium tangan dan memeluk Ibuk. Sungguh aku kangen dengan Ibuk, suara Ibuk, masakan Ibuk, semuanya. Sudah satu minggu an aku pagi, siang, malem makan nasi kucing. Memang menu itu yang paling mudah kudapatkan dengan harga yang terjangkau untuk kantong orang yang pergi dari rumah.
Aku belum bertemu dengan Bapak. Harus bersikap seperti apa ketika nanti berjumpa dengan laki-laki itu, aku nggak ngerti. Kata Ibuk tadi, Bapak sedang di belakang merapikan dan memotong rumpun bambu. Aku nggak ada niat untuk membantu. Bapak masih berhutang maaf dan penjelasan padaku.
Brruummmm . . .
Suara mobil terdengar mendekat. Pick up Lik Diran kelihatannya. Ternyata benar, Lik Diran ada di kursi kemudi dan di sebelahnya ada kakek-kakek pemarah, siapa lagi kalau bukan Yang terhormat Mbah Kadir. Aku malas menyambutnya, aku tak mempedulikan kedatangan mereka.
"Ngapain Dan, nglamunin cewek?", Lik Diran berjalan mendekat dan tersenyum ramah. Orang ini lebih baik dari Bapak, begitu di benakku.
__ADS_1
"Ah, nggak lah Lik. Lagi mikirin gimana caranya cepet kaya", Aku menjawab dan melirik pada Mbah Kadir yang tak menggubrisku sama sekali. Jangankan menyapa, melihat aku pun nggak sudi.
"Ha ha ha. . .kuliah yang bener, kuliah yang pinter kuncinya", Lik Diran terkekeh. Sementara Mbah Kadir berjalan melewatiku, dan nyelonong masuk ke dalam rumah.
"Eh, mbah Kung, kapan datang?", Ibuk bertanya ramah, masih menggendong adik ketika melihat kedatangan Mbah Kadir.
"Nendi bojomu (Dimana suamimu)?", Mbah Kadir melihat Ibuk sekilas, bertanya ketus. Sungguh, aku jengkel banget melihat tabiat orangtua satu ini.
"Di belakang Kung, bersih-bersih bambu. Biar padhang (terang) katanya", Ibuk menjawab kikuk.
Mbah Kadir bergegas berjalan meninggalkan Ibuk. Lik Diran menyapa Ibuk dan mengekor di belakang Mbah Kadir. Mereka berjalan menuju belakang rumah. Ibuk sibuk menggendong dan menenangkan adik yang masih rewel saja. Aku penasaran. Mbah Kadir seingatku sangat jarang mengunjungi keluargaku. Seingatku, terakhir kali Mbah Kadir ke rumah ketika aku disunat. Waktu itu dia datang memberiku suwuk yang katanya bisa membuatku tahan rasa sakit. Tapi memang benar terjadi, ketika aku disunat tak sedikitpun terasa menyakitkan. Padahal waktu itu banyak teman-teman seumuranku yang disunat dan menangis kesakitan.
Mbah Kadir yang nggak pernah datang lagi ke rumah setelah momen sunatku, bahkan di saat adikku lahir pun dia nggak datang menengok. Kini tak ada angin tak ada hujan Mbah Kadir datang tergesa-gesa masuk ke rumahku. Tapi aku yakin malam itu, malam jumat kliwon tolu Mbah Kadir datang ke rumah ini bersama seorang perempuan.
"Wes tak omongi, ojo dang bali (Sudah tak kasih tahu, jangan kembali dulu)! ", Mbah Kadir terlihat marah. Ya memang orangtua satu ini selalu terlihat penuh emosi dan amarah.
"Tapi Kung . . .", Bapak tidak melanjutkan kalimatnya melihat kedatanganku.
"Iki ngopo, cah bayi dek ingi sore melu melu mrene (Ini kenapa anak kemarin sore, ikut ikutan kesini)", Mbah Kadir menggertakku.
__ADS_1
"Aku bayi kemarin sore Mbah, tapi aku punya hak untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini", Suaraku sedikit bergetar, nyaliku sedikit gentar, meskipun sudah mengumpulkan keberanianku, berbicara langsung seperti ini dihadapan Mbah Kadir tidaklah mudah. Orangtua ini sekilas memang terlihat renta. Tapi garis dagu nya yang tegas dan sorot matanya yang mengintimidasi membuat setiap orang menjadi gentar.
"Lancanggg!", Mbah Kadir melotot kepadaku. Aku yakin ini adalah suara yang sama dengan orang yang berdebat bersama wanita di ruang tamu rumah malam jumat kliwon tolu waktu itu.
"Dan, ayok kita ke depan", Lik Diran menggandengku mencoba mengajakku pergi.
"Nggak Lik. Aku mau di sini. Aku mau minta penjelasan, kenapa bisa ada sesajen di rumah ini", Kepalang tanggung kalau aku mundur sekarang. Jadi sekalian saja, aku blak-blak an kubongkar semua yang telah kuketahui.
Baik Bapak, Mbah Kadir, maupun Lik Diran terlihat terkejut dengan pertanyaan yang kulontarkan. Terasa tangan Lik Diran mencengkeram lenganku dengan erat.
"Aduh. . .", Aku mengaduh, tangan Lik Diran terasa semakin erat mencengkeramku, seperti hendak meremas lenganku sampai remuk. Mendengarku mengaduh Lik Diran tersadar, buru-buru melepas tangannya. Meninggalkan bekas memerah di kulitku.
"Pancen angel, ra gelem manut aku, kowe lan kuargamu. Wes mboh, aku wes ngelingne (Memang susah, nggak mau nurut, kamu dan keluargamu. Sudah, yang penting aku sudah mengingatkan)!", Mbah Kadir memarahi Bapak. Bapak hanya diam saja. Mbah Kadir memutar badan dan berjalan pergi.
"Kung, kemana?", Lik Diran bertanya.
"Moleh (pulang)", Mbah Kadir terlihat menghela nafas, kali ini menjawab lirih, tidak membentak, dan segera pergi. Lik Diran tergopoh-gopoh mengekornya.
Aku mengusap usap lenganku yang memerah.
__ADS_1
"Dani, kita perlu bicara", Bapak terduduk di tanah, memandangku. Wajah Bapak nampak lelah, sayu dan sorot matanya seperti sedang bersedih.
_ _ _